• UGM.AC.ID
  • Jama’ah Shalahuddin UGM
  • Rumah ZIS UGM
  • Perpus Baitul Hikmah
  • KB-TK Maskam UGM
  • Mardliyyah UGM
Universitas Gadjah Mada
  • Tentang Kami
    • Selayang Pandang
    • Sejarah Masjid Kampus UGM
    • Manajemen Masjid
  • Kegiatan dan Layanan
    • Kegiatan dan Layanan
    • Fasilitas dan Gerai
    • Akad Nikah
    • Formulir Peminjaman Fasilitas
    • Prosesi Kembali Ke Islam
  • Artikel
    • Beranda Artikel
    • Ibadah dan Kajian Islam
    • Diskusi Paradigma Profetik
    • Sakinah Academy
    • Maskam Public Lecture
    • Ramadan Public Lecture
    • Berita dan Informasi Lain
    • Tulisan dan Khutbah
  • Donasi
  • Kontak
  • Beranda
  • Ibadah dan Kajian Islam
  • Abduh Tuasikal Ajak Jemaah Renungi Keutamaan Ibadah Puasa sebagai Sebab Utama Menggapai Takwa

Abduh Tuasikal Ajak Jemaah Renungi Keutamaan Ibadah Puasa sebagai Sebab Utama Menggapai Takwa

  • Ibadah dan Kajian Islam
  • 3 Februari 2026, 12.50
  • Oleh: miftahulkhairatiramadhani
  • 0

Menuju bulan Ramadan, Masjid Kampus UGM mengadakan Kajian Pra-Ramadan dengan Dr. Muhammad Abduh Tuasikal, S.T., M.Sc. (Pengasuh Pondok Pesantren Darush Shalihin) sebagai pembicara pada Senin (2/2). Kajian Pra-Ramadan ini berlangsung di Ruang Utama Masjid Kampus UGM dengan mengusung tema “Fikih Ramadan dan Etika Sosial Keumatan”.

Abduh mengawali kajian dengan doa dan harapan agar mendapatkan keutamaan dan ampunan dosa dalam menjalani bulan Ramadan. “Mudah-mudahan kita mendapatkan keutamaan-keutamaan dengan diampuni dosa-dosa kita, diluruskan niat kita juga karena Allah Swt. sehingga sesuai dengan janji bagi orang yang berpuasa akan mendapat surga yang khusus yaitu mendapatkan pintu Ar-Rayyan,” sampainya.

Abduh menyampaikan poin penting pembahasan kajian, “Kalau kita renungkan bersama secara rinci dari pembahasan ayat-ayat Al-Qur’an begitu juga hadis Nabi saw. itu tidak lepas dari pembahasan akidah. Nah, ini kami kaji dan sore hari ini kita fokus pada pembahasan satu ayat yaitu Al-Baqarah ayat 183.”

Pembahasan dilanjutkan dengan menekankan definisi dari puasa itu sendiri. “Apa pengertian As-Shiyam? As-Shiyam itu adalah al imsaku anil muftirat. Menahan diri dari berbagai macam pembatal-pembatal. Kita cuma menahan diri dari hal-hal khusus saja. Menahan diri dari pembatal-pembatal. Waktunya pun dibatasi dari terbit fajar subuh. Terbit fajar subuh sampai tenggelam matahari,” jelas beliau.

Baca juga: Pengasuh PPTQ Az-Zakiyyah Yogyakarta Tekankan Kesehatan dalam Perspektif Tauhid

Membahas Surah Al-Baqarah ayat 183, Abduh menyampaikan, “Nah, terus disebutkan kama kutiba alalladina min qoblikum laallakum tattaquun. Sebagaimana diwajibkan pada orang sebelum kalian. Jadi bukan hanya umat Islam, umatnya Nabi Muhammad sallallahu alaihi wasallam saja yang mendapatkan perintah puasa, tapi umat-umat sebelum Nabi Muhammad juga itu ada perintah puasa.” Perintah puasa juga diwajibkan kepada umat-umat sebelum Nabi Muhammad.

“Sebagaimana diwajibkan kepada umat-umat sebelum kalian. La’allakum tattaquun. Agar kalian itu bertakwa,” jelas Abduh. Ia menyampaikan poin pertama pembahasan bahwa puasa itu dilakukan untuk menggapai takwa. “Seorang ulama besar di Saudi Arabia ini ulama di masa silam yaitu Syekh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di dalam kitab tafsirnya menerangkan bahwa ada beberapa alasan ibadah puasa itu jadi sebab utama menggapai takwa,” jelas beliau.

“Kita ingin takwa itu tercapai. Takwa ini kita dapat. Lihat sebab-sebabnya berikut ini. Kata Syekh Ass’di yang pertama yang meliputi takwa adalah seorang muslim meninggalkan apa yang Allah haramkan saat itu, yaitu saat puasa,” jelas Abduh. Contohnya adalah meninggalkan makan, meninggalkan minum, meninggalkan hubungan intim sesama pasangan, dan pembatal yang lainnya lagi saat berpuasa. Beliau menekankan, “Padahal jiwa punya kecondongan untuk melakukan hal tersebut, untuk menikmati makan, minum, dan hubungan intim tadi. Namun semua itu ditinggalkan karena ingin mendekatkan diri pada Allah dan mengharap pahala dari Allah. Dan inilah yang disebut takwa.”

“Terus yang kedua, sebab takwa juga adalah begitu pula orang yang berpuasa melatih dirinya dia semakin dekat kepada Allah. Ia kekang hawa nafsunya. Padahal ia bisa saja menikmati kenikmatan yang ada. Orang mau masuk di dalam rumahnya sendiri, dia ke dapur, dilihat ada makanan, dia diam-diam, sembunyi-sembunyi pun bisa. Tapi karena dia ingin dekat pada Allah, dia kekang hawa nafsunya pada kenikmatan itu. Ia tinggalkan itu semua karena ia tahu bahwa Allah selalu mengawasinya. Inilah bentuk takwa juga, merasa Allah itu awasi kita,” sampai beliau mengenai sebab takwa yang kedua.

“Lalu yang ketiga, begitu pula puasa semakin mengekang jalannya setan dalam saluran darah. Setan itu ngalir dalam saluran darah kita. Karena setan itu akan merasuki manusia pada saluran darahnya. Ketika puasa, saluran setan itu menyempit. Maksiat pun itu akhirnya berkurang. Peluang untuk maksiat makin besar. Tapi ini menyempit sehingga sehingga gerak-gerik setan untuk menggoda kita makin sulit. Maka maksiat itu berkurang. Itulah bentuk takwa. Karena puasa menyempitkan saluran setan tadi, akhirnya maksiat berkurang dan itulah bentuk takwa kita lagi,” jelasnya lebih lanjut, “Lalu yang keempat, orang yang berpuasa umumnya semakin giat melakukan ketaatan. Itulah umumnya yang terjadi. Ketaatan ini juga, ketaatan ini juga termasuk takwa.” Poin-poin selanjutnya dalam pembahasan mengenai puasa dapat dilihat dalam video di bawah ini.

Penulis: Miftahul Khairati

Editor: Indra Oktafian Hidayat

Tags: Abduh Tuasikal Kajian Jogja Kajian Kampus Jogja Kajian Maskam Jogja Kajian Ramadan Kajian Senin sore Masjid Kampus UGM Maskam Maskam UGM Puasa Ramadan

Tinggalkan Komentar Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

Artikel Terbaru

  • Abduh Tuasikal Ajak Jemaah Renungi Keutamaan Ibadah Puasa sebagai Sebab Utama Menggapai Takwa
  • Pengasuh PPTQ Az-Zakiyyah Yogyakarta Tekankan Kesehatan dalam Perspektif Tauhid
  • Ekonom UGM Soroti Kesenjangan Pertumbuhan Ekonomi dan Pasar Kerja Pascakrisis
  • Pakar Energi UGM: Sampah Bisa Menjadi Listrik, tetapi Pengelolaannya Masih Bermasalah
  • Direktur Keuangan UGM Ungkap Peran Strategis Pekerja Informal bagi Perekonomian Nasional
Universitas Gadjah Mada

MASJID KAMPUS UGM

Jalan Tevesia 1 Bulaksumur, Caturtunggal, Depok,

Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta 55281

Email: masjidkampus[@]ugm.ac.id

© Takmir Masjid Kampus UGM - Badan Pengelola Masjid UGM

KEBIJAKAN PRIVASI/PRIVACY POLICY