Ramadan Public Lecture (RPL) yang diselenggarakan panitia Ramadhan di Kampus (RDK) pada Sabtu (21/2) menghadirkan Ir. Adiwarman Azwar Karim, S.E., M.B.A., M.A.E.P., ahli ekonomi syariahdengan membawakan topik “Ekonomi Inklusif dan Mobilitas Sosial dalam Pembangunan Manusia Indonesia”. Dalam pemaparannya, Adiwarman menyajikan materi dengan kuis interaktif dengan sejumlah hadiah menarik.
Tiga Pilar Ekonomi Inklusif
Sesuai dengan tema, Adiwarman memulai dengan perincian tiga pilar ekonomi inklusif, yaitu pertumbuhan ekonomi, pemerataan ekonomi, dan akses dan kesempatan yang sama bagi semua orang. “Untuk bisa ikut merasakan pertumbuhan pemerataan, bisa ikut sama-sama, yang mampu akhirnya mampu,” jelasnya.
Adiwarman menuturkan seseorang bisa memperbaiki kehidupannya menjadi lebih baik, dari kurang mampu menjadi mampu, orang miskin akhirnya bisa menjadi lebih baik. “Ini yang disebut mobilitas sosial,” tutur kata Adiwarman.
Ikhtiar sebagai Fondasi Perubahan
Dengan tujuan mobilitas sosial, Adiwarman menekankan bahwa perubahan nasib ini mustahil terjadi tanpa adanya ikhtiar. Sesuai dengan firman Allah, “Allah tidak akan merubah nasib suatu kaum kalau kita sendiri tidak mau merubah nasib kita,” tegasnya mengutip ayat Al-Qur’an.
Manfaat ikhtiar bukan sekadar untuk mengejar materi, melainkan sebagai bentuk ketaatan atas perintah Allah bahwa nasib suatu kaum tidak akan berubah tanpa usaha dari kaum itu sendiri. Lebih jauh lagi, keletihan dan jerih payah dalam bekerja memiliki dimensi penggugur dosa yang tidak bisa dihapuskan hanya dengan salat, sedekah, atau haji.
Tingkatan Ikhlas dan Rezeki
Adiwarman mengingatkan bahwa ikhtiar harus dibarengi dengan keikhlasan yang tulus. Mengutip Syekh Nawawi Al-Bantani, ia membagi ikhlas menjadi tiga level:
- Level Pertama: Melakukan kebaikan dengan harapan balasan tunai di dunia, seperti salat Duha agar rezeki lapang.
- Level Kedua: Mengharapkan balasan di akhirat kelak, misalnya memaafkan orang lain agar Allah dapat memberi maaf untuk kita.
- Level Ketiga: Tidak mengharapkan balasan dunia maupun akhirat, melainkan hanya mengejar rida Allah.
Selanjutnya, Adiwarman meluruskan pandangan umum mengenai harta. Mengutip Syekh Mutawalli Sha’rawi, ia menyebutkan bahwa harta adalah rezeki tingkat paling rendah. Rezeki yang lebih tinggi meliputi kesehatan, anak-anak yang saleh, dan yang paling utama adalah ridha Allah.
Selain ikhtiar, Adiwarman mengungkapkan senjata utama dalam ekonomi inklusif adalah doa. Menurut Sheikh Abdul Qadir Jailani, ia membagi doa menjadi tiga tingkatan:
- Doa yang bisa dirangkai dengan kata-kata
- Doa yang sudah tidak bisa dirangkai dengan kata-kata
- Kita sudah ridha dengan ketetapan Allah, wujudnya kerinduan kepada-Nya
Prasangka Baik kepada Allah
Adiwarman mengajak jamaah untuk senantiasa berprasangka baik (husnuzan) kepada Allah. Tingkatan syukur tertinggi bukan hanya saat menerima nikmat, tetapi juga bersyukur atas musibah yang tidak terjadi atau keinginan yang tidak dikabulkan-Nya.
Sebagai landasan ilmu, Ia mengutip salah satu firman Allah: “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), sesungguhnya azab-Ku benar-benar sangat keras.”
Kisah Penutup: Makna Rida
Sebagai penutup, Adiwarman menceritakan kisah seorang pemuda yang takjub dipantau oleh Malaikat Jibril karena selalu berucap “Alhamdulillah” meski ditimpa cobaan berat. Jibril kaget saat melihat nama pemuda itu terdaftar sebagai calon penghuni neraka di Lauhul Mahfuz. Saat Jibril memberitahunya agar ia berdoa meminta husnul khatimah, pemuda itu justru kembali menjawab “Alhamdulillah” karena yakin Allah selalu memberikan yang terbaik untuknya.
Karena sikap rida dan syukurnya yang luar biasa tersebut, Allah akhirnya mengubah takdirnya dari daftar calon penghuni neraka ke dalam daftar calon penghuni surga. “Yang penting hidup itu rida,” pungkasnya.
Beliau menyimpulkan bahwa inti dari ekonomi inklusif adalah melakukan mobilitas sosial melalui kombinasi antara ikhtiar yang nyata, doa yang tulus, dan prasangka baik kepada Allah.
Penulis: Isa Maliki
Editor: Naila A. Cetta, Alkansa Fauziyyah