RDK UGM kembali menggelar Ramadan Public Lecture (RPL) pada Sabtu (28/2) di Masjid Kampus UGM. Kajian yang berlangsung selepas salat isya ini menghadirkan dosen Hubungan Internasional FISIP UI, Shofwan Al Banna Choiruzzad, Ph.D., dengan tema “Jalan Panjang Perdamaian: Hubungan Multilateral dan Peran Strategis Indonesia dalam Misi Perdamaian Dunia.”
Dalam paparannya, Shofwanmengajak jemaah melihat dinamika konflik global melalui perspektif sejarah dan politik internasional. Ia menekankan bahwa berbagai gejolak dunia hari ini tidak dapat dilepaskan dari perebutan pengaruh global serta upaya sebagian kekuatan besar membentuk ulang tatanan internasional.
Dunia yang Mengalami Arus Balik Sejarah
Pada bagian awal, Shofwan menjelaskan bahwa dunia saat ini sedang mengalami kecenderungan kembali pada pola relasi internasional yang menyerupai tatanan kolonial masa lalu. Menurutnya, berbagai konflik geopolitik menunjukkan adanya upaya sebagian kekuatan global untuk mempertahankan dominasi.
“Dunia kita hari ini sedang menyaksikan sebuah arus balik sejarah. Ada upaya untuk mengembalikan dunia pada tatanan hierarkis kolonial,” ujarnya.
Ia menilai bahwa konflik di berbagai kawasan tidak berdiri sendiri, melainkan saling berkaitan dengan strategi geopolitik yang lebih luas dalam perebutan pengaruh di tingkat global.

Indonesia dan Warisan Perjuangan Anti-Kolonial
Pada bagian kedua, Shofwan menegaskan bahwa sejak awal kemerdekaannya Indonesia tidak hanya hadir sebagai negara yang memperjuangkan kebebasan bagi bangsanya sendiri, tetapi juga membawa misi moral untuk melawan segala bentuk penjajahan.
Mengutip pembukaan Undang-Undang Dasar 1945, ia menyebut bahwa dasar berdirinya Republik Indonesia adalah komitmen terhadap kemanusiaan dan keadilan.
“Republik ini didirikan untuk menegakkan keadilan dan kemanusiaan. Karena itu, penjajahan di atas dunia harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan,” jelasnya.
Ia juga menyinggung pentingnya solidaritas Asia-Afrika dalam membangun tatanan dunia yang lebih setara, yang pernah menguat melalui Konferensi Asia-Afrika di Bandung.
Baca juga: Dosen Perbankan Syariah UAD Ingatkan Harta Bisa Menjerumuskan Manusia
Ramadan dan Komitmen pada Keadilan
Pada bagian akhir, Shofwan mengajak jemaah memaknai Ramadan tidak hanya sebagai ibadah personal, tetapi juga sebagai momentum memperkuat komitmen moral terhadap keadilan sosial dan kemanusiaan.
Menurutnya, ketakwaan tidak dapat dipisahkan dari keberpihakan pada nilai keadilan.
“Takwa itu salah satu indikator yang mendekatinya adalah komitmen kita kepada keadilan. Tidak ada gunanya kita beribadah jika kita membiarkan ketidakadilan,” tegasnya.
Ia berharap semangat Ramadan dapat memperkuat kesadaran umat untuk turut memperjuangkan dunia yang lebih adil dan damai.