• UGM.AC.ID
  • Jama’ah Shalahuddin UGM
  • Rumah ZIS UGM
  • Perpus Baitul Hikmah
  • KB-TK Maskam UGM
  • Mardliyyah UGM
Universitas Gadjah Mada
  • Tentang Kami
    • Selayang Pandang
    • Sejarah Masjid Kampus UGM
    • Manajemen Masjid
  • Kegiatan dan Layanan
    • Kegiatan dan Layanan
    • Fasilitas dan Gerai
    • Akad Nikah
    • Formulir Peminjaman Fasilitas
    • Prosesi Kembali Ke Islam
  • Artikel
    • Beranda Artikel
    • Ibadah dan Kajian Islam
    • Diskusi Paradigma Profetik
    • Sakinah Academy
    • Maskam Public Lecture
    • Ramadan Public Lecture
    • Berita dan Informasi Lain
    • Tulisan dan Khutbah
  • Donasi
  • Kontak
  • Beranda
  • Diskusi Paradigma Profetik
  • Ridwan Wicaksono: AI Bukan Ancaman, Namun Jalan Kemaslahatan Umat

Ridwan Wicaksono: AI Bukan Ancaman, Namun Jalan Kemaslahatan Umat

  • Diskusi Paradigma Profetik
  • 28 Agustus 2025, 08.04
  • Oleh: Masjid Kampus UGM
  • 0

Artificial Intelligence (AI) pada dasarnya bukan sesuatu yang negatif, karena AI hanya tools yang bersifat pasif. Justru kerusakan dan konflik muncul dari perilaku manusia itu sendiri. Maka, karena AI hingga saat ini menjadi hal yang diperebutkan oleh banyak orang dalam mempelajarinya, jangan sampai umat muslim mendapatkan kerugiannya di dunia, bahkan di akhirat.

Hal tersebut disampaikan oleh Ir. Ridwan Wicaksono, S.T., M.Eng., Ph.D. dalam sesi materinya di Webinar Integrasi Ilmu-Agama dengan tema “AI untuk Perdamaian? Membaca Peluang dan Ancaman dari Perspektif Profetik”.

Misi Profetik Terhadap Perkembangan Teknologi

Ridwan Wicaksono membuka webinar dengan menjelaskan bahwa misi utama profetik adalah menjadi rahmat bagi alam, sebegai pembawa berita baik, sebagai khalifah di bumi, dan mengurangi konflik. Maka, jika teknologi justru memunculkan konflik, hal tersebut berseberangan dengan misi utama kenabian.

“Maka, jika teknologi dipandang hanya dengan sudut pandang dunia, justru hanya akan memunculkan konflik, seperti misalnya penggunaan teknologi pada perang”, imbuhnya.

Beliau juga menambahkan bahwa salah satu bahaya AI adalah hilangnya integritas atau penyelewengan orientasi dalam menggunakan teknologi.

“Seharusnya orientasinya adalah Maqashidus Syariah, yaitu menghadirnya kemaslahatan dan mencegah kerusakan,” jelasnya.

Baca juga: Dokter Residen RSUP Dr. Sardjito: Jangan Cuek, Peran Suami Menentukan Kesehatan Ibu dan Janin

Prinsip Muslim dalam Merespon Perkembangan Teknologi

Menurut beliau, ada 5 prinsip yang harus dipegang seorang muslim dalam merespon perkembangan teknologi, yaitu : pertama, tabayyun, yaitu verifikasi informasi sebagai kewajiban etis terhadap pondasi syariah dalam menerima informasi. Nilai urgensinya menjadi lebih tinggi dikarenakan saat ini konten dapat dibuat menggunakan AI sehinnga informasi salah dapat seolah-olah terlihat benar.

Kedua, adl dan ihsan. Artinya harus ada sekelompok orang yang berdiri tegak dalam menyeru kebaikan dan menegakkan keadilan. Menyeru kebaikan tanpa pilih-pilih atau diskriminasi agar kebaikan teknologi mampu menjadi maslahat.

Ketiga, tidak boleh menimbulkan mudharat untuk diri sendiri maupun orang lain. Maka konsep fiqh ini membatasi desain AI agar tidak sembarangan sehingga mampu menyesatkan orang lain, dan juga membatasi penggunaan AI yang berisiko tinggi untuk berkembang dan lebih memberikan dampak buruk lebih besar, seperti miss informasi, profiling, dan senjata otonom.

Keempat,  rekonsiliasi : dorongan aktif meredakan konflik. Melalui teknologi AI ini manusia harus bisa memanfaatkannya untuk melakukan mediasi konflik/masalah, atau bahkan peringatan diri.

Kelima, amanah/tanggung jawab : mengaja kepercayaan sehingga data, model, dampak AI semuanya adalah titipan. Khususnya untuk pengelola harus transparan, akuntabel, dan tidak zalim

Kemudian, untuk mendukung semua itu dilaksanakan, umat muslim membutuhkan komunitas. Komunitas yang berdasarkan nilai profetik yang saling mengingatkan, saling menguatkan, dan saling mendukung dalam membawa misi rahmatan lil alamin. Tahap selanjutnya adalah adanya regulasi dan riset inklusif.

Ancaman AI Di Masa Depan

Ridwan menyampaikan beberapa ancaman AI dalam 4 kategori, yaitu : 

  • Security : peretasan jaringan, keamanan data
  • Ethics : ekplorasi privasi, moral, trust issue-framing
  • Integrity : pemalsuan dokumen, deep-fake
  • Policy : AI yang tidak sesuai dengan norma, kecerdasan yang tumpul

Ia menjelaskan salah satu contoh penyalahgunaan AI yang berdampak pada tumpulkan kecerdasan manusia.

 “Studi menyebutkan bahwa AI dapat menimbulan ketumpulan kecerdasan karena manusia mengandalkan AI untuk berfikir sehingga pikiran kritis, alur berpikir, ide-ide, tidak lagi dikuasai oleh manusia sebagai entitas berpikir. Maka kecerdasan analitik berkurang”.

Di akhir sesi webinar, Ridwan kembali mengingatkan masyarakat untuk menggunakan AI sesuai dengan misi kenabian sehingga mampu memunculkan kemaslahatan yang lebih besar. (Naufal Zaky / Editor: Indra Oktafian Hidayat / Foto: YouTube Masjid Kampus UGM)

[embedyt] https://www.youtube.com/watch?v=T9f1fS2lRKQ[/embedyt]

Tags: Inovasi Teknologi Kecerdasan Buatan Perdamaian Dunia Transformasi Digital

Tinggalkan Komentar Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

Artikel Terbaru

  • Ketua Senat Akademik Fakultas Kehutanan UGM Sebut Indonesia Mengalami Penghancuran Ekologi secara Sistematis
  • Dewan Pengarah PSE UGM Dorong Yogyakarta Menjadi Hydrogen Valley Nasional
  • Direktur RZIS UGM: Paradigma Wirausaha Islam Menjauhkan Keluarga dari Praktik Riba
  • Dekan Fakultas Biologi UGM: Alam Rusak karena Manusia Gagal Menjaga Amanah
  • Ketua Departemen Antropologi FIB UGM Kritik Penggunaan Istilah “Bencana Alam”
Universitas Gadjah Mada

MASJID KAMPUS UGM

Jalan Tevesia 1 Bulaksumur, Caturtunggal, Depok,

Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta 55281

Email: masjidkampus[@]ugm.ac.id

© Takmir Masjid Kampus UGM - Badan Pengelola Masjid UGM

KEBIJAKAN PRIVASI/PRIVACY POLICY