Prof. Ir. Muslikhin Hidayat, S.T., M.T., Ph.D., IPU. (Wakil Dekan Bidang Keuangan, Aset, & Sumber Daya Manusia Fakultas Teknik UGM) menegaskan bahwa keimanan merupakan fondasi utama dalam membangun integritas akademik. Hal tersebut disampaikan dalam khutbah Jumat yang mengangkat tema hubungan antara iman, kejujuran, dan tanggung jawab keilmuan di tengah tantangan dunia pendidikan modern.
Dalam khutbahnya, Muslikhin menjelaskan bahwa ketakwaan tidak cukup diwujudkan melalui ritual ibadah semata, tetapi harus tercermin dalam akhlak dan perilaku sehari-hari, termasuk dalam aktivitas akademik. Menurutnya, kejujuran, amanah, dan tanggung jawab intelektual adalah manifestasi nyata dari keimanan seorang muslim.
“Iman itu tertanam di dalam hati, tercermin dalam cara berpikir, dan terimplementasi dalam perilaku. Maka kejujuran akademik sejatinya adalah bagian dari keimanan itu sendiri,” ujarnya di hadapan jemaah.
Ia menekankan bahwa Islam adalah agama ilmu, sebagaimana wahyu pertama yang diterima Rasulullah SAW adalah perintah iqra’. Meskipun Nabi Muhammad SAW bersifat ummi, perintah membaca dan menuntut ilmu menunjukkan bahwa pencarian ilmu merupakan ibadah. Namun demikian, Muslikhin mengingatkan bahwa ilmu yang diberkahi bukan sekadar diukur dari tingginya nilai atau cepatnya kelulusan, melainkan dari proses yang jujur dan benar.
Baca juga: Dosen FK-KMK UGM: Satu dari Empat Anak di Indonesia Mengalami Stunting
Lebih lanjut, Muslikhin mengaitkan integritas akademik dengan larangan menyontek, plagiarisme, dan pemalsuan karya ilmiah. Ia menegaskan bahwa pelanggaran akademik tidak hanya berdampak secara administratif, tetapi juga memiliki konsekuensi moral dan spiritual dalam pandangan Islam. Hal ini, menurutnya, sejalan dengan perintah Allah dalam Al-Qur’an agar orang-orang beriman senantiasa bersama orang-orang yang jujur.
Dalam konteks kehidupan modern yang serba digital, ia mengingatkan bahwa peluang untuk berbuat curang semakin terbuka. Namun, seorang mukmin harus menyadari bahwa pengawasan Allah bersifat melekat, kapan pun dan di mana pun. Kesadaran inilah yang melahirkan sikap ihsan, yaitu berbuat sebaik mungkin meskipun tidak ada manusia yang melihat.
“Ilmu adalah amanah. Gelar, ijazah, dan karya ilmiah kelak akan dimintai pertanggungjawaban,” tegasnya. Ia pun mengajak para jemaah, khususnya generasi muda dan kalangan akademisi, untuk menanamkan nilai ketakwaan dan kejujuran dalam menuntut ilmu.
Menutup khutbahnya, Muslikhin menyampaikan bahwa integritas akademik yang dijaga hari ini akan melahirkan generasi yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga unggul secara moral. Bangsa yang besar, menurutnya, tidak hanya ditopang oleh kecanggihan ilmu pengetahuan, melainkan oleh kejujuran dan amanah para ilmuwannya.