Pembangunan nasional menjelang satu abad kemerdekaan Indonesia tidak boleh lagi hanya diukur dari pertumbuhan ekonomi, investasi, atau pembangunan infrastruktur. Arah pembangunan yang sejati, menurut Dr. Drs. Andrinof Achir Chaniago, M.Si., harus berorientasi pada peningkatan kualitas manusia dan kualitas kehidupan bermasyarakat.
Hal tersebut ia sampaikan dalam Kajian SAMUDRA (Safari Ilmu Di Bulan Ramadan) yang digelar di Masjid Kampus UGM pada Senin (2/3) sore. Dalam kesempatan tersebut, Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional RI Periode 2014-2015 itu mengangkat tema “Pembangunan Nasional Menuju Sembilan Dekade Merdeka: Ke Mana Arahnya?”.
Menurut Andrinof, pembangunan sejatinya memiliki tujuan utama yang sangat mendasar, yaitu memperbaiki kualitas hidup manusia sebagai individu sekaligus meningkatkan kualitas kehidupan sosial dalam masyarakat. Ia menilai selama ini ukuran keberhasilan pembangunan sering kali keliru karena terlalu menitikberatkan pada indikator ekonomi.
“Tujuan membangun itu sebenarnya sederhana, yaitu memperbaiki kualitas hidup manusia sebagai individu warga negara dan memperbaiki kualitas hidup bermasyarakat,” ujarnya.
Pembangunan Harus Meningkatkan Kualitas Individu
Andrinof menjelaskan bahwa kualitas individu warga negara setidaknya ditentukan oleh tiga dimensi utama: kecerdasan, kesehatan, dan karakter.
Pendidikan berperan membentuk kecerdasan, sementara sistem kesehatan memastikan masyarakat hidup sehat secara fisik maupun mental. Namun menurutnya, dua hal tersebut belum cukup tanpa pembangunan karakter.
Karakter, kata Andrinof, mencakup nilai-nilai penting seperti integritas, kejujuran, keberanian mengambil inisiatif, kreativitas, dan keterbukaan dalam berpikir.
“Manusia yang berkualitas tidak cukup hanya cerdas dan sehat. Ia juga harus memiliki karakter yang baik, seperti jujur, amanah, dan terbuka dalam berpikir,” jelasnya.
Tanpa karakter yang kuat, pembangunan justru berpotensi melahirkan individu yang pintar namun tidak memberi manfaat bagi masyarakat.
Baca juga: Ketua MIUMI DIY Tegaskan Pentingnya Dakwah Menyentuh Persoalan Sosial dan Negara

Ukuran Kemajuan Sosial Ada pada Kehidupan Bermasyarakat
Selain kualitas individu, Andrinof menekankan pentingnya kualitas kehidupan sosial sebagai indikator kemajuan bangsa.
Menurutnya, masyarakat yang maju ditandai oleh nilai-nilai sosial yang positif seperti kerja sama, toleransi, dan semangat tolong-menolong. Suasana sosial yang aman dan nyaman juga menjadi indikator penting dari kemajuan tersebut.
Sebaliknya, meningkatnya konflik sosial, permusuhan antar kelompok, hingga ketergantungan berlebihan pada aparat keamanan justru menunjukkan rendahnya kualitas kehidupan sosial.
“Jika anggaran keamanan terus meningkat, itu bisa menjadi tanda bahwa kualitas kehidupan sosial kita belum membaik,” ujarnya.
Andrinof mengingatkan bahwa pembangunan infrastruktur dan peningkatan investasi sering kali dijadikan ukuran utama keberhasilan pembangunan. Padahal, menurutnya, hal-hal tersebut hanyalah alat untuk mencapai tujuan yang lebih besar.
Infrastruktur seharusnya diarahkan untuk meningkatkan kualitas hidup manusia dan memperbaiki kehidupan sosial masyarakat. Tanpa orientasi tersebut, pembangunan berisiko kehilangan arah.
Ia menilai banyak negara yang berhasil maju karena fokus pada pembangunan sumber daya manusia, inovasi teknologi, serta penguatan riset dan pendidikan tinggi.

Kritik terhadap Arah Pembangunan Ekonomi Indonesia
Dalam paparannya, Andrinof juga menyoroti arah pembangunan ekonomi Indonesia yang dinilai masih terlalu bergantung pada eksploitasi sumber daya alam.
Menurutnya, ekspor Indonesia saat ini masih didominasi komoditas seperti batu bara, minyak sawit, dan mineral mentah. Pola pembangunan seperti ini dinilai tidak berkelanjutan dan berpotensi melemahkan fondasi ekonomi jangka panjang.
Ia menegaskan bahwa transformasi ekonomi melalui penguatan sektor industri menjadi kunci untuk meningkatkan daya saing Indonesia di tingkat global.
“Kalau industri tidak bangkit, sangat sulit bagi Indonesia mencapai pertumbuhan ekonomi tinggi secara berkelanjutan,” tegasnya.
Di akhir pemaparannya, Andrinof menegaskan bahwa kualitas kepemimpinan memiliki peran besar dalam menentukan arah pembangunan bangsa.
Pemimpin, menurutnya, harus memiliki pikiran terbuka, mau mendengarkan para ahli, serta mampu berkolaborasi dengan berbagai kalangan dalam merumuskan kebijakan publik.
Ia mencontohkan kemajuan pesat sejumlah negara yang ditopang oleh kepemimpinan yang berorientasi pada ilmu pengetahuan, riset, dan pembangunan jangka panjang.
“Keberhasilan pembangunan sangat bergantung pada kepemimpinan yang terbuka, mau mendengar para ahli, dan tidak merasa paling benar sendiri,” ujarnya.
Penulis: Indra Oktafian Hidayat