Dalam khutbahnya, Ghifari mengajak jamaah terutama para generasi muda untuk memandang aktivitas bepergian dan berwisata bukan sekadar ajang healing atau pelarian dari rutinitas, melainkan sebagai bentuk perjalanan spiritual yang mendekatkan diri kepada Allah. “Safar adalah kesempatan untuk mentadaburi ciptaan Allah, bukan melupakan-Nya,” ujarnya di tengah khutbah yang disampaikan dengan nada lembut namun penuh penekanan.
Beliau mengingatkan bahwa di era modern, banyak orang bepergian hanya untuk bersenang-senang, memamerkan foto, atau mengejar tren media sosial, tanpa menyadari makna terdalam dari perjalanan itu sendiri. Padahal, dalam Al-Qur’an, Allah telah berulang kali berfirman “Siru fil ardhi” yang artinya“Berjalanlah kalian di muka bumi, lalu perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang terdahulu.” Ayat ini, menurut Ghifari, bukan sekadar ajakan untuk berkeliling dunia, melainkan seruan agar manusia merenungi sejarah, peradaban, dan kekuasaan Allah yang nyata dalam setiap pemandangan yang mereka saksikan.
“Traveling bisa jadi zikir berjalan, bukan hanya ajang berfoto,” tambahnya. Ia menjelaskan bahwa setiap langkah dalam perjalanan, bila disertai niat yang lurus dan hati yang penuh rasa syukur, dapat bernilai ibadah. Alam yang indah bukan hanya untuk dikagumi, tetapi juga untuk disyukuri. Di balik megahnya gunung, indahnya laut, dan megahnya peninggalan sejarah, tersimpan tanda-tanda kekuasaan Allah yang menunggu untuk direnungkan.
Baca juga: Pihasniwati: Kohesi dan Fleksibilitas Jadi Kunci Tekan Angka Perceraian
Ghifari juga menyoroti pentingnya menjaga ibadah di mana pun berada. Ia menegaskan bahwa Islam telah memberi kemudahan bagi musafir: boleh mengqasar salat, menjamak waktu, bahkan menggunakan tayamum jika sulit berwudu. “Sayang sekali jika perjalanan yang begitu indah justru membuat kita jauh dari salat. Padahal, Allah telah memudahkan kita untuk tetap beribadah,” tuturnya.
Pesan itu terasa relevan bagi kalangan muda yang sering menganggap liburan sebagai waktu bebas dari aturan. Ghifari menegaskan bahwa justru di perjalananlah keimanan diuji. Ketika menghadapi kesulitan, seperti turbulensi di pesawat atau ombak tinggi di laut, manusia secara naluriah kembali mengingat Allah. Namun begitu selamat, sering kali ia lupa bersyukur. “Jangan sampai kita menjadi hamba yang hanya mengingat Allah saat bahaya datang, lalu melupakan-Nya ketika semuanya aman,” pesannya.
Khutbah Jumat di Masjid Kampus UGM kali ini benar-benar menyentuh kalangan muda yang hadir. Gaya penyampaian yang santai namun dalam, disertai dengan contoh-contoh kekinian tentang traveling, membuat pesan Qurani terasa begitu dekat dengan realitas mahasiswa masa kini.
Khutbah ditutup dengan doa agar setiap perjalanan menjadi sarana untuk mempertebal iman dan memperluas pandangan tentang kebesaran Allah. Seperti yang dikatakan Ghifari, “Jadikan perjalananmu bukan sekadar untuk melepas penat, tetapi untuk menemukan makna hidup. Karena sejatinya, safar terbaik adalah perjalanan menuju Allah.”
“Berwisatalah, tapi jangan lupa: setiap langkah di bumi ini adalah ayat yang hidup, tinggal bagaimana kita membacanya.” (Alkansa Fauziyyah)