Kehamilan bukan hanya urusan seorang ibu, melainkan perjalanan bersama yang menuntut keterlibatan penuh dari suami. Hal ini ditegaskan dalam Kajian Sakinah Academy dengan tema “Berbagi Peran dengan Pasangan dalam Menuju Kehamilan Sehat” pada Senin (25/8).
Kajian menghadirkan dokter residen RSUP Dr. Sardjito, dr. Noratul Hafdah dan dr. Yuriska, menggantikan dr. Edi Patmini Setya Siswanti, Sp.OG., sebagai pembicara. Keduanya menekankan bahwa dukungan suami bukan sekadar tambahan, melainkan kebutuhan nyata yang menentukan kesehatan fisik, mental, bahkan masa depan anak yang akan lahir.
Baca juga: Hempri Suyatna: Fenomena Kabur Aja Dulu Harus Dibaca Sebagai Kritik Sosial
Dukungan Sederhana, Dampak Besar
Pada awal pemaparannya, jemaah Masjid Kampus UGM sempat ditanya, “Bentuk dukungan apa yang paling diharapkan seorang istri saat hamil?”
Jawaban yang muncul beragam, namun mengerucut pada hal-hal sederhana yang sangat berarti, antara lain:
-
menemani istri kontrol kehamilan,
-
mendengarkan keluhan dan curhat,
-
memberi perhatian kecil yang membahagiakan,
-
membantu pekerjaan rumah,
-
memberikan semangat dan doa terbaik,
-
serta dukungan finansial secukupnya.
“Ibu hamil tidak butuh suami yang sempurna, tapi suami yang setia membersamai,” ujar salah satu pemateri.
Islam dan Peran Qawwam
Dari perspektif Islam, kehamilan disebut sebagai perjuangan berat seorang ibu yang wajib dihormati. Namun, Allah juga menugaskan suami sebagai qawwam (pelindung) bagi istri dan anak. Itu berarti suami bukan hanya pemimpin rumah tangga, tetapi juga pendamping jiwa yang wajib memberi perlindungan dan dukungan nyata.
Pemateri juga menyinggung ayat Al-Qur’an yang menganjurkan pemberian ASI hingga dua tahun (QS. Al-Baqarah: 233), yang selaras dengan rekomendasi medis modern tentang pentingnya ASI eksklusif.
Dari Kehamilan hingga Pasca Persalinan
Kajian membahas fase-fase penting yang dialami ibu hamil hingga pasca melahirkan, di antaranya:
-
Trimester pertama: mual, muntah, dan perubahan hormon,
-
Trimester kedua: nyeri punggung, risiko komplikasi,
-
Trimester ketiga: perut semakin besar, sulit tidur, beban fisik makin berat,
-
Pasca melahirkan: masa nifas, menyusui, kurang tidur, hingga risiko perdarahan.
Setiap fase membutuhkan pendampingan suami, agar ibu tetap kuat secara fisik maupun mental.
Persiapan Sejak Sebelum Menikah
Para dokter menekankan bahwa persiapan menuju kehamilan sehat tidak hanya dimulai ketika hamil, tetapi sejak sebelum menikah. Komunikasi pasangan, menjaga kesehatan fisik, hingga kesiapan mental adalah fondasi penting dalam membangun keluarga.
Bahkan, para nabi pun berdoa agar dikaruniai keturunan yang saleh, menandakan betapa besar nilai generasi penerus dalam Islam. Dengan begitu, berbagi peran dalam rumah tangga bukan sekadar urusan teknis, melainkan bagian dari ibadah dan visi peradaban.
Di akhir sesi, beliau menekankan bahwa perjalanan kehamilan bukan hanya menanti kelahiran bayi, tetapi juga ujian cinta, kesabaran, dan tanggung jawab bersama. “Setiap perhatian kecil, setiap bantuan yang diberikan suami di masa hamil, melahirkan, dan mengasuh anak adalah ibadah. Itulah makna berbagi peran dalam rumah tangga,” tegas pemateri. ( Alkansa Fauziyyah / Editor: Indra Oktafian Hidayat / Foto: YouTube Masjid Kampus UGM)