• UGM.AC.ID
  • Jama’ah Shalahuddin UGM
  • Rumah ZIS UGM
  • Perpus Baitul Hikmah
  • KB-TK Maskam UGM
  • Mardliyyah UGM
Universitas Gadjah Mada
  • Tentang Kami
    • Selayang Pandang
    • Sejarah Masjid Kampus UGM
    • Manajemen Masjid
  • Kegiatan dan Layanan
    • Kegiatan dan Layanan
    • Fasilitas dan Gerai
    • Akad Nikah
    • Formulir Peminjaman Fasilitas
    • Prosesi Kembali Ke Islam
  • Artikel
    • Beranda Artikel
    • Ibadah dan Kajian Islam
    • Diskusi Paradigma Profetik
    • Sakinah Academy
    • Maskam Public Lecture
    • Ramadhan Di Kampus UGM
    • Berita dan Informasi Lain
    • Tulisan dan Khotbah
  • Donasi
  • Kontak
  • Beranda
  • Sakinah Academy
  • Salah Memaknai Cinta, Ini Dampaknya Menurut Sulaiman Rasyid

Salah Memaknai Cinta, Ini Dampaknya Menurut Sulaiman Rasyid

  • Sakinah Academy
  • 7 April 2026, 11.04
  • Oleh: Alkansa Fauziyyah
  • 0

Sakinah Academy kembali digelar pada Senin (6/4) dengan mengangkat seri Journey of Love and Self-Discovery. Kajian ini menghadirkan Sulaiman Rasyid, S.T., seorang praktisi parenting dan pembinaan keluarga, dengan tema “Redefining Love: Menata Prioritas dan Makna Cinta Secara Sehat dan Bertumbuh”. Tema tersebut menyoroti fenomena relasi modern yang kerap dibangun tanpa arah dan prioritas yang jelas, sehingga alih-alih menumbuhkan, justru melahirkan kebingungan serta luka batin.

Cinta dalam Islam

Dalam awal pemaparannya, Sulaiman menegaskan bahwa cinta merupakan fondasi penting dalam keimanan.

“Tidak sempurna iman seseorang tanpa tiga hal, mahabbah (cinta), raja’ (harapan), dan khauf (takut).”

Ia menjelaskan bahwa cinta kepada Allah harus melahirkan ketaatan. Tanpa cinta, ibadah akan terasa berat dan kehilangan makna.

“Ketika seseorang beribadah tanpa cinta, ibadah itu akan terasa berat, meskipun sejatinya ringan,” tegasnya.

Salah satu poin utama dalam kajian ini adalah perbedaan antara cinta yang sehat dan cinta yang didorong oleh syahwat. Sulaiman menegaskan bahwa tidak semua yang disebut “cinta” adalah sesuatu yang benar. Cinta yang sehat memiliki karakter membangun, menjaga, dan memuliakan. Sebaliknya, cinta yang keliru cenderung merusak, mengabaikan nilai, bahkan menghilangkan akal sehat. Dalam banyak kasus, hubungan yang mengatasnamakan cinta justru berujung pada pelanggaran batas dan kerugian, terutama bagi perempuan.

Ia juga mengutip pemikiran ulama klasik bahwa cinta memiliki tingkatan, mulai dari yang paling tinggi (mahabbah) hingga yang paling rendah (isyq), yaitu cinta yang sudah tidak rasional dan cenderung destruktif.

Baca juga: Ramadan Jadi Awal, Dosen SV UGM Tekankan Konsistensi

Empat Jenis Cinta

Dalam kajian tersebut, dijelaskan bahwa cinta terbagi menjadi empat bentuk utama:

  1. Cinta kepada Allah (mahabbatullah)
  2. Cinta karena Allah (mahabbah fillah)
  3. Mencintai apa yang Allah cintai
  4. Cinta yang menyekutukan Allah (mencintai sesuatu setara atau melebihi Allah)

Tiga jenis pertama membawa pada kebaikan dan bernilai ibadah, sedangkan jenis terakhir berpotensi menjerumuskan pada kesalahan serius dalam akidah.

Sulaiman juga mengulas bagaimana cinta memengaruhi perilaku manusia. Cinta yang benar mampu mendorong seseorang melakukan hal luar biasa dalam kebaikan. Namun, cinta yang salah justru dapat menumpulkan logika dan membawa pada keputusan yang tidak rasional.

Fenomena ini sering terlihat dalam relasi modern, di mana seseorang tetap bertahan dalam hubungan yang merugikan hanya karena alasan “cinta”. Hal ini menunjukkan bahwa tanpa pemahaman yang tepat, cinta dapat menjadi sumber masalah, bukan solusi.

Ciri-Ciri Cinta yang Sehat

Ia juga menguraikan indikator cinta yang benar:

  • Membuat hal berat terasa ringan
  • Mendorong kedekatan dengan yang dicintai
  • Menumbuhkan keinginan untuk meniru
  • Menguatkan hubungan dengan nilai kebaikan

Sebaliknya, cinta yang menjauhkan dari nilai dan merusak diri perlu dipertanyakan.

Dalam sesi tanya jawab, ditegaskan bahwa tidak ada ruang abu-abu dalam hubungan yang sehat.

“Kalau tidak bisa dihalalkan, maka harus dilepaskan.”

Menurut Sulaiman, cinta sejati tumbuh dalam ikatan yang sah dan penuh tanggung jawab, bukan sekadar relasi tanpa kejelasan.

Penulis: Alkansa Fauziyyah

Editor: Indra Oktafian Hidayat

Tags: cinta dalam islam cinta dan iman cinta dan tanggung jawab cinta dewasa cinta perspektif islam cinta sehat cinta sejati cinta yang benar hubungan halal hubungan islami kajian islam cinta konsep cinta islam mahabbah makna cinta Masjid Kampus UGM pendidikan cinta pernikahan islami psikologi cinta islam relasi sehat sakinah akademy self growth islami syahwat ugm

Tinggalkan Komentar Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

Artikel Terbaru

  • Pakar Geopolitik UGM Menegaskan Keberpihakan pada Iran sebagai Bentuk Perlawanan terhadap Kezaliman
  • Kepala PSPG UGM Kritik Implementasi MBG, Tekankan Realisme Anggaran
  • Salah Memaknai Cinta, Ini Dampaknya Menurut Sulaiman Rasyid
  • Ramadan Jadi Awal, Dosen SV UGM Tekankan Konsistensi
  • Wakil Ketua Takmir Maskam UGM Sebut Konsistensi Ibadah Jadi Ujian Terberat Pasca-Ramadan
Universitas Gadjah Mada
MASJID KAMPUS UGM
Jl. Tevesia 1, Bulaksumur
Caturtunggal, Depok, Sleman
DI Yogyakarta 55281
📧 masjidkampus@ugm.ac.id
🌐 masjidkampus.ugm.ac.id

© Takmir Masjid Kampus UGM - Badan Pengelola Masjid UGM

KEBIJAKAN PRIVASI/PRIVACY POLICY