• UGM.AC.ID
  • Jama’ah Shalahuddin UGM
  • Rumah ZIS UGM
  • Perpus Baitul Hikmah
  • KB-TK Maskam UGM
  • Mardliyyah UGM
Universitas Gadjah Mada
  • Tentang Kami
    • Selayang Pandang
    • Sejarah Masjid Kampus UGM
    • Manajemen Masjid
  • Kegiatan dan Layanan
    • Kegiatan dan Layanan
    • Fasilitas dan Gerai
    • Akad Nikah
    • Formulir Peminjaman Fasilitas
    • Prosesi Kembali Ke Islam
  • Artikel
    • Beranda Artikel
    • Ibadah dan Kajian Islam
    • Diskusi Paradigma Profetik
    • Sakinah Academy
    • Maskam Public Lecture
    • Ramadhan Di Kampus UGM
    • Berita dan Informasi Lain
    • Tulisan dan Khotbah
  • Donasi
  • Kontak
  • Beranda
  • Ramadhan Di Kampus UGM
  • Prof. Sangidu Jelaskan Keberadaan ‘Nur Muhammad’ dalam Jiwa Manusia

Prof. Sangidu Jelaskan Keberadaan ‘Nur Muhammad’ dalam Jiwa Manusia

  • Ramadhan Di Kampus UGM
  • 27 Maret 2023, 18.55
  • Oleh: Masjid Kampus UGM
  • 0

Pemahaman mengenai tasawuf tidak dapat dilepaskan dari keberadaan manuskrip, baik itu manuskrip lama, klasik, tradisional, maupun modern. Hal ini disampaikan oleh Guru Besar Bidang Sastra Arab Modern Fakultas Ilmu Budaya (FIB) UGM Prof. Sangidu, M.Hum. dalam ceramah tarawih Ramadan Public Lecture 1444 H pada Ahad (26/3). Ceramah yang berlangsung sekitar 30 menit ini mengangkat tema “Unsur-Unsur Keislaman Dalam Manuskrip Kuno sebagai Upaya Memahami Dimensi Tasawuf”. 

Prof. Sangidu menjelaskan manuskrip yang baru-baru ini ia teliti, yakni manuskrip yang memuat istilah ‘nur Muhammad’. “Nur Muhammad itu berasal dari Nabi Muhammad, tetapi Nabi Muhammad bukan nur Muhammad. Nur Muhammad itu ada di wadah Nabi Muhammad, ruhnya itu. Sedangkan Nabi Muhammad sendiri diciptakan dari nurullah, cahaya Allah,” jelasnya.

Dalam pemaparannya disebutkan bahwa manusia diciptakan dari dua unsur, yakni unsur yang berupa badan (fisik) dan jiwa (ruh). “Seorang ibu yang mengandung janin pada umur 120 hari atau 4 bulan, Allah baru meniupkan [ruh]. Ruh yang ditiupkan itulah namanya nur Muhammad,” sebutnya.

Unsur jiwa inilah yang terbuat dari nur Muhammad yang mana letaknya terdapat di Bait al-Makmur. Dijelaskan bahwa Bait al-Makmur terletak di langit tingkat ketujuh di mana di dalamnya terdapat penduduk langit. Lebih lanjut, Sangidu menuturkan bahwasanya Bait al-Makmur berhadapan langsung dengan Ka’bah yang ada di Bumi.

Ia pun juga menjelaskan proses ditariknya nur Muhammad ketika seorang mukmin meninggal dunia. “Ruh ini ditarik [ketika meninggal] kalau ia menjadi insan kamil, menjadi orang-orang yang sholeh, maka akan ditarik dari tempat asalnya yang berasal dari Bait al-Makmur,” sebutnya.

Sementara itu, Prof. Sangidu juga mengatakan bahwa riset mengenai manuskrip yang memuat unsur keislaman seperti ini masih belum banyak dilakukan oleh para peneliti, terutama para peneliti muda. Padahal, menurutnya terdapat ribuan manuskrip yang sampai sekarang masih terabaikan. (Gembong Hanung/Editor: Rama Shidqi P./Foto: Yahya Wijaya Pane)

 

Saksikan videonya berikut ini:

[embedyt]https://www.youtube.com/watch?v=tsyNpKXc2mo[/embedyt]

Tinggalkan Komentar Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

Artikel Terbaru

  • Wakil Ketua Takmir Maskam UGM Sebut Konsistensi Ibadah Jadi Ujian Terberat Pasca-Ramadan
  • Khotbah Idulfitri, Ahmad Syauqi: Ketakwaan Harus Terasa dalam Kehidupan Sosial
  • Dirmawa UGM Tegaskan Negara Tak Boleh Abai terhadap Kemiskinan Struktural
  • CEO Haltech Indonesia: Masjid Tak Hanya Tempat Ibadah, Harus Jadi Episentrum Teknologi
  • Dekan Fakultas Teknik UGM Ungkap Lima Lapisan Teknologi yang Harus Dikuasai Indonesia
Universitas Gadjah Mada

MASJID KAMPUS UGM

Jalan Tevesia 1 Bulaksumur, Caturtunggal, Depok,

Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta 55281

Email: masjidkampus[@]ugm.ac.id

© Takmir Masjid Kampus UGM - Badan Pengelola Masjid UGM

KEBIJAKAN PRIVASI/PRIVACY POLICY