• UGM.AC.ID
  • Jama’ah Shalahuddin UGM
  • Rumah ZIS UGM
  • Perpus Baitul Hikmah
  • KB-TK Maskam UGM
  • Mardliyyah UGM
Universitas Gadjah Mada
  • Tentang Kami
    • Selayang Pandang
    • Sejarah Masjid Kampus UGM
    • Manajemen Masjid
  • Kegiatan dan Layanan
    • Kegiatan dan Layanan
    • Fasilitas dan Gerai
    • Akad Nikah
    • Formulir Peminjaman Fasilitas
    • Prosesi Kembali Ke Islam
  • Artikel
    • Beranda Artikel
    • Ibadah dan Kajian Islam
    • Diskusi Paradigma Profetik
    • Sakinah Academy
    • Maskam Public Lecture
    • Ramadhan Di Kampus UGM
    • Berita dan Informasi Lain
    • Tulisan dan Khotbah
  • Donasi
  • Kontak
  • Beranda
  • Ramadhan Di Kampus UGM
  • Ketua MIUMI DIY Tegaskan Pentingnya Dakwah Menyentuh Persoalan Sosial dan Negara

Ketua MIUMI DIY Tegaskan Pentingnya Dakwah Menyentuh Persoalan Sosial dan Negara

  • Ramadhan Di Kampus UGM
  • 7 Maret 2026, 09.00
  • Oleh: Indra Oktafian Hidayat
  • 0

Dakwah Islam tidak semestinya dipahami hanya sebagai ajakan menjalankan ibadah pribadi. Lebih dari itu, dakwah juga memiliki peran strategis dalam mendorong terwujudnya keadilan sosial, penegakan hukum, hingga tata kehidupan bernegara yang lebih bermartabat.

Hal tersebut disampaikan oleh Ketua MIUMI DIY, Ridwan Hamidi, Lc., M.P.I., M.A. dalam Mimbar Subuh bertajuk “Dari Mimbar ke Kebijakan: Peran Dakwah dalam Menegakkan Keadilan dan Hukum di Indonesia” pada Senin (2/3). Dalam pemaparannya, Ridwan menekankan bahwa dakwah merupakan bagian dari ilmu yang memiliki kaidah dan pertimbangan tersendiri, atau yang dikenal dengan fikih dakwah.

Menurutnya, Islam tidak hanya mengatur hubungan manusia dengan Tuhan, tetapi juga mengatur hubungan antarmanusia dan kehidupan sosial secara luas.

Dakwah Menyentuh Seluruh Aspek Kehidupan

Ridwan menjelaskan bahwa cakupan ajaran Islam sangat luas. Jika dalam fikih dikenal pembahasan tentang ibadah seperti salat, puasa, zakat, dan haji, maka terdapat pula pembahasan mengenai muamalah yang mencakup persoalan ekonomi, keluarga, hingga hukum dan politik.

Karena itu, tidak mengherankan apabila nilai-nilai agama sering dibawa dalam pembahasan berbagai persoalan kehidupan. Hal ini bukan sekadar retorika, melainkan karena syariat Islam memang hadir untuk memberikan panduan dalam seluruh aspek kehidupan manusia.

“Islam tidak hanya berbicara tentang ibadah individual, tetapi juga tentang keadilan, hukum, ekonomi, hingga tata kelola masyarakat,” jelasnya.

Ia mencontohkan dalam Al-Qur’an terdapat beberapa ayat yang menggunakan frasa “kutiba ‘alaikum” (diwajibkan atas kalian). Sebagian terkait kewajiban pribadi seperti puasa dan wasiat, sementara yang lain berkaitan dengan ranah negara seperti penegakan hukum qisas dan kewajiban mempertahankan negara.

Hal ini menunjukkan bahwa dalam Islam terdapat tanggung jawab pribadi sekaligus tanggung jawab kolektif yang dijalankan oleh otoritas negara.

Baca juga: Ekonomi Tak Menjejak Rakyat, Bhima Yudhistira Serukan Perubahan Kolektif

Jemaah Mimbar Subuh pada Senin (2/3)

Hikmah Bertahap dalam Menyampaikan Dakwah

Meski demikian, dakwah tidak selalu disampaikan secara langsung dan menyeluruh. Dalam fikih dakwah dikenal konsep tadaruj atau penyampaian secara bertahap, dengan mempertimbangkan kondisi dan kesiapan masyarakat.

Salah satu contoh yang disampaikan adalah ketika Nabi Muhammad tidak langsung merenovasi Kakbah sesuai fondasi Nabi Ibrahim meskipun beliau mengetahui bentuk yang lebih tepat. Hal itu dilakukan karena mempertimbangkan kondisi masyarakat yang saat itu baru saja memeluk Islam.

“Rasulullah mempertimbangkan kesiapan umat. Ada kebenaran yang tidak langsung disampaikan atau dilakukan karena mempertimbangkan kemaslahatan,” ungkapnya.

Contoh lain terdapat pada kisah sahabat Muadz bin Jabal. Ketika ia mendengar sabda Nabi bahwa siapa pun yang mengucapkan kalimat tauhid dengan keyakinan akan masuk surga, Muadz ingin segera menyampaikan kabar itu kepada masyarakat. Namun Nabi memintanya menunda, karena khawatir orang-orang belum siap memahaminya dan justru meninggalkan amal.

Peristiwa-peristiwa tersebut menjadi pelajaran bahwa dakwah membutuhkan kebijaksanaan, strategi, dan pemahaman mendalam terhadap kondisi umat.

Mimbar Dakwah sebagai Sarana Membangun Peradaban

Melalui mimbar-mimbar dakwah, umat Islam diajak memahami Islam secara utuh dan menyeluruh. Salah satu cara efektif untuk menyampaikan nilai-nilai tersebut adalah melalui sirah nabawiyah, yakni kisah kehidupan Nabi Muhammad yang menjadi contoh nyata penerapan ajaran Islam.

Dengan memahami teladan Rasulullah, umat tidak hanya mempelajari konsep, tetapi juga melihat bagaimana ajaran tersebut diterapkan dalam kehidupan nyata.

Pada akhirnya, dakwah diharapkan tidak berhenti pada ceramah atau nasihat semata. Dakwah juga diharapkan mampu melahirkan masyarakat yang siap menjalankan nilai-nilai Islam secara sadar dan sukarela.

“Target dakwah adalah lahirnya masyarakat yang siap menerima dan menjalankan ajaran Islam secara utuh,” pungkas Ridwan.

Tags: Kajian Jogja kajian ugm ketua miumi Mimbar subuh Ramadan rdk ugm Ridwan Hamidi

Tinggalkan Komentar Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

Artikel Terbaru

  • Edgar Hamas Bongkar Hasbara, Senjata Israel Menguasai Opini Dunia
  • Dosen FIB UGM Ingatkan Bahaya Fanatisme Golongan dalam Tubuh Umat Islam
  • Jusuf Kalla: Perdamaian Lebih Tinggi Nilainya dari Salat dan Puasa
  • Wakil Rektor UGM: Tiga Dimensi Keragaman Indonesia, Modal Besar sekaligus Ujian Pembangunan
  • Arqom Kuswanjono Kritik Dikotomi Pendidikan Modern yang Memisahkan Ilmu dan Agama
Universitas Gadjah Mada

MASJID KAMPUS UGM

Jalan Tevesia 1 Bulaksumur, Caturtunggal, Depok,

Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta 55281

Email: masjidkampus[@]ugm.ac.id

© Takmir Masjid Kampus UGM - Badan Pengelola Masjid UGM

KEBIJAKAN PRIVASI/PRIVACY POLICY