Pada Jumat (3/4), khotbah disampaikan oleh Dosen Departemen Bahasa, Seni, dan Manajemen Budaya Sekolah Vokasi UGM, Ghifari Yuristiadhi, S.S., M.A., M.M., C.H.E. yang mengangkat tema “Takwa yang Berkelanjutan”.
Dalam pembuka khotbahnya, ia mengingatkan bahwa takwa merupakan bekal utama manusia di hadapan Allah. Tidak ada yang mampu menyelamatkan manusia dari azab selain ketakwaan yang tertanam dalam diri.
Mengacu pada makna puasa dalam Alquran, ia menegaskan bahwa tujuan utama Ramadan adalah membentuk pribadi bertakwa. Namun, takwa tidak berhenti pada ritual menahan lapar dan dahaga, melainkan kesadaran penuh akan kehadiran Allah dalam setiap aspek kehidupan.
“Ramadan ibarat madrasah,” ungkapnya, mengutip pandangan ulama kontemporer. Seluruh rangkaian ibadah selama bulan suci merupakan kurikulum yang bertujuan melahirkan insan bertakwa.
Empat Indikator Takwa dalam Kehidupan Kampus
Ghifari kemudian menguraikan empat indikator utama ketakwaan berdasarkan Alquran (Ali Imran: 133–136), yang relevan dalam kehidupan civitas akademika:
1. Gemar Berinfak dalam Segala Kondisi
Tak hanya dalam bentuk materi, infak juga berarti kontribusi nyata dalam tridharma perguruan tinggi. Dosen, mahasiswa, dan tenaga kependidikan diajak bekerja dengan niat ibadah dan kesadaran bahwa Allah selalu mengawasi.
2. Mampu Menahan Amarah
Ramadan melatih kesabaran yang harus terus dijaga. Dalam konteks kampus, hal ini tercermin dalam hubungan harmonis antara dosen dan mahasiswa tanpa emosi berlebihan.
3. Mudah Memaafkan
Interaksi akademik tak lepas dari gesekan. Namun, pribadi bertakwa adalah yang membuka pintu maaf, meneladani sifat Allah Yang Maha Pengampun.
4. Segera Bertaubat Saat Berbuat Salah
Ia menyoroti berbagai tantangan moral di lingkungan kampus, mulai dari perundungan, plagiarisme, hingga penyalahgunaan teknologi seperti AI. Semua itu harus dihadapi dengan kesadaran etika dan kesiapan untuk kembali kepada Allah.
Takwa sebagai Proses, Bukan Status
Dalam penutupnya, Ghifari menegaskan bahwa kata “la’allakum tattaqun” menunjukkan bahwa takwa adalah proses panjang, bukan identitas sesaat. Oleh karena itu, semangat Ramadan harus terus hidup dalam keseharian, baik dalam belajar, bekerja, maupun saat tidak ada manusia yang melihat.
Ia mengingatkan, jika amalan tidak berlanjut setelah Ramadan, maka tujuan puasa belum sepenuhnya tercapai. Ramadan seharusnya menjadi titik tolak perubahan menuju kehidupan yang lebih bermakna dan bertakwa. Khotbah ditutup dengan doa agar seluruh jamaah diberikan keistiqamahan dalam menjaga takwa serta dipertemukan kembali dengan Ramadan di masa mendatang.
Penulis: Indra Oktafian Hidayat