Ramadhan Di Kampus (RDK) UGM kembali menghadirkan rangkaian kegiatan literatif melalui Festival Buku yang digelar di Gelanggang Inovasi dan Kreativitas UGM pada Kamis (26/2). Kegiatan ini menjadi salah satu agenda unggulan RDK tahun ini dengan menghadirkan sejumlah tokoh literasi nasional, di antaranya J.S. Khairen, Irfan Afifi, dan Habiburrahman El Shirazy yang akrab disapa Kang Abik. Masing-masing narasumber tersebut akan membedah buku di tiga hari yang berbeda.
Acara dibuka secara resmi dan dilanjutkan dengan penampilan Tari Tor-tor khas Sumatra Utara yang menyemarakkan suasana. Tarian tersebut ditampilkan sebagai simbol penyambutan yang hangat dan penuh suka cita.
“Tari Tor-tor ini biasanya digunakan orang Batak untuk menyambut sebuah pesta atau acara. Makanya tadi di dalam tarian itu ada lingkaran di mana orang Batak di situ berkumpul untuk bersama-sama merayakan pesta. Jadi tari Tor-tor ini diibaratkan sebagai sambutan yang meriah dan suka cita,” ujar salah seorang penari saat diwawancarai.
Dorong Literasi, Bangun Kontribusi
Steering Committee RDK, Guntur Setia Adi Pangestu, dalam sambutannya menekankan pentingnya literasi sebagai fondasi pembangunan bangsa. Festival Buku ini, menurutnya, merupakan ikhtiar konkret untuk meningkatkan budaya baca dan kualitas intelektual generasi muda.
Mengusung tema “Dari Literasi Menuju Kontribusi Pembangunan”, Guntur mengaitkan urgensi literasi dengan data global. Mengutip hasil riset Program for International Student Assessment (PISA), ia menyampaikan bahwa Indonesia masih berada pada posisi yang memprihatinkan, yakni peringkat 69 dari 80 negara dalam aspek literasi.
Dengan nada reflektif, ia berharap Festival Buku ini mampu menjadi ruang tumbuhnya generasi pemikir dan pemimpin masa depan. “Harapannya, semoga akan tercipta lagi generasi seperti para founding fathers. Semoga akan tercipta lagi Hamka dan Tan Malaka berikutnya,” tutup Guntur.

Antusiasme di Perebutan Tumpeng Buku
Salah satu sesi yang paling dinanti dalam Festival Buku RDK adalah Perebutan Tumpeng Buku. Dalam kegiatan ini, panitia menyusun buku-buku dalam bentuk piramida menyerupai tumpeng, yang kemudian dapat diambil secara bebas oleh para peserta.
Suasana menjadi riuh penuh antusiasme ketika sesi dimulai. Para peserta tampak bersemangat memilih buku yang diminati.
“Senang sekali karena baru pertama kali ikut rebutan tumpeng buku seperti ini,” ujar Haya, mahasiswa Fakultas Hukum yang menjadi salah satu peserta.
Festival Buku RDK UGM tahun ini tidak sekadar menghadirkan bazar dan diskusi literasi, tetapi juga membangun pengalaman kolektif yang menyenangkan. Melalui kolaborasi tokoh literasi, pertunjukan budaya, serta partisipasi aktif mahasiswa, RDK berupaya meneguhkan kembali peran literasi sebagai pintu menuju kontribusi nyata bagi pembangunan bangsa.
