Memasuki bulan Syawal 1447 H, umat Islam diingatkan untuk tidak menjadikan momen pasca-Ramadan sebagai titik akhir ibadah, melainkan sebagai awal dari konsistensi amal saleh. Dalam khotbah Jumat bertajuk “Syawal di Era Digital”, Wakil Ketua Takmir Masjid Kampus UGM, Ir. Muhammad Agung Bramantya, S.T., M.T., M.Eng., Ph.D., IPM., ASEAN Eng. menekankan pentingnya menjaga ketakwaan di tengah derasnya arus digital yang kian tak terbendung.
Agung membuka khotbah dengan ajakan untuk meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT secara sungguh-sungguh, sebagaimana perintah dalam Al-Qur’an. Ia menegaskan bahwa Syawal bukan sekadar bulan perayaan, tetapi momentum untuk mempertahankan bahkan meningkatkan kualitas ibadah yang telah ditempa selama Ramadan.
Istikamah di Tengah Distraksi Digital
Dalam khotbahnya, disampaikan bahwa tantangan utama umat Islam saat ini adalah menjaga konsistensi ibadah di tengah distraksi teknologi. Era digital menghadirkan kemudahan sekaligus potensi kelalaian.
“Jangan sampai kita lalai dari mengingat Allah karena tenggelam dalam arus informasi dan hiburan digital,” tegas Agung, mengutip peringatan Al-Qur’an agar tidak mengikuti hawa nafsu yang menjauhkan dari zikir kepada Allah.
Ia juga mengingatkan bahwa teknologi ibarat pedang bermata dua dapat menjadi sarana kebaikan seperti sedekah digital dan dakwah, namun juga bisa menyeret pada kemaksiatan jika tidak dikendalikan.
Baca juga: Khotbah Idulfitri, Ahmad Syauqi: Ketakwaan Harus Terasa dalam Kehidupan Sosial
Menjaga Akhlak di Ruang Digital
Lebih lanjut, ia menyoroti pentingnya menjaga etika dalam berinteraksi di dunia maya. Setiap kata yang ditulis dan disebarkan akan dimintai pertanggungjawaban.
Mengutip hadis Nabi, ia mengingatkan, “Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam.”
Pesan ini menjadi relevan di tengah maraknya ujaran kebencian, hoaks, dan perdebatan yang tidak produktif di media sosial. Umat Islam diajak untuk menjadikan ruang digital sebagai ladang amal, bukan sumber dosa.
Selain itu, Agung juga menekankan pentingnya menjaga silaturahim secara nyata. Meskipun teknologi memungkinkan komunikasi jarak jauh, interaksi langsung tetap memiliki nilai keberkahan yang tidak tergantikan.
Silaturahim, menurutnya, bukan hanya tradisi Syawal, tetapi juga kunci kelapangan rezeki dan keberkahan umur. Ia mengajak jemaah untuk mempererat hubungan keluarga, saling memaafkan, dan membangun keharmonisan yang berlandaskan iman.
Keluarga sebagai Jalan Menuju Surga
Dalam khotbah kedua, Agung mengingatkan bahwa kebahagiaan sejati bukan hanya berkumpul di dunia, tetapi juga di akhirat. Ia mengutip ayat Al-Qur’an yang menyebutkan bahwa orang-orang beriman akan dipertemukan kembali dengan keluarga mereka di surga.
Oleh karena itu, menjaga iman keluarga menjadi tanggung jawab bersama. Orang tua, anak, hingga generasi penerus memiliki peran dalam membangun lingkungan yang penuh kebaikan dan saling mengingatkan.
Menutup khotbahnya, Agung mengajak jemaah untuk bijak memanfaatkan teknologi digital. Di tengah perkembangan zaman, umat Islam dituntut tidak hanya adaptif, tetapi juga selektif agar tidak terjerumus dalam kelalaian.
“Jadikan teknologi sebagai sarana kebaikan, bukan sumber yang melalaikan dari mengingat Allah,” pesannya.
Khotbah diakhiri dengan doa agar seluruh amal ibadah diterima, dosa diampuni, serta keluarga diberikan keberkahan dan dipersatukan kembali di surga kelak.
Full text dapat di akses pada Khotbah Agung Bramantya 27 Maret 2026
Penulis: Indra Oktafian Hidayat