Transformasi digital tidak hanya soal teknologi, tetapi juga tentang bagaimana manusia memahami dan memanfaatkan data untuk menyelesaikan persoalan kompleks dunia. Hal ini disampaikan oleh Kepala Biro Transformasi Digital UGM, Dr. Mardhani Riasetiawan, S.E., Ak, M.T. dalam kajian SAMUDRA (Safari Ilmu Di Bulan Ramadan) di Masjid Kampus UGM, Selasa (3/3).
Dalam kajian bertajuk “Accelerating Net Zero: Peran Strategis Big Data dan High Performance Computing dalam Transisi Energi dan Efisiensi Sumber Daya”, Mardhani menekankan bahwa data kini telah menjadi aset strategis yang menentukan arah kebijakan dan solusi berbagai masalah global.
“Sekarang kita tidak bisa melakukan apa pun tanpa data. Kalau dulu minyak disebut sebagai bahan bakar peradaban, hari ini data adalah new oil,” ujarnya. Menurutnya, perkembangan teknologi seperti big data dan artificial intelligence membuka peluang besar untuk memahami pola persoalan masyarakat secara lebih mendalam dan sistematis.
Data sebagai Kunci Memahami Masalah Dunia
Mardhani menjelaskan bahwa dunia saat ini menghadapi berbagai persoalan global yang saling terhubung, mulai dari krisis lingkungan, konflik geopolitik, hingga perubahan iklim. Permasalahan semacam ini tidak dapat diselesaikan dengan pendekatan tunggal.
“Banyak problem yang kita hadapi sekarang adalah global problem. Tidak bisa diselesaikan hanya dengan satu pendekatan atau satu disiplin ilmu. Di sinilah data menjadi jembatan lintas disiplin,” jelasnya.
Ia mencontohkan berbagai bencana alam seperti banjir, kebakaran hutan, atau longsor yang kerap berulang. Menurutnya, salah satu penyebabnya adalah pendekatan penyelesaian yang hanya fokus pada gejala yang terlihat di permukaan.
“Sering kali kita hanya menyelesaikan visible problem. Sampah diangkut, besok muncul lagi. Kemacetan diurai, besok macet lagi. Padahal yang perlu dicari adalah pola dan akar masalahnya,” katanya. Dengan memanfaatkan big data, pola-pola tersebut dapat dianalisis sehingga solusi yang dihasilkan lebih berkelanjutan.
Baca juga: Ketua Dewan Guru Besar UGM Dorong Integrasi Nalar, Naluri, dan Nurani dalam Praktik Kehidupan

Dari Data Menuju Keputusan yang Lebih Tepat
Lebih jauh, Mardhani menjelaskan bahwa kekuatan utama big data terletak pada kemampuannya mengolah data dalam jumlah sangat besar untuk menghasilkan wawasan baru. Ia menyebutkan bahwa dalam berbagai sektor, mulai dari industri, transportasi, hingga kebijakan publik, data kini menjadi dasar pengambilan keputusan yang lebih akurat.
“Kalau keputusan diambil hanya berdasarkan insting atau asumsi, itu berbahaya. Pendekatan yang tepat adalah data driven decision, yaitu keputusan yang didorong oleh data,” ujarnya.
Dalam dunia olahraga, misalnya, strategi tim profesional kini banyak didukung oleh analisis big data terhadap performa pemain. Hal serupa juga terjadi di industri hiburan yang memanfaatkan analisis sentimen media sosial untuk menentukan strategi produksi.
Mardhani juga membagikan pengalaman risetnya dalam memanfaatkan data untuk kepentingan sosial. Salah satunya adalah proyek pemantauan pergerakan tanah di wilayah rawan longsor di Wonogiri. Melalui sensor yang dipasang di area retakan tanah, data dikumpulkan secara berkala dan ditampilkan dalam bentuk grafik sederhana di musala dan pos ronda desa.
“Warga tidak perlu paham teknologi. Mereka hanya tahu kalau grafiknya naik turun tajam, berarti tanah mulai bergerak dan mereka tidak boleh ke sawah,” jelasnya.
Pendekatan sederhana tersebut terbukti membantu masyarakat mengantisipasi potensi bencana lebih awal. Ia juga mencontohkan pemanfaatan data selama pandemi COVID-19 untuk memantau ketersediaan fasilitas kesehatan secara real-time.
“Data itu bisa menyelamatkan nyawa. Ketika informasi tersedia secara cepat dan akurat, keputusan juga bisa diambil lebih cepat,” ungkapnya.
Pentingnya Kesadaran terhadap Kedaulatan Data
Di akhir pemaparannya, Mardhani mengingatkan pentingnya kesadaran masyarakat terhadap perlindungan dan kedaulatan data. Menurutnya, data pribadi saat ini sering kali dibagikan secara tidak sadar melalui berbagai platform digital. Padahal, data tersebut memiliki nilai strategis yang sangat besar.
“Kalau data kita tidak ada di tempat kita sendiri, maka lama-lama kita kehilangan kedaulatan teknologi. Kita hanya menjadi pengguna, bukan penguasa teknologi,” tegasnya.
Ia pun mengajak generasi muda untuk lebih kritis dalam menggunakan teknologi digital, termasuk membaca syarat penggunaan aplikasi dan mendukung pengembangan inovasi lokal.
“Teknologi itu bisa dikuasai siapa saja. Yang penting adalah kemauan untuk belajar dan keberanian memanfaatkan data untuk memberi solusi bagi masyarakat,” pungkasnya.
Penulis: Indra Oktafian Hidayat