Sebanyak 100 peserta dari 66 masjid se-Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) mengikuti Pelatihan Humas dan Keprotokolan di Pusat Studi Lingkungan Hidup (PSLH) Universitas Gadjah Mada (UGM), Sabtu (20/9).
Acara yang diprakarsai Masjid Kampus UGM ini mengangkat tema bagaimana memastikan kegiatan di masjid berjalan lancar, tertib, dan berkesan bagi jamaah maupun tamu undangan. Para narasumber menekankan bahwa humas dan protokol bukan sekadar formalitas, melainkan jantung dari suksesnya sebuah acara. Tidak hanya mengatur kursi atau menyusun rundown, tetapi juga menciptakan suasana harmonis, menjaga nama baik institusi, dan memastikan setiap tamu merasa dihormati.
Hakikat Keprotokolan
Hadir sebagai pemateri, Dr. Iva Ariani, Wakil Dekan Fakultas Filsafat UGM sekaligus mantan Kepala Humas dan Protokol UGM, menegaskan bahwa protokol bukanlah MC. “Keduanya memang bekerja berdampingan, tetapi fungsi protokol jauh lebih luas: memastikan acara berjalan dari awal hingga akhir tanpa hambatan,” ujarnya.
Menurut Iva, protokol memiliki peran penting sebagai pencipta suasana yang menyenangkan, bagian dari budaya bangsa, bentuk penghormatan kepada tamu, sekaligus pembentuk citra lembaga. Detail kecil seperti kesiapan lagu kebangsaan, penataan kursi, hingga penyajian konsumsi, menurutnya, bisa berdampak besar pada citra institusi.
Ia menambahkan, seorang protokol harus disiplin, memiliki loyalitas tinggi, pengelolaan yang efektif, wawasan luas, serta mampu menjaga penampilan, etiket, dan bahasa yang baik.

Public Speaking dan Peran MC
Materi berikutnya disampaikan oleh Riandhika Adityawan, Amd., praktisi humas dan protokol, yang menyoroti pentingnya keterampilan public speaking. Menurutnya, MC dan protokol adalah wajah acara yang harus mampu menjaga alur, mengendalikan suasana, dan menyampaikan pesan dengan jelas.
“MC bukan hanya membacakan acara, tetapi juga menjadi nyawa kegiatan: menjaga alur, menghidupkan suasana, dan memastikan audiens tetap fokus hingga akhir,” katanya.
Seorang MC ideal, lanjutnya, harus mampu berimajinasi mengantisipasi situasi, menjaga penampilan, sigap membaca kondisi, serta menjalin komunikasi efektif dengan panitia dan audiens.
Baca juga: Masjid Kampus UGM Gelar Diskusi Pengembangan Paradigma Profetik Kuntowijoyo
Praktik Kehumasan Masjid
Pada sesi terakhir, Andri Prayitno, M.Phil membahas praktik kehumasan masjid. Ia menekankan pentingnya strategi komunikasi publik, pemanfaatan media sosial, serta membangun hubungan baik dengan jemaah dan mitra. Humas masjid, katanya, berperan menghadirkan narasi positif agar masjid semakin relevan dengan kebutuhan masyarakat.
Profesionalisme dan Citra Masjid
Dari rangkaian sesi tersebut, mengemuka pesan bahwa keberhasilan sebuah kegiatan tidak hanya diukur dari isi acara, tetapi juga dari kesan yang dibawa pulang tamu. Ketika acara berjalan tertib, tamu merasa nyaman dan dihormati, maka citra masjid akan semakin kuat sebagai pusat kegiatan keumatan yang profesional. Pelatihan ini diharapkan dapat memperkuat kapasitas takmir muda maupun senior dan pengelola masjid se-DIY, sehingga masjid tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah, tetapi juga pusat peradaban dengan tata kelola yang tertib, ramah, dan berkesan. (Naufal Zaky / Editor: Indra Oktafian Hidayat / Foto: Dokumentasi Masjid Kampus UGM)