Kajian Ramadan Public Lecture (RPL) (24/2) dibuka dengan bedah karya tulis Profesor Tom Nichols yang berjudul The Death of Experties (Matinya Kepakaran). Dari karya tersebut, tergambarkan kondisi masyarakat Amerika yang mulai tidak menghargai kepakaran serta tidak menghargai otoritas ilmu.
Fenomena ini tampak jelas pada masa Covid-19, ketika otoritas medis seringkali kalah dibandingkan tokoh populer atau figur agama. Hal ini menandakan bahwa, saat ini, popularitas cenderung lebih diakui daripada otoritas ilmu.
Mengutip data Oxford dictionary, Ketua Program Doktor Pendidikan Agama Islam UIKA, Adian Husaini, M.Si., Ph.D., mengungkapkan bahwa kata yang paling populer adalah post-truth atau era pascakebenaran. Era pascakebenaran adalah era ketika berita yang menyentuh emosi lebih mudah diterima dan dipahami dibandingkan dengan data-data yang terverifikasi.
“Kita memasuki era kebohongan. Era berita yang lebih menyentuh emosial lebih mudah dipahami ketimbang data-data atau fakta yang terverifikasi. Ini adalah masalah yang sulit dipecahkan untuk kita semua,” ungkapnya dalam RPL yang digelar pada Selasa malam (24/02).
Tantangan Perguruan Tinggi: Berubah atau Punah
Bertolak pada buku yang diterbikan Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia (AIPI) yang di dalamnya memberikan dua pilihan bagi dunia perguruan tinggi, yakni berubah atau punah, Adian mengingatkan untuk perguruan tinggi dapat beradaptasi.
Ia menjelaskan bahwa kampus memiliki risiko bernasib serupa dengan mal atau media cetak jika tidak segera beradaptasi.“Profesor Christensen dari Harvard sudah memperkirakan bahwa 10 sampai 15 tahun ke depan, separuh kampus di Amerika akan tutup. Sementara itu, di Korea Selatan pun diprediksi 25 tahun ke depan setengah kampusnya tutup. (Kampus) seperti mal dan majalah karena sudah tidak diperlukan lagi,” ujarnya.
Di era matinya kepakaran ini, jelasnya hal yang paling mengkhawatirkan adalah munculnya ketidakpastian akibat hilangnya otoritas ilmu. Tanpa otoritas yang jelas, masyarakat kehilangan panutan yang kredibel. Celakanya, banyak pakar hingga tokoh agama yang justru mengikuti arus berita populer demi konten, tanpa melakukan verifikasi terlebih dahulu. Padahal, dulunya masyarakat menerima berita dari orang-orang profesional yang memang berhak menyiarkan berita.
Kondisi ini disebut belum pernah terjadi pada zaman sebelumnya. Namun, jauh-jauh hari Rasulullah Saw. telah memperingatkan umatnya melalui sebah hadis mengenai datangnya tahun-tahun penuh tipu daya. Ketika pembohong dipercaya dan orang jujur didustakan, serta ruwaibidhah (orang bodoh) turut campur berbicara dalam urusan publik.
Apa yang Harus Dilakukan Muslim?
Apabila otoritas ilmu rusak, peradaban pun akan runtuh dan berimbas langsung pada rusaknya akhlak dan adab. Menurutnya, solusi yang dapat ditempuh adalah dengan menegakkan adab dan ilmu. Hal ini karena islam telah memberikan konsep yang lengkap dalam menghadapi tantangan zaman.
“Di zaman seperti ini, solusinya adalah tegakkan adab-adab ilmu, karena islam itu sudah memberikan konsep yang lengkap tentang bagaimana kita menghadapi tantangan zaman. Rasulullah Saw. itu diutus untuk semua manusia dan sampai akhir zaman, maka Al-Qur’an dan sunah itu pasti relevan sampai akhir zaman.” Jelasnya.
Lebih jauh, Adian berpendapat bahwa pendidikan di Indonesia perlu diubah dari sekadar mengunggulkan inovasi menjadi mengedepankan kebermanfaatan. Mengutip pernyataan Jack Ma, Adian menyampaikan bahwa saat ini, dunia tidak hanya membutuhkan orang pintar (smart people), tetapi lebih membutuhkan orang bijak (wise people) yang memiliki hati—sesuatu yang tidak bisa disaingi oleh robot atau AI.
Sebagai penutup, Adian menegaskan bahwa pendidikan Islam akan melahirkan manusia terbaik apabila mengintegrasikan tiga hal, antara lain tilawah (landasan wahyu), tazkiyah (penyucian jiwa), dan ta’lim (pengajaran ilmu). “Sekali lagi, islam itu konsepnya jelas, bukti-bukti sejarahnya jelas, sejarah keagungan peradaban Islam juga jelas hanya sekarang tergantung pada kita, umatnya.” pungkasnya.
Penulis: Nadia P. Ashira
Editor: Naila A. Cetta, Aldi Firmansyah, Indra Oktafian Hidayat