Dalam rangka memperingati tahun ketiga sejak mulai dilaksanakannya kajian Women Institute Indonesia (WII), Masjid Kampus UGM kembali menggelar kajian muslimah ini pada Sabtu (20/9/2025) di Ruang Utama Masjid Kampus UGM. Pembicara yang dihadirkan adalah Dewi Nur Aisyah, M.Sc., DIC., Ph.D., seorang ahli epidemiologi dan informatika, serta penulis buku Awe-Inspiring Us yang menginspirasi banyak pembacanya. Tema yang diangkat berkaitan dengan kegelisahan yang sering dialami para muslimah, yaitu “Perempuan, Dunia, dan Jalan Pulang yang Sering Kita Lupakan”.
Dewi mengawali paparan kajiannya dengan puisi, “Bukan dari tulang ubun ia dicipta, sebab berbahaya membiarkannya dalam sanjung dan puja, tapi juga enggak dari tulang kaki karena nista menjadikannya diinjak dan diperbudak, tapi wanita terbuat dari rusuk kiri.” Ia menyampaikan bahwa terdapat makna dari terciptanya perempuan dari rusuk kiri, yakni dekat ke hati untuk dicintai dan dekat ke tangan untuk dilindungi. Penciptaan perempuan Allah desain sedemikian rupa dengan penuh makna. Ia menambahkan bahwa biasanya kesan dari menjadi perempuan adalah suatu hal yang sangat berat. Padahal, Islam hadir memuliakan wanita.
“Bahkan kalau kita lihat budaya, it’s about culture bukan religion. Kalau kita merasa bahwa di Indonesia itu katanya kalau jadi perempuan itu enggak usah sekolah tinggi-tinggi, karena nanti ujung-ujungnya kita bakal balik ke rumah,” jelas Dewi. Ia menekankan kembali bahwa persepsi tersebut bukan bagian dari Islam, melainkan bagian dari budaya yang mempersepsikan wanita sedemikian rupa. “Kacamata Islam bagaimana? Kalau kita dengarkan hadis riwayat, Rasulullah pernah bersabda, Addunya Mata’un wa khairu mata’iha al-mar’atus Shalihah.
Dunia itu artinya perhiasan. A lot of beautiful things in the world adanya di sini. Tapi yang dibilang the most beautiful one, yang paling berharga, paling nilainya berat dan tidak tertandingi adalah kehadiran seorang wanita yang salihah, mar’atusshalihah,” jelas Dewi mengenai pentingnya perempuan menjadi mar’atusshalihah dan berperan aktif dalam masyarakat. Ia melengkapi paparannya dengan menyampaikan contoh-contoh perempuan hebat dalam sejarah dan peran mereka dalam berbagai bidang.
Baca juga: 100 Peserta dari 66 Masjid se-DIY Ikuti Pelatihan Humas dan Keprotokolan
Dewi menyampaikan bahwa terdapat tiga peran muslimah yang paling utama dan tidak boleh ditinggalkan. Pertama, mar’atusshalihah, “Kita semua belajar menjadi perempuan yang salihah sampai akhir hidup kita,” sampainya. Kedua, zaujatul muthi’ah, yaitu istri yang taat. “Ada masanya teman-teman, kita masuk fase kehidupan selanjutnya. Kita bertemu dengan pasangan hidup kita. Di situ masuklah pada peran kedua,” jelasnya. Ketiga, ummul madrasah. Ia menambahkan, “Kemudian Allah karuniakan anak, masuk peran ketiga yang tidak boleh digeser, yaitu ummul madrasah, seorang ibu yang bisa mendidik anak-anaknya dan menjadi peran utama.” Ia menegaskan bahwa tiga komponen ini tidak boleh dilepas atau ditukar, harus dipegang sebagai prioritas utama dan pertama.
Selanjutnya, Dewi menyampaikan pentingnya memaknai jati diri kita. “Harus dikembalikan kepada satu nilai atau satu value sebelum kita menjawab langkah arah ke depan,” sampainya. Ia menjelaskan tiga pertanyaan dalam rangka mencari jati diri yang mungkin terdengar mudah, tetapi banyak yang tidak bisa menjawabnya. Pertama, Siapa diri saya? Dari mana saya berasal? Hal ini akan menentukan jawaban dari pertanyaan selanjutnya. Kedua, Saya mau ngapain di dunia? Kenapa saya ada? “Kalau kita tidak tahu hakikat kita di dunia, kita akan suka lupa buat apa kita ada hari ini,” jelasnya. Ketiga, Saya mau ke mana? “Kalau teman-teman bisa menjawab tiga pertanyaan ini, kita enggak akan mudah hilang arah pada saat menentukan mau ke mana,” jelasnya.
Berkaitan dengan hijrah, Dewi menjelaskan, “Secara makna, hijrah itu adalah sebuah proses yang panjang. Bukan hanya persoalan mengubah penampilan, tapi kita mengubah tujuan hidup.” Ia menambahkan bahwa dengan berhijrah, kita memaknai tujuan hidup kita. “Hijrah bukan hanya soal kita mulai mengubah diri kita menjadi berpakaian syar’i, tapi kita faham bahwa kita sedang meninggalkan hal-hal yang Allah benci menuju hal-hal yang Allah cintai. Itu yang kita jadikan patokan hijrah kita,” jelasnya. “Kita harus mengakarkan motivasi kita pada sesuatu yang kekal. Kita ngejar keridaan Allah, maka dalam prosesnya pasti ada jatuh bangun. Gimana caranya kita bisa bangkit lagi untuk kembali on-track di dalam jalan yang Allah ridai,” tambahnya.
Kajian dilanjutkan dengan sesi tanya jawab yang terdiri dari berbagai pertanyaan mengenai dukungan antarperempuan, cara memaksimalkan peran dalam keluarga, dan cara memilih pasangan hidup. Pada akhir acara, peserta diminta merefleksikan atau merenungkan isi kajian serta bagaimana penerapannya dalam kehidupan sehari-hari. Beberapa peserta berbagi pengalaman dan kesan mereka mengenai kajian serta pentingnya peran perempuan dalam membentuk generasi mendatang. Kajian ditutup dengan harapan agar peserta dapat menerapkan ilmu yang diperoleh dan menjadikan Islam sebagai landasan dalam menjalani kehidupan. (Miftakhul Khairati)