Kajian SAMUDRA (Safari Ilmu Di Bulan Ramadan) yang digelar di Masjid Kampus UGM pada Ahad (1/3) menghadirkan Dekan Sekolah Pascasarjana UGM, Prof. Ir. Siti Malkhamah, M.Sc., Ph.D., IPU., ASEAN Eng. sebagai narasumber. Dalam kajian bertajuk “Peran Kita dalam Pembangunan Berkelanjutan”, ia menekankan pentingnya pembentukan karakter, penguasaan ilmu, serta kerja sama dalam mewujudkan pembangunan yang berkelanjutan.
Membangun Karakter sebagai Fondasi Kontribusi
Dalam pengantarnya, Malkhamah menyampaikan bahwa kontribusi terhadap pembangunan tidak dapat dilepaskan dari kualitas pribadi setiap individu. Menurutnya, pembangunan berkelanjutan harus dimulai dari pembentukan karakter yang kuat dan akhlak yang mulia.
Ia mengutip doa yang diajarkan Rasulullah untuk memohon perlindungan dari berbagai sifat negatif, seperti kesedihan berlebihan, kemalasan, pengecut, hingga terlilit utang. Delapan sifat tersebut, menurutnya, menjadi penghambat seseorang dalam mencapai kehidupan yang sukses dan bermanfaat.
“Kalau kita ingin berkontribusi dalam pembangunan, pertama-tama kita harus membangun diri sendiri mempunyai karakter yang kuat, semangat belajar, dan etos kerja yang baik,” ujarnya di hadapan jemaah.
Baca juga: Shofwan Al Banna Soroti Arus Balik Tatanan Kolonial dalam Peta Geopolitik Dunia
Membaca sebagai Jalan Membangun Peradaban
Malkhamah juga menegaskan bahwa menuntut ilmu merupakan perintah mendasar dalam Islam. Ia mengingatkan bahwa makna iqra dalam Al-Qur’an tidak hanya sekadar membaca teks, tetapi juga membaca realitas, memahami alam, serta merefleksikan pengalaman hidup.
Merujuk pada pemikiran ulama seperti Quraish Shihab dan Hamka, ia menjelaskan bahwa membaca adalah proses memahami berbagai tanda kehidupan, baik yang tertulis maupun yang tidak tertulis. Dari proses tersebut, manusia dapat membangun peradaban yang lebih baik.
“Perintah membaca adalah anugerah terbesar bagi manusia, karena dari sanalah ilmu pengetahuan berkembang dan peradaban dibangun,” jelasnya.

Mengelola Waktu dan Menguatkan Kolaborasi
Selain kecerdasan intelektual, Malkhamah menyoroti pentingnya kecerdasan emosional dan spiritual. Ia menilai keberhasilan seseorang tidak hanya ditentukan oleh kemampuan akademik, tetapi juga oleh kemampuan bekerja sama, berkomunikasi, serta menjaga hubungan dengan Allah.
Ia juga mengingatkan pentingnya manajemen waktu. Menurutnya, Islam menegaskan nilai waktu melalui Surah Al-Asr yang mengingatkan bahwa manusia berada dalam kerugian jika tidak memanfaatkan waktunya dengan iman, amal saleh, serta saling menasihati dalam kebenaran dan kesabaran.
Malkhamah mengutip nasihat Ali bin Abi Thalib tentang waktu: rezeki yang belum diperoleh hari ini masih dapat diharapkan esok hari, tetapi waktu yang telah berlalu tidak akan pernah kembali.
“Karena itu kita tidak boleh menyia-nyiakan waktu. Setiap kesempatan harus dimanfaatkan untuk belajar, bekerja, dan memberi manfaat bagi orang lain,” tuturnya.
Melalui kajian tersebut, Malkhamah mengajak para mahasiswa dan jemaah untuk membangun ekosistem kolaboratif yang dilandasi ilmu, karakter, dan nilai spiritual agar pembangunan tidak hanya menghasilkan kemajuan material, tetapi juga membawa keberkahan bagi generasi mendatang.
Penulis: Indra Oktafian Hidayat