RDK UGM 1447 H berusaha menerjemahkan nilai-nilai Islam ke dalam aksi nyata lingkungan. Mengambil lokasi di Desa Petir, Rongkop, Gunungkidul, RDK UGM menggelar kegiatan Sedekah Air, Buku, dan Oksigen (SABO) secara luring pada Ahad (8/2).
Mengusung tema besar “Sustaining Life Through Social Solidarity”, kegiatan ini menjadi bukti bahwa pelestarian alam tidak bisa dilakukan secara parsial. RDK UGM menekankan pentingnya gotong royong sebagai elemen kekuatan utama yang berdampak positif bagi lingkungan sosial.
Sinergi Hijau di Tepian Telaga
Rangkaian kegiatan diawali pada pagi hari dengan pemusatan aktivitas di Bale Padukuhan Ploso. Di lokasi tersebut, sinergi antara tim RDK UGM, Kepala Dukuh, serta pemuda Karang Taruna Krida Bakti terjalin hangat saat melakukan persiapan dan pembukaan acara.
Usai sesi pembukaan, rombongan bergerak menuju area sekitar Telaga Kedung Agung yang terletak tepat di belakang pendopo. Di sinilah esensi “Sedekah Oksigen” diwujudkan melalui penanaman total 60 bibit pohon, yang terdiri dari 40 batang pohon sirsak dan 20 batang pohon perindang (peneduh).
Bibit-bibit ini merupakan buah dari inisiatif mahasiswa yang berhasil menggandeng Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai dan Hutan Lindung (BPDASHL) sebagai penyedia. Peserta tidak sekadar menanam, namun terlibat aktif dalam setiap prosesnya, mulai dari penggalian tanah, pemupukan, hingga penempatan bibit. Vegetasi sirsak dipilih agar memberi nilai ekonomis bagi warga, sementara pohon perindang difungsikan untuk menjaga ekosistem air telaga jangka panjang.
Baca juga: Guru Besar FEB UGM Serukan Pembentukan Dewan Nazir untuk Perkuat Tata Kelola Wakaf
Langkah Awal untuk Dampak Berkelanjutan
Gelaran SABO tahun ini terasa istimewa karena menjadi tonggak sejarah baru. Ini adalah kali pertama RDK UGM menghadirkan Divisi Sosial, menjadikan SABO sebagai program perdana yang diharapkan menjadi tradisi tahunan.
Pemilihan lokasi pun tidak dilakukan sembarangan. Desa Petir merupakan desa binaan Jamaah Shalahuddin (JS), sehingga program ini bukanlah aksi “sekali selesai”.
“Target jangka panjangnya jelas ada. Karena ini desa binaan JS, treatment atau pendampingan yang diberikan tidak hanya berhenti pada acara SABO ini saja, tetapi akan berkelanjutan,” ujar salah satu perwakilan panitia.
Kepala Dukuh setempat, Bapak Sumardi Hadi, menyambut baik komitmen jangka panjang ini.
“Harapannya kegiatan ini bisa bermanfaat bagi warga Padukuhan Ploso, Desa Petir, dan menambah kedekatan antara pihak civitas akademika, khususnya dari pihak mahasiswa UGM dengan masyarakat,” ungkap Bapak Sumardi.
Melalui aksi SABO, RDK UGM 1447 H ingin menyampaikan pesan bahwa menjaga bumi adalah manifestasi dari kesalehan sosial. Pohon-pohon yang tertanam hari ini adalah doa dan harapan agar solidaritas yang terbangun dapat terus tumbuh, sesejuk oksigen yang kelak dihasilkan bagi kehidupan di Desa Petir.
Penulis: Alif Badruzaman
Editor: Naila A. Cetta
