• UGM.AC.ID
  • Jama’ah Shalahuddin UGM
  • Rumah ZIS UGM
  • Perpus Baitul Hikmah
  • KB-TK Maskam UGM
  • Mardliyyah UGM
Universitas Gadjah Mada
  • Tentang Kami
    • Selayang Pandang
    • Sejarah Masjid Kampus UGM
    • Manajemen Masjid
  • Kegiatan dan Layanan
    • Kegiatan dan Layanan
    • Fasilitas dan Gerai
    • Akad Nikah
    • Formulir Peminjaman Fasilitas
    • Prosesi Kembali Ke Islam
  • Artikel
    • Beranda Artikel
    • Ibadah dan Kajian Islam
    • Diskusi Paradigma Profetik
    • Sakinah Academy
    • Maskam Public Lecture
    • Ramadhan Di Kampus UGM
    • Berita dan Informasi Lain
    • Tulisan dan Khotbah
  • Donasi
  • Kontak
  • Beranda
  • Tulisan dan Khotbah
  • Wakil Ketua Takmir Maskam UGM Sebut Konsistensi Ibadah Jadi Ujian Terberat Pasca-Ramadan

Wakil Ketua Takmir Maskam UGM Sebut Konsistensi Ibadah Jadi Ujian Terberat Pasca-Ramadan

  • Tulisan dan Khotbah
  • 30 Maret 2026, 10.54
  • Oleh: Indra Oktafian Hidayat
  • 0

Memasuki bulan Syawal 1447 H, umat Islam diingatkan untuk tidak menjadikan momen pasca-Ramadan sebagai titik akhir ibadah, melainkan sebagai awal dari konsistensi amal saleh. Dalam khotbah Jumat bertajuk “Syawal di Era Digital”, Wakil Ketua Takmir Masjid Kampus UGM, Ir. Muhammad Agung Bramantya, S.T., M.T., M.Eng., Ph.D., IPM., ASEAN Eng. menekankan pentingnya menjaga ketakwaan di tengah derasnya arus digital yang kian tak terbendung.

Agung membuka khotbah dengan ajakan untuk meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT secara sungguh-sungguh, sebagaimana perintah dalam Al-Qur’an. Ia menegaskan bahwa Syawal bukan sekadar bulan perayaan, tetapi momentum untuk mempertahankan bahkan meningkatkan kualitas ibadah yang telah ditempa selama Ramadan.

Istikamah di Tengah Distraksi Digital

Dalam khotbahnya, disampaikan bahwa tantangan utama umat Islam saat ini adalah menjaga konsistensi ibadah di tengah distraksi teknologi. Era digital menghadirkan kemudahan sekaligus potensi kelalaian.

“Jangan sampai kita lalai dari mengingat Allah karena tenggelam dalam arus informasi dan hiburan digital,” tegas Agung, mengutip peringatan Al-Qur’an agar tidak mengikuti hawa nafsu yang menjauhkan dari zikir kepada Allah.

Ia juga mengingatkan bahwa teknologi ibarat pedang bermata dua dapat menjadi sarana kebaikan seperti sedekah digital dan dakwah, namun juga bisa menyeret pada kemaksiatan jika tidak dikendalikan.

Baca juga: Khotbah Idulfitri, Ahmad Syauqi: Ketakwaan Harus Terasa dalam Kehidupan Sosial

Menjaga Akhlak di Ruang Digital

Lebih lanjut, ia menyoroti pentingnya menjaga etika dalam berinteraksi di dunia maya. Setiap kata yang ditulis dan disebarkan akan dimintai pertanggungjawaban.

Mengutip hadis Nabi, ia mengingatkan, “Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam.”

Pesan ini menjadi relevan di tengah maraknya ujaran kebencian, hoaks, dan perdebatan yang tidak produktif di media sosial. Umat Islam diajak untuk menjadikan ruang digital sebagai ladang amal, bukan sumber dosa.

Selain itu, Agung juga menekankan pentingnya menjaga silaturahim secara nyata. Meskipun teknologi memungkinkan komunikasi jarak jauh, interaksi langsung tetap memiliki nilai keberkahan yang tidak tergantikan.

Silaturahim, menurutnya, bukan hanya tradisi Syawal, tetapi juga kunci kelapangan rezeki dan keberkahan umur. Ia mengajak jemaah untuk mempererat hubungan keluarga, saling memaafkan, dan membangun keharmonisan yang berlandaskan iman.

Keluarga sebagai Jalan Menuju Surga

Dalam khotbah kedua, Agung mengingatkan bahwa kebahagiaan sejati bukan hanya berkumpul di dunia, tetapi juga di akhirat. Ia mengutip ayat Al-Qur’an yang menyebutkan bahwa orang-orang beriman akan dipertemukan kembali dengan keluarga mereka di surga.

Oleh karena itu, menjaga iman keluarga menjadi tanggung jawab bersama. Orang tua, anak, hingga generasi penerus memiliki peran dalam membangun lingkungan yang penuh kebaikan dan saling mengingatkan.

Menutup khotbahnya, Agung mengajak jemaah untuk bijak memanfaatkan teknologi digital. Di tengah perkembangan zaman, umat Islam dituntut tidak hanya adaptif, tetapi juga selektif agar tidak terjerumus dalam kelalaian.

“Jadikan teknologi sebagai sarana kebaikan, bukan sumber yang melalaikan dari mengingat Allah,” pesannya.

Khotbah diakhiri dengan doa agar seluruh amal ibadah diterima, dosa diampuni, serta keluarga diberikan keberkahan dan dipersatukan kembali di surga kelak.

Full text dapat di akses pada Khotbah Agung Bramantya 27 Maret 2026

Penulis: Indra Oktafian Hidayat

Tags: akhlak digital dakwah digital era digital istiqamah keluarga khutbah jumat Masjid Kampus UGM silaturahim Syawal ukhuwah Islamiyah

Tinggalkan Komentar Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

Artikel Terbaru

  • Wakil Ketua Takmir Maskam UGM Sebut Konsistensi Ibadah Jadi Ujian Terberat Pasca-Ramadan
  • Khotbah Idulfitri, Ahmad Syauqi: Ketakwaan Harus Terasa dalam Kehidupan Sosial
  • Dirmawa UGM Tegaskan Negara Tak Boleh Abai terhadap Kemiskinan Struktural
  • CEO Haltech Indonesia: Masjid Tak Hanya Tempat Ibadah, Harus Jadi Episentrum Teknologi
  • Dekan Fakultas Teknik UGM Ungkap Lima Lapisan Teknologi yang Harus Dikuasai Indonesia
Universitas Gadjah Mada

MASJID KAMPUS UGM

Jalan Tevesia 1 Bulaksumur, Caturtunggal, Depok,

Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta 55281

Email: masjidkampus[@]ugm.ac.id

© Takmir Masjid Kampus UGM - Badan Pengelola Masjid UGM

KEBIJAKAN PRIVASI/PRIVACY POLICY