Pergantian tahun hendaknya dimaknai sebagai momentum muhasabah dan refleksi diri, baik dalam aspek spiritual maupun sosial. Hal ini disampaikan Dr. Arqom Kuswanjono, M.Hum. dalam khutbah Jumat di Masjid Kampus UGM (26/12).
Dalam khutbahnya, Dr. Arqom menjelaskan bahwa pergantian hari, bulan, dan tahun secara lahiriah tampak sama, namun memiliki makna berbeda ketika dimaknai secara eksistensial. Tahun yang berlalu dapat menjadi ruang evaluasi atas apa yang telah dilakukan serta pijakan untuk memperbaiki diri di masa mendatang.“Secara fenomenal hari dan tahun tampak sama, tetapi secara eksistensial setiap waktu menyimpan makna yang bisa kita refleksikan,” ujar Arqom.
Mengutip Surah Al-Hasyr ayat 18, ia menegaskan bahwa masa depan tidak terlepas dari amal yang dilakukan pada masa kini. Karena itu, muhasabah menjadi sarana penting untuk menjaga kualitas iman yang bersifat dinamis dan terus ditingkatkan.
Baca selengkapnya: Wakil Ketua Takmir Masjid Kampus UGM: Iman Menjadi Penjaga dari Rasa Sedih dan Takut
Selain kesalehan individu, khutbah tersebut juga menekankan pentingnya kesalehan sosial sebagai wujud nyata dari spiritualitas Islam. Menurutnya, Islam harus hadir dalam bentuk kepedulian, empati, dan kemanfaatan bagi masyarakat.“Islam harus hadir sebagai rahmat bagi seluruh alam. Di mana pun ada orang Islam, kehadirannya seharusnya membawa rasa aman dan ketenteraman,” tegasnya.
Menutup khutbah, Arqom mengajak jemaah Masjid Kampus UGM menjadikan akhir tahun sebagai bahan evaluasi diri dan menyongsong tahun baru dengan komitmen memperkuat spiritualitas serta kepedulian sosial.