Dalam khutbah Jumat (28/11) di Masjid Kampus UGM, Dekan Fakultas Farmasi UGM, Prof. Dr. apt. Satibi, S.Si., M.Si., menyampaikan peringatan keras mengenai kondisi manusia modern. Di tengah kemajuan yang serba cepat, masyarakat semakin mudah meraih kesuksesan lahiriah, namun ironi besarnya: jiwa manusia justru semakin rapuh, kehilangan ketenangan, dan kehilangan makna hidup.
Prof. Satibi menegaskan bahwa berbagai indikator krisis moral dan psikologis saat ini menunjukkan betapa rapuhnya fondasi batin manusia modern. Ia menyoroti meningkatnya tekanan hidup, kerusakan moral, merosotnya kejujuran, serta maraknya korupsi dan rendahnya kepedulian sosial, fenomena yang disebutnya sebagai wajah kelam dari era post-truth yang mengaburkan nilai-nilai kebenaran.
Lonjakan Depresi adalah Alarm Gagalnya Peradaban Modern
Mengutip World Population Review 2023, Prof. Satibi memaparkan data yang mengejutkan. Ukraina, Amerika Serikat, dan Indonesia menempati posisi atas dalam jumlah penduduk yang mengalami gangguan mental. Indonesia sendiri mencatat lebih dari 9,16 juta jiwa yang mengalami depresi. Bahkan di lingkungan UGM, 20–40 persen mahasiswa baru menunjukkan masalah mental, sebagian di antaranya berada pada tingkat sedang hingga berat.
“Semua data ini,” ujar beliau, “menunjukkan bahwa keberhasilan duniawi ternyata belum cukup untuk melahirkan kehidupan yang benar-benar berkualitas.” Tanpa kekuatan iman dan spiritualitas, ilmu, harta, dan jabatan justru dapat kehilangan arah bahkan menjerumuskan.
Baca juga: Shiddiq Al Jawi Soroti Kemiskinan Sistemik Akibat Ekonomi Kapitalis
Prof. Satibi menegaskan bahwa manusia telah dibekali kecerdasan intelektual, namun kecerdasan spiritual menjadi pondasi yang paling menentukan kualitas hidup. Tanpa itu, seseorang mudah terombang-ambing oleh nafsu, prestise, tekanan, dan ambisi duniawi.
Merujuk pada Surah Ad-Dhuha ayat 4, beliau menegaskan bahwa orientasi akhirat harus menjadi filter utama dalam menjalani kehidupan dunia. Ayat tersebut, yang ditujukan kepada Nabi pada masa-masa awal dakwahnya, mengingatkan bahwa masa depan (akhirat) lebih mulia dari dunia.
“Orang yang cerdas bukan hanya orang yang pintar,” tegasnya, “tetapi orang yang mampu mengendalikan hawa nafsu dan menjadikan akhirat sebagai tujuan.”
Lima Indikator Kecerdasan Spiritual
Dalam khutbahnya, Prof. Satibi menguraikan lima indikator utama kecerdasan spiritual yang menjadi barometer penting bagi setiap muslim:
1. Berorientasi kepada kebenaran
Menjadikan kebenaran sebagai kompas hidup. Rasulullah SAW menegaskan bahwa kejujuran membawa kepada kebaikan dan kebaikan membawa ke surga. Bahkan ketika berhadapan dengan pemimpin sekalipun, umat Islam diperintahkan untuk menyampaikan kebenaran walaupun pahit.
2. Bermanfaat bagi orang lain
Merujuk hadis, “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya,” Prof. Satibi mengajak jamaah untuk memperluas kebaikan, menjadikan kesalehan tidak hanya bersifat personal, tetapi juga sosial dan berdampak luas.
3. Bersyukur dengan hati, lisan, dan perbuatan
Surah Ibrahim ayat 7 menegaskan bahwa nikmat akan bertambah bagi orang yang bersyukur. Bersyukur bukan hanya ucapan, tetapi pemanfaatan nikmat untuk mendekatkan diri kepada Allah.
4. Bersabar dalam ujian
Mengutip Surah Al-Baqarah ayat 153, beliau mengingatkan bahwa sabar adalah kekuatan yang membuat manusia teguh menghadapi cobaan. Sabar bukan pasif, tetapi menyimpan energi perjuangan yang membawa kemenangan batin.
5. Memiliki rasa malu (al-haya’)
Rasa malu merupakan sebagian dari iman. Tanpanya, manusia mudah terjerumus mengikuti hawa nafsu. Rasulullah SAW bersabda bahwa dalam diri manusia ada segumpal daging; jika ia baik, maka seluruh jasad baik. Yang dimaksud adalah hati.
Seruan untuk Menata Kembali Arah Hidup
Menutup khutbah, Prof. Satibi mengajak seluruh jamaah untuk kembali memperkuat iman dan ketakwaan. Lima indikator kecerdasan spiritual: kebenaran, manfaat, syukur, sabar, dan rasa malu menjadi kompas penting dalam menghadapi derasnya arus modernitas.
Di tengah dunia yang semakin gelisah, bising, dan penuh persaingan, beliau menegaskan bahwa spiritualitas bukan pelengkap, tetapi kebutuhan mendasar manusia. Tanpanya, keberhasilan duniawi hanya akan mengantarkan manusia pada kekosongan batin.