Banyak orang sibuk mencari pasangan dengan label green flag dan menghindari red flag. Namun, tidak banyak yang benar-benar berhenti sejenak untuk bertanya: apakah diri ini sudah siap untuk sebuah hubungan yang serius?
Topik ini mengemuka dalam Kajian Sakinah Academy bertajuk “Filter Dulu, Baru Baper: Cara Membedakan Red Flag & Green Flag dalam Memilih Pasangan” yang digelar di Masjid Kampus UGM pada Senin sore (4/5), Dosen Fakultas Psikologi UGM, Diana Setiyawati, S.Psi., MHsc., Ph.D., Psikolog, membuka pemaparan dengan mengajak jemaah untuk merefleksikan diri. “Sebelum memutuskan green flag dan red flag, kenali dulu diri sendiri sebelum pernikahan,” ungkapnya.
Diana kemudian mengajukan pertanyaan-pertanyaan dasar mengenai esensi pernikahan. Terungkap bahwa banyak jemaah memiliki ketakutan untuk menikah dengan berbagai alasan, seperti takut bertemu jodoh yang salah, belum siap secara ekonomi, hingga belum siap terhadap tanggung jawab pernikahan.
Ia kemudian melanjutkan dengan pertanyaan mengenai seberapa penting pernikahan. Berbagai jawaban pun muncul dari jamaah, mulai dari melanjutkan estafet dakwah, menyempurnakan separuh agama, membutuhkan pasangan hidup, hingga membangun peradaban Islami.
Diana menekankan bahwa berkeluarga memiliki peran sentral dalam Islam dan kemanusiaan. Ia merujuk pada keluarga Nabi Adam, Nuh, keluarga Ibrahim, dan keluarga Imron sebagai teladan dalam menjaga legasi kebaikan. Menurutnya, kekuatan umat sangat bergantung pada ketangguhan tiap-tiap keluarga. Diana menekankan bahwa keluarga adalah unit dasar peradaban. “Satu keluarga baik, dua keluarga baik, tiga keluarga baik, maka seluruh umat akan menjadi baik,” tuturnya.
Baca juga: Dosen FEB UGM Bedah Qabḍ dan Basṭ, Ajak Jemaah Tata Sikap di Tengah Ketidakpastian
Lebih lanjut, Diana kemudian memaparkan bahwa memilih pasangan seharusnya tidak dimulai dari “menilai orang lain”, tetapi dari mengenal diri sendiri terlebih dahulu. Ia mengemukakan setidak-tidaknya ditempuh melalui tiga tahapan:
- Mengenali diri sendiri. Dengan memahami latar belakang pengasuhan dan bagaimana hal itu membentuk cara kita merespons emosi.
- Memantaskan diri. Contohnya ialah terus belajar mengenai ilmu keluarga, komunikasi, dan kesiapan psikis.
- Mengenal calon pasangan. Hal ini bertujuan untuk memastikan adanya kompatibilitas visi dan misi hidup.
Diana menjelaskan bahwa cara seseorang dibesarkan sangat memengaruhi hubungannya saat dewasa. Sosok dengan “Secure Attachment” adalah profil green flag utama: mereka nyaman dengan kedekatan emosional sekaligus mandiri (reliable dan warm). Sebaliknya, tanda-tanda yang perlu diwaspadai (red flag) sering kali muncul dari gaya keterikatan yang tidak sehat, seperti avoidant (cenderung dingin dan menjauh saat terjadi kedekatan emosi yang mendalam) dan anxious (selalu merasa tidak aman dan haus akan penegasan cinta secara berlebihan).
Lebih lanjut, Diana mengingatkan pada jemaah agar tidak terburu-buru dalam menilai seseorang hanya berdasarkan tampilan di media sosial. “Sosok di media sosial adalah versi terbaik dari kita (the best version of us), bukan realitas yang utuh,” ujarnya.
Ia menyarankan agar calon pasangan saling terbuka mengenai proyeksi masa depan, bahkan jika perlu melalui diskusi “proposal” pernikahan yang jelas. “Pernikahan bukan sekadar emosi sesaat, tetapi keputusan besar yang membutuhkan kesadaran diri dan kesiapan mental. Jangan buru-buru menyebut red flag atau green flag. Kenali dulu latar belakang, visi hidup, dan kepribadian calon pasangan.” pungkasnya.
Melalui refleksi tentang pengenalan diri dan pemilihan pasangan, Diana mengingatjan bahwa pernikahan sejatinya adalah perjalanan panjang yang melampaui sekadar penilaian label red flag atau green flag. Kesiapan untuk membina rumah tangga tidak hanya diukur dari kesempurnaan sosok yang dicari, tetapi dari sejauh mana seseorang berani menatap ke dalam dirinya, membenahi latar belakang, dan memantaskan hidup.
Penulis : Isa Maliki
Editor : Aldi Firmansyah