Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (CELIOS), Bhima Yudhistira Adinegara, menyoroti kondisi ekonomi Indonesia yang dinilai belum sepenuhnya berpihak pada masyarakat kecil. Hal tersebut ia sampaikan dalam public lecture Ramadan di Masjid Kampus UGM di hadapan jamaah salat tarawih dan mahasiswa.
Menurut Bima, berbagai program ekonomi berskala besar sering kali tidak benar-benar menjejak pada realitas ekonomi rakyat. Akibatnya, pelaku usaha kecil seperti pedagang pasar dan warung tidak merasakan dampak langsung dari kebijakan tersebut.
Program Besar, Dampak ke Rakyat Kecil Minim
Bima mencontohkan salah satu program nasional yang memiliki anggaran besar namun belum sepenuhnya dirasakan oleh pelaku usaha kecil. Dalam praktiknya, pengadaan bahan pangan sering dilakukan langsung dari produsen sehingga memotong rantai distribusi pedagang kecil di pasar.
Menurutnya, kondisi ini menunjukkan bahwa desain kebijakan ekonomi sering kali tidak mempertimbangkan bagaimana ekonomi rakyat berputar di tingkat bawah.
“Programnya besar, anggarannya besar, tetapi belum tentu menjejak ke tanah,” ujarnya.
Ia juga menyinggung berbagai indikator ekonomi yang terlihat baik di permukaan, tetapi tidak selalu mencerminkan kondisi riil masyarakat.

Generasi Muda Mewarisi Ketimpangan
Dalam paparannya, Bima juga menyoroti tantangan yang dihadapi generasi muda Indonesia. Ia menilai bahwa banyak anak muda saat ini menghadapi kondisi ekonomi yang lebih sulit dibanding generasi sebelumnya.
Ia menyebut rata-rata lulusan baru membutuhkan waktu hingga sekitar satu tahun untuk mendapatkan pekerjaan. Di sisi lain, mereka juga menghadapi harga kebutuhan hidup yang semakin tinggi.
Karena itu, Bima menilai keluhan generasi muda tidak seharusnya dipahami sebagai tanda kelemahan.
“Anak muda hari ini bukan generasi yang lemah. Mereka mewarisi ketimpangan secara struktural,” tegasnya.
Baca juga: Dekan Sekolah Pascasarjana UGM: Pembangunan Berkelanjutan Bukan Sekadar Agenda Global
Perubahan Tidak Bisa Dilakukan Sendiri
Dalam refleksi Ramadan, Bima mengajak jamaah mengambil pelajaran dari kisah Nabi Musa yang diutus bersama saudaranya, Nabi Harun, ketika menghadapi kekuasaan Firaun.
Menurutnya, kisah tersebut mengandung pesan bahwa perubahan besar tidak dapat dilakukan oleh satu orang saja, melainkan membutuhkan gerakan bersama.
“Kalau ingin melakukan perubahan, jangan berjalan sendiri. Harus bersama-sama,” ujarnya.
Ia juga menekankan pentingnya tradisi intelektual di lingkungan kampus, termasuk budaya membaca dan berdiskusi yang selama ini hidup di masjid-masjid kampus.
Menutup ceramahnya, Bima mengajak generasi muda untuk memiliki visi besar bagi masa depan Indonesia. Menurutnya, perubahan menuju bangsa yang lebih adil dan berdaulat merupakan perjuangan panjang yang membutuhkan kesabaran dan kerja kolektif.
“Perubahan itu bukan sprint, tetapi maraton,” pungkasnya.