Kajian Safari Ilmu Di Bulan Ramadan (Samudra) kembali digelar di Masjid Kampus UGM pada Ahad (22/2). Mengangkat tema “Kesehatan untuk Semua: Mimpi, Tantangan, dan Jalan Panjang Indonesia Sehat”, kajian ini menghadirkan Prof. dr. Adi Utarini, M.Sc., M.P.H., Ph.D., Sekretaris Majelis Wali Amanat (MWA) UGM, sebagai pembicara utama.
Dalam paparannya, Guru Besar Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan UGM tersebut menegaskan bahwa pembangunan kesehatan tidak dapat dilepaskan dari dinamika demografi, kualitas sumber daya manusia, serta kesiapan sistem kebijakan nasional.
“Lima tahun dari sekarang, generasi muda akan mencapai seperempat populasi dan usia produktif bisa menyentuh 70 persen penduduk. Ini peluang besar, tetapi juga bisa menjadi beban jika tidak dikelola dengan serius,” ujarnya.
Bonus Demografi dan Tantangan Siklus Kehidupan
Ia menjelaskan bahwa bonus demografi merupakan pisau bermata dua. Jika didukung kebijakan yang komprehensif, Indonesia dapat melompat jauh dalam produktivitas dan daya saing. Namun, tanpa reformasi yang terarah, peluang itu dapat berubah menjadi krisis sosial.
Uut, sapaan akrabnya, memaparkan pentingnya pendekatan siklus kehidupan. Fase paling krusial adalah 1.000 hari pertama kehidupan, sejak masa pralahir hingga awal kanak-kanak. “Pada akhir fase ini, ukuran otak manusia sudah mencapai sekitar 90 persen ukuran dewasa. Jika gagal di sini, dampaknya jangka panjang,” jelasnya.
Fase berikutnya adalah balita, yang membutuhkan stimulasi positif untuk tumbuh kembang optimal. Pengalaman negatif pada masa ini, lanjutnya, dapat terekam dan memengaruhi kesehatan mental di kemudian hari.
Adapun fase remaja menjadi tahap strategis karena terjadi pertumbuhan fisik, pematangan hormonal, sekaligus pencarian jati diri. “Di fase remaja, kesadaran moral, hukum, dan tanggung jawab sosial mulai terbentuk. Di sinilah masa depan bangsa dipertaruhkan,” tegasnya.
Baca juga: Presiden Asosiasi Psikolog Muslim Internasional Ingatkan Niat yang Lurus Lahir dari Jiwa yang Tenang
Remaja di Tengah Ancaman Multidimensi
Dalam kajian tersebut, ia juga menyoroti berbagai fenomena yang menjerat remaja Indonesia. Angka putus sekolah, obesitas, hingga peningkatan penggunaan rokok elektrik menjadi perhatian serius. Bahkan, ia menyebutkan bahwa prevalensi pengguna rokok elektrik di Indonesia telah melampaui sejumlah negara maju.
Persoalan kesehatan mental pun tak luput dari sorotan. “Sepertiga remaja kita mengalami gangguan mental, tetapi hanya sekitar 10 persen yang mendapatkan akses layanan. Ini kesenjangan yang sangat memprihatinkan,” ungkapnya. Ia menambahkan bahwa lebih dari 60 persen remaja dengan gangguan mental pernah memiliki pikiran untuk mengakhiri hidup.
Di luar itu, isu lingkungan seperti deforestasi dan perubahan iklim turut menjadi ancaman laten. Laju pembalakan hutan yang mencapai sekitar 25 hektare per jam, menurutnya, bukan hanya persoalan ekologis, melainkan juga menyangkut keberlanjutan kesehatan generasi mendatang.
Dari sisi ekonomi, tingkat pengangguran usia 15–24 tahun yang masih tinggi serta dominasi sektor informal menunjukkan bahwa bonus demografi belum sepenuhnya diimbangi kesiapan lapangan kerja yang layak.
Tiga Langkah Menuju Indonesia Sehat
Menutup paparannya, Uut menawarkan tiga langkah strategis. Pertama, menciptakan lingkungan yang aman melalui sinergi lintas sektor. Kedua, menguatkan dan mengamplifikasi sistem yang telah ada, termasuk pemerataan kualitas layanan kesehatan dan sumber daya manusia. Ketiga, mengembangkan pendekatan inovatif dan integratif dengan prinsip no one left behind.
“Kesehatan untuk semua bukan sekadar slogan. Ia membutuhkan komitmen kebijakan, keberpihakan anggaran, dan keberanian untuk berbenah,” tandasnya.
Kajian yang berlangsung selama satu jam tersebut diikuti dengan antusias oleh jamaah yang didominasi mahasiswa serta masyarakat umum. Acara ditutup dengan pembagian konsumsi berbuka puasa di area masjid, menegaskan bahwa Ramadan bukan hanya ruang ibadah spiritual, tetapi juga momentum refleksi atas masa depan bangsa.
Penulis: Rajendra Wibisana A.
Editor: Naila A. Cetta, Alkansa Fauziyyah