Krisis lingkungan global yang semakin kompleks menjadi perhatian dalam khotbah Jumat yang disampaikan oleh Dosen Fakultas Sains dan Teknologi UNIDA Gontor, Aldy Pradhana, S.Si., M.Phil. di Masjid Kampus UGM, Jumat (6/3). Dalam khotbah bertajuk “Kaum Muslimin di Tengah Krisis Lingkungan” ini, Aldy menyoroti fenomena triple planetary crisis atau tiga krisis besar planet yang saat ini dihadapi umat manusia, yaitu perubahan iklim, polusi, dan hilangnya keanekaragaman hayati.
Aldy menjelaskan bahwa istilah triple planetary crisis merujuk pada konsep yang diperkenalkan oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa dan juga pernah diulas oleh Pusat Studi Lingkungan Hidup UGM. Ketiga krisis tersebut saling berkaitan dan berdampak luas terhadap keberlangsungan kehidupan di bumi.
“Perubahan iklim menyebabkan pola cuaca yang semakin tidak menentu, kekeringan, banjir, hingga mencairnya es di kutub. Di sisi lain, pencemaran udara, air, dan tanah juga memicu berbagai penyakit dan bahkan kematian dini,” ujar Aldy.
Selain itu, krisis ketiga berupa hilangnya keanekaragaman hayati juga semakin mengkhawatirkan. Penggundulan hutan, alih fungsi lahan, serta eksploitasi alam yang berlebihan menyebabkan banyak spesies kehilangan habitatnya.
Bencana Alam Bukan Sekadar Fenomena Alamiah
Dalam khotbahnya, ia menegaskan bahwa berbagai bencana ekologis tidak dapat dipahami semata-mata sebagai fenomena alam yang terjadi secara alami. Banyak di antaranya merupakan respons alam terhadap perilaku manusia yang merusak lingkungan.
Ia menyinggung banjir yang melanda Aceh dan sejumlah wilayah di Sumatera pada akhir 2025 sebagai contoh yang patut direnungkan. Menurutnya, bencana semacam itu tidak dapat dilepaskan dari praktik eksploitasi alam yang berlangsung secara masif.
“Bencana tidak boleh hanya dipahami sebagai mekanisme internal alam semata, tetapi juga sebagai respons atas penjajahan dan perampokan terhadap lingkungan,” tegasnya.
Mengubah Cara Pandang terhadap Alam
Aldy juga mengkritik cara pandang modern yang memosisikan alam semesta sekadar sebagai materi yang boleh dieksploitasi demi kepentingan manusia. Menurutnya, cara pandang semacam ini menjadi landasan bagi praktik eksploitasi lingkungan yang bersifat kapitalistik. Sebagai alternatif, Islam menawarkan perspektif tauhidik dalam memandang alam. Dalam pandangan ini, alam semesta merupakan ciptaan Allah yang tidak hanya memiliki dimensi material, tetapi juga spiritual.
Alam, lanjutnya, merupakan tanda-tanda kebesaran Tuhan (ayat-ayat Allah). Karena itu, relasi manusia dengan alam tidak bersifat dominatif, melainkan relasi yang penuh tanggung jawab.
“Merusak alam pada hakikatnya adalah merusak kemanusiaan itu sendiri,” ungkapnya.
Dalam bagian selanjutnya, ia juga menegaskan bahwa merusak lingkungan bukan sekadar persoalan teknis atau sosial, tetapi juga merupakan pelanggaran terhadap nilai-nilai syariat. Perusakan lingkungan disebut sebagai bentuk kezaliman dan kemungkaran yang harus dilawan oleh umat Islam. Karena itu, upaya menjaga kelestarian lingkungan tidak dapat dipisahkan dari tanggung jawab keagamaan.
Aldy juga mengingatkan bahwa dakwah dalam Islam tidak boleh dibatasi hanya pada ceramah atau khotbah di mimbar. Upaya menjaga lingkungan dan melawan perusakan alam juga merupakan bagian dari dakwah. Ia menyebut perjuangan menjaga kelestarian alam sebagai bentuk jihad ekologis.
“Setiap orang yang berjuang untuk menjaga kelestarian lingkungan, dengan niat dan cara yang benar, sejatinya sedang menjalankan amar makruf nahi mungkar,” ujarnya.
Menurutnya, jihad ekologis merupakan perjuangan yang tidak hanya bermanfaat bagi generasi sekarang, tetapi juga bagi generasi yang akan datang.
Perlu Solusi Kolektif dan Berkeadilan
Mengakhiri khotbahnya, Aldy menegaskan bahwa krisis lingkungan bukanlah persoalan tunggal, melainkan persoalan kompleks yang saling berkaitan. Oleh karena itu, solusi yang ditawarkan juga tidak dapat bersifat tunggal. Upaya seperti transisi energi, misalnya, harus dibarengi dengan kolaborasi berbagai pihak serta dilakukan secara adil, baik secara kultural maupun struktural. Ia juga menekankan pentingnya memperkuat ukhuwah Islamiyah sebagai modal sosial untuk membangun gerakan kolektif dalam menjaga kelestarian lingkungan.
“Jihad ekologis ini harus menjadi perjuangan yang panjang, bahkan melintas generasi, agar bumi tetap menjadi tempat yang layak bagi anak cucu kita,” pungkasnya.