Fenomena kesenjangan antara ajaran agama dan praktik kehidupan sehari-hari di Indonesia menjadi sorotan Imam Besar Masjid Kampus UGM, Prof. Dr. Muhammad Nur, S.Ag., M.Ag. pada Mimbar Subuh, Rabu (4/3). Sesuai topik yang diangkat, “Moslem Development Goals: Agama sebagai Motor Perubahan Masyarakat Berkeadaban”, Nur menilai, meskipun Indonesia merupakan negara dengan mayoritas penduduk Muslim, nilai-nilai agama belum sepenuhnya tercermin dalam kehidupan sosial, politik, maupun birokrasi.
“Fakta menunjukkan agama sering kali tidak mewujud dalam dunia nyata. Kalaupun wujud, hanya pada wilayah yang sangat minimal,” ujarnya.
Ia mencontohkan kondisi indeks persepsi korupsi Indonesia yang masih rendah. Menurutnya, hal ini menunjukkan adanya kontradiksi antara identitas religius masyarakat dengan realitas sosial yang terjadi.
“Penduduk Muslim kita sangat besar, tetapi apakah nilai-nilai agama itu tercermin dalam kenyataan? Korupsi masih merajalela, bahkan terjadi di tempat-tempat yang seharusnya suci,” katanya.
Agama Harus Menjadi Penggerak Peradaban
Dalam pemaparannya, ia menegaskan bahwa agama seharusnya berfungsi sebagai engineer atau mesin perubahan sosial yang mengarahkan manusia menuju masyarakat berkeadaban. Ia membedakan antara culture (budaya) dan adab (peradaban). Budaya, kata dia, lahir dari pikiran, kehendak, dan rasa manusia. Sementara adab muncul ketika budaya tersebut mengandung nilai-nilai ilahiah.
“Budaya baru menjadi peradaban ketika di dalamnya terkandung nilai ketuhanan,” jelasnya.
Mengulik Masalah ke Akarnya: dari Perspektif, Ideologis, hingga Politis
ia lalu memaparkan enam poin yang menjadi akar masalah dari kegagalan internalisasi nilai-nilai Islam ke masyarakat Indonesia. Poin-poin tersebut adalah:
Cara pandang terhadap agama yang masih keliru
Seringkali, masyarakat kita sudah menganggap seseorang beragama jika telah melaksanakan ibadah pribadi, tanpa mempedulikan apakah nilai-nilai ibadah tersebut telah terinternalisasi atau belum ke pribadi orang tersebut. Selain itu pula, simbolisme agama turut memperparah keadaan ini, dimana orang hanya menjadikan agama sebagai simbol tanpa meresapi makna dan tujuannya.
Pengaruh paham Sekulerisme
Sekularisme atau paham yang memisahkan agama dan nonagama sekarang banyak ditemui di hampir semua tempat. Bahkan, sekulerisme tak jarang melekat pada diri tanpa disadari. Sebagai contoh, ada mahasiswa yang rajin beribadah di Masjid, namun ketika ujian tiba, ia turut serta dalam tindak kecurangan. Hal ini menunjukkan bahwa nilai-nilai agama hanya diterapkan di Masjid, tanpa integrasi dengan nilai-nilai kehidupan di luar Masjid.
Kegagalan menemukan esensi beragama
Banyak masyarakat kita yang beragama, tetapi tidak memahami alasannya. Agama dianggap sebagai tradisi yang diturunkan, alih-alih dipahami sebagai pilihan diri yang berlandaskan pengetahuan dan tanpa paksaan. Hal ini membuat seseorang cenderung kurang mendalami esensi dalam beragama. Oleh karena itu, jika seseorang mengaku beragama, ia perlu mendalami esensi dalam beragama, agar tidak keliru dalam beribadah kedepannya.
Agama sebagai instrumentalisasi politik
Banyak tokoh, utamanya politisi, yang hanya menjadikan agama sebagai komoditas untuk memperoleh dukungan pada kontestasi lima tahunan. Bahkan, ia menyentil praktik bagi-bagi konsesi kepada organisasi masyarakat tertentu yang dilakukan sebagai alat untuk meraih loyalitas dan dukungan politik dalam helatan demokrasi ke depan.
Struktur sosial yang tak mendukung
Sekalipun kita beragama dengan baik secara pribadi, apabila lingkungan tidak mendukung, tetap saja sulit untuk mempraktikkan ajaran agama tersebut. Ia mencontohkan seperti praktik di lampu merah. Bayangkan kita sudah berusaha berhenti, tetapi tampak motor-motor lain yang menerobos rambu-rambu, hingga akhirnya kita mengikutinya. Begitu pula jika kita beragama dalam keadaan lingkungan yang tak mendukung. Ada ongkos yang harus dibayar untuk bertahan hidup di lingkungan itu.
Pengaruh pemegang kuasa
Hal ini tergantung pada keberanian penguasa untuk mendukung dan mempertahankan internalisasi nilai-nilai Islam dalam suatu bangsa. Ia mencontohkan konflik antara Iran melawan AS-Israel. Meski pemimpin tertinggi Iran telah gugur dalam konflik, mereka tetap memiliki keberanian untuk melawan negara adidaya tersebut karena kuatnya nilai-nilai yang tertanam.
Reformasi Ekosistem Keberagamaan
Nur menegaskan bahwa perubahan tidak cukup hanya pada level individu, tetapi harus menyentuh ekosistem sosial dan struktur yang lebih luas. Menurutnya, reformasi terhadap enam faktor tersebut diperlukan agar agama tidak sekadar menjadi identitas atau ritual, tetapi benar-benar menjadi kekuatan moral dalam kehidupan masyarakat.
“Agama tidak akan mampu melahirkan masyarakat berkeadaban jika enam persoalan ini tidak diperbaiki,” tegasnya.
Ia pun mengajak masyarakat menjadikan refleksi tersebut sebagai bahan evaluasi agar nilai-nilai agama dapat terintegrasi dalam seluruh aspek kehidupan, mulai dari ruang pribadi hingga ruang publik.
Penulis: Rajendra Wibisana A.
Editor: Naila A. Cetta, Indra Oktafian Hidayat