Dosen Departemen Ilmu Ekonomi Fakultas Ekonomika dan Bisnis UGM, Akhmad Akbar Susamto, S.E., M.Phil., Ph.D., mengupas tuntas rahasia di balik nafkah yang berkah. Menurutnya, besaran pendapatan bukanlah satu-satunya penentu, sebab ada orang-orang yang “memang gak bakat dapat berkah” karena karakternya. Hal itu disampaikannya dalam Kajian Sakinah Academy pada Senin, 29 September 2025 dengan tema “Mengubah yang Kecil menjadi Besar: Sebuah Hikmah tentang Nafkah dan Berkah” di Lantai 1 Masjid Kampus Universitas Gadjah Mada.
Akbar menyebutkan bahwa kata nafkah, berasal bahasa arab an-nafaqah (النفقة), memiliki arti harta yang dikeluarkan atau pengeluaran. Ia sempat mengatakan, “Sebenarnya tidak ada mencari nafkah, tetapi yang ada adalah membelanjakan nafkah. Bekerja mencari pendapatan, nanti kalau sudah dapat pendapatan bisa Anda belanjakan, jadilah dia nafkah.”
“Pendapatan yang kita peroleh itu tidak akan sama,” ujar Akbar. Oleh karena itu, Kunci untuk mengubah pendapatan, sekecil apa pun, menjadi nafkah yang terasa besar terletak pada “berkah”. Berkah, yang secara harfiah berarti sesuatu yang tumbuh dan berkembang, adalah faktor yang membuat perbedaan. Akbar menguraikan keberkahan dalam lima tingkatan:
- Di tengah banyak ketidakpastian, hasil terus stabil dan mantap. Di tengah ketidakpastian ekonomi atau kondisi sulit, pendapatan tetap mengalir. Contohnya, seorang nelayan yang tetap mendapat ikan meski cuaca buruk, atau seorang pengusaha yang labanya tetap ada di tengah krisis.
- Dengan jalan dan usaha yang sama, hasil lebih besar. “Misalnya pada kasus petani, dengan luas lahan yang sama, bibit yang sama, dan pupuk yang sama, hasil panennya lebih banyak. Itu berkah itu,” jelasnya.
- Dengan kuantitas yang sama, kualitas lebih besar. Meski kuantitasnya sama, kualitas yang dihasilkan lebih baik sehingga nilainya lebih tinggi. Contohnya, hasil tangkapan ikan seorang nelayan dianggap lebih segar oleh pembeli sehingga dihargai lebih mahal.
- Dengan kuantitas dan kualitas yang sama, keutuhan lebih terjaga. Hasil yang diperoleh tidak habis untuk hal-hal tak terduga. “Hasilnya sama, kualitasnya sama, tapi ujungnya beda. Satunya jadi sesuatu yang terlihat (beli baju, sedekah), satunya jadi obat karena ada anggota keluarga yang sakit,” papar Akbar.
- Dengan semua sama, kepuasan lebih besar. Akbar menganalogikan, “Ada orang rumahnya besar tapi kok rasanya gelap dan sempit. Tapi ada juga yang (rumahnya) membahagiakan, nyaman, dan lain-lain.”
Baca juga: Feri Amsari: Jangan Abaikan Inti Persoalan, Kenaikan Pajak dan Arogansi Bupati!
Lebih lanjut, Akbar menyebutkan bahwa keberkahan dalam pendapatan sebenarnya bisa diraih dengan beberapa strategi rahasia:
- Meningkatkan iman dan takwa
“Dekatkan diri kita pada Allah, itu cara yang pertama,” ujar Akbar. Akbar mengutip surah At-Thalaq ayat 2-3: “… Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya.” - Rajin beribadah dan taat kepadaNya
Akbar menegaskan bahwa taat ibadah kepadaNya meningkatkan iman dan ketakwaan. “In syaa Allah akan banyak kemudahan yang bisa menjadi berkah,” lanjut Akbar. - Bersyukur dan tawakal
Kunci berikutnya terletak pada seni menerima, yaitu melalui rasa syukur dan tawakal. Menerima segala pemberian Allah dengan ikhlas. “Barang siapa yang bersyukur, maka Allah akan menambahkan baginya rezekinya,” katanya mengutip makna Surah Ibrahim ayat 7. - Sedekah dan zakat
Berbagilah melalui sedekah dan tunaikan kewajiban zakat. “Kalau punya sesuatu, ya berbagi, bersedekahlah, dan zakat (yang wajib),” ujar Akbar. Ia melanjutkan bahwa berbagi inilah cara kita kalau ingin mendapat berkah yang banyak. - Berakhlak mulia
Ini adalah poin krusial yang seringkali menjadi penyebab seseorang gagal meraih berkah. Sifat sombong, pamer, atau tidak adil saat rezeki sedikit bertambah adalah ciri-ciri “tidak bakat dapat berkah”. Kalau ingin berkah, perbaiki akhlak. Akbar menegaskan dengan kutipan “Seperti padi, semakin berisi semakin merunduk” - Silaturahim
Akbar menyebutkan betapa pentingnya silaturahmi dengan mengutip sabda Nabi, “Barangsiapa yang ingin dilapangkan rezekinya dan ditangguhkan ajalnya (dipanjangkan umurnya), hendaklah ia bersilaturahmi.” Ini menunjukkan bahwa silaturahmi dapat membukakan pintu-pintu rezeki meskipun dari orang lain.
Akbar menyimpulkan bahwa nilai sejati dari pendapatan tidak terletak pada angka nominalnya. “Jumlah yang tadinya kecil… bisa kemudian menjadi besar kalau diubah dengan keberkahan. Sebaliknya, jumlah yang lima juta, sepuluh juta… bisa menjadi kecil kalau tidak ada sisi keberkahannya,” pungkasnya.
Sebagai penutup, Akbar kembali menegaskan bahwa kunci untuk melipatgandakan manfaat pendapatan dan nafkah terletak pada keberkahan. Jalan untuk meraihnya pun beragam, mulai dari meningkatkan iman dan takwa hingga menjaga silaturahmi. Pada puncaknya, berkah bukanlah soal materi, melainkan tentang kekayaan hati. Parameternya adalah sejauh mana hati mampu merasakan nikmat dari apa yang telah dimiliki, dan inilah level keberkahan yang tertinggi. (Isa Maliki)