Sastrawan sekaligus sosiolog, Okky Madasari, Ph.D. hadir dalam Maskam Public Lecture bertajuk “Dari Pati ke Republik: Dialektika Harapan dan Keputusasaan Sipil” pada Sabtu (27/9). Dalam pemaparannya, Okky menyoroti bagaimana peristiwa Pati bukan hanya menjadi kasus lokal, melainkan juga melahirkan solidaritas publik lintas daerah hingga lintas negara.
Menurut Okky, gelombang protes yang awalnya dipicu oleh kenaikan PBB dan kesulitan ekonomi masyarakat kemudian berkembang menjadi letupan kemarahan kolektif terhadap berbagai kebijakan pemerintah, termasuk rencana kenaikan gaji DPR RI. “Pati bukan lagi peristiwa Pati saja, tapi telah berhasil membangun keberanian rakyat untuk melawan, mempertanyakan, dan bergerak bersama,” tegasnya.
Baca juga: Feri Amsari: Jangan Abaikan Inti Persoalan, Kenaikan Pajak dan Arogansi Bupati!
Ia mencontohkan tragedi 28 Agustus ketika seorang pengemudi ojek online, Avan, meninggal karena dilindas barak saat aksi. Peristiwa itu, kata Okky, menjadi titik balik yang memperbesar solidaritas publik. “Kemarahan yang awalnya lokal kemudian berubah menjadi kefrustrasian kolektif. Solidaritas yang tumbuh tidak hanya di dalam negeri, tapi juga menggema hingga luar negeri, bahkan sampai Nepal,” jelasnya.
Namun, di balik harapan akan tumbuhnya kesadaran publik tersebut, Okky juga menyoroti adanya represi negara yang kian menguat. Ia menyebut bagaimana aparat kepolisian menangkap masyarakat sipil dengan tuduhan provokasi yang lemah secara logika. Kasus Faiz, seorang pelajar SMA di Kediri, dan Laras, pekerja kantoran di Jakarta, menjadi contoh bagaimana negara mengkriminalisasi warganya.
“Di sinilah letak keputusasaan sipil kita. Walaupun represi gila-gilaan sedang terjadi, walaupun ada perburuan terhadap siapapun yang dianggap provokator, harapan itu tetap harus dinyalakan. Kita tidak boleh menyerah,” ujarnya.
Okky menegaskan bahwa upaya negara menebar ketakutan melalui kriminalisasi dan represivitas justru harus dilawan dengan perlawanan kolektif. Ia menyebut situasi ini sebagai bentuk “terorisme negara” yang ingin membungkam masyarakat agar berhenti menyuarakan kritik.
“Agenda Pati yang berhasil membangun solidaritas lintas daerah kini sedang berusaha dimatikan oleh otoritas. Karena itu, prioritas kita adalah merawat api solidaritas dan keberanian yang sudah dinyalakan. Kita harus menjaga kawan-kawan yang ditangkap, sebab hanya dengan begitu demokrasi bisa tetap terjaga,” pungkasnya.
Melalui Maskam Public Lecture, Okky Madasari menegaskan bahwa peristiwa Pati bukan sekadar catatan lokal, melainkan simbol keberanian rakyat untuk bersuara di tengah represi. Dari perspektifnya sebagai sastrawan sekaligus sosiolog, ia menekankan pentingnya menjaga solidaritas publik agar api harapan tetap menyala dan demokrasi terus terjaga. (Aulia Mahdini / Editor: Indra Oktafian Hidayat)
[embedyt] https://www.youtube.com/watch?v=gBdD73a5VqE[/embedyt]