Sakinah Academy pada Senin (20/10) menghadirkan Mohammad Fauzil Adhim, S.Psi. Beliau merupakan pakar parenting dan konselor keluarga. Dalam kajian bertajuk “Pengaruh Parenting Style terhadap Perilaku Anak”, Fauzil mengajak jamaah untuk memahami bahwa perilaku anak bukanlah hasil spontan, melainkan refleksi dari pola komunikasi, kasih sayang, dan teladan yang diberikan orang tua setiap hari.
“Anak yang sering membantah bukan berarti anak yang durhaka; bisa jadi ia sedang mencari cara untuk dipahami,” tutur Fauzil Adhim membuka sesi kajian. Menurutnya, parenting style atau gaya pengasuhan merupakan fondasi utama pembentukan karakter anak. Banyak orang tua, katanya, tanpa sadar terjebak dalam dua kutub ekstrem: terlalu mengontrol hingga anak kehilangan kebebasan, atau terlalu membiarkan hingga anak kehilangan arah. Kedua pendekatan ini sama-sama berisiko bila tidak diimbangi dengan kehangatan, keteladanan, dan komunikasi yang sehat. “Pola asuh bukan tentang seberapa sering kita menegur, tetapi seberapa dalam kita memahami hati anak,” ujarnya.
Fauzil menjelaskan, ada tiga kecenderungan utama dalam pola asuh: authoritarian (otoriter), permissive(membebaskan), dan authoritative (tegas namun hangat). Pola asuh otoriter membentuk anak yang patuh tapi cenderung takut mengambil keputusan. Pola permisif melahirkan anak yang bebas, namun rentan tidak disiplin. Sementara pola asuh tegas dan hangat menumbuhkan keseimbangan antara rasa hormat dan tanggung jawab. “Anak tidak butuh orang tua yang sempurna, tetapi orang tua yang mau belajar memahami,” ungkapnya dengan nada menenangkan.
Dalam penjelasannya, Fauzil Adhim menekankan bahwa menjadi orang tua adalah perjalanan spiritual dimana adanya proses pendewasaan yang berjalan seiring dengan tumbuhnya anak. Ia mengajak para jamaah untuk tidak sekadar berfokus pada hasil, tetapi juga menikmati proses membimbing dengan sabar. “Melihat anak bertumbuh berarti melihat diri kita sendiri sedang belajar menjadi lebih baik,” katanya. Ia juga mengingatkan bahwa anak belajar lebih banyak dari sikap dan perilaku orang tua dibanding dari nasihat yang diulang-ulang. “Anak mengamati cara kita marah, cara kita menenangkan diri, bahkan cara kita meminta maaf. Di sanalah pendidikan sejati terjadi.”
Kajian yang berlangsung selama lebih dari satu jam itu menghadirkan suasana hangat dan penuh keakraban. Para peserta, sebagian besar pasangan muda dan mahasiswa, tampak antusias menyimak setiap penjelasan yang disampaikan dengan contoh-contoh yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Di akhir sesi, Fauzil Adhim menutup dengan pesan lembut, “Menjadi orang tua bukan soal kesempurnaan, tapi kesediaan untuk terus bertumbuh. Karena mendidik anak sejatinya adalah mendidik diri sendiri agar mampu mencintai dengan lebih tulus.” (Thareeq Arkan Falakh)