RDK UGM kembali menggelar Ramadan Public Lecture pada Selasa (17/2) malam menjelang pelaksanaan salat tarawih. Mengangkat tema “Socio-Spiritual Movement: Masjid sebagai Pondasi Kohesi Sosial di Indonesia”, kajian ini menghadirkan Ketua Takmir Masjid Kampus UGM, Dr. Mohamad Yusuf, M.A., sebagai narasumber sekaligus membuka rangkaian acara Ramadan.
Dalam pemaparannya, Yusuf menyoroti fenomena penyempitan makna masjid di kalangan masyarakat. Seringkali, masjid hanya dipandang sebagai lokasi pelaksanaan ibadah mahdah semata, seperti salat dan zikir. Padahal, di tengah keragaman masyarakat yang rentan memicu gesekan sosial, masjid sejatinya memiliki peran vital sebagai media perekat umat (kohesi sosial) sekaligus pusat pembangunan peradaban.
Belajar dari Sejarah Rasulullah
Untuk memperkuat argumennya, Yusuf mengajak jamaah menengok kembali sejarah hijrah Nabi Muhammad Saw.
“Ketika Rasulullah hijrah, bangunan yang pertama kali beliau bangun adalah masjid, bukan pasar atau yang lainnya,” tegas Yusuf.
Pada masa itu, masjid berfungsi strategis menyatukan kaum Muhajirin dan Ansar. Lebih dari itu, masjid menjadi pusat pengambilan keputusan pemerintahan melalui musyawarah, pusat pendidikan, hingga berfungsi sebagai rumah sakit darurat untuk merawat sahabat yang terluka saat peperangan.
Baca juga: Pengasuh Ponpes Kun Shalihan Dorong Jemaah Evaluasi Kualitas Puasa Ramadan
Tantangan Masjid di Era Modern
Mengacu pada data Sistem Informasi Masjid Kemenag RI tahun 2026, Indonesia kini memiliki total 706.788 unit masjid dan musala. Yusuf menekankan bahwa jumlah yang masif ini harus diimbangi dengan optimalisasi tiga peran sentral masjid.
Pertama, masjid harus menjadi zona netral yang berdiri di atas semua golongan serta menjadi tempat aman bagi siapapun. Kedua, masjid berfungsi sebagai pusat pemberdayaan ekonomi masyarakat, sebagaimana dicontohkan Rasulullah melalui baitul mal.
Ketiga, masjid harus kembali menjadi “rumah” yang ramah bagi musafir. Yusuf mengkritik realitas saat ini di mana banyak masjid yang hanya terbuka saat waktu salat dan terkunci rapat setelahnya.
Menghapus “Keangkuhan” Masjid
Menutup ceramahnya, Yusuf melontarkan pertanyaan reflektif mengenai inklusivitas masjid kita hari ini. Ia mempertanyakan apakah masjid sudah benar-benar ramah bagi anak-anak, penyandang disabilitas, hingga orang-orang yang datang untuk bertobat.
“Seringkali masjid terlalu angkuh kepada mereka-mereka ini,” ujarnya mengingatkan.
Sebagai penutup yang menggugah, Yusuf membacakan puisi karya KH. Mustofa Bisri (Gus Mus) berjudul “Puisi Islam”. Bait-bait puisi tersebut menyentil keras fenomena keberagamaan yang terjebak pada simbolisme semata, di mana Islam kerap dijadikan sekadar bendera, sorban, kemewahan gedung, hingga alat politik untuk “menusuk kanan-kiri”, namun melupakan substansi perdamaiannya.
Puisi ini seolah menjadi “cermin” bagi kritik Yusuf sebelumnya, mengingatkan jamaah agar tidak membiarkan masjid dan keberislaman mereka menjadi megah namun angkuh. Kajian malam itu pun purna dengan satu pertanyaan kontemplatif dari ujung puisi Gus Mus yang membekas dalam benak jamaah: “Tuhan, Islamkah aku?”
Penulis: Alif Badruzaman
Editor: Naila A. Cetta, Indra Oktafian Hidayat
Foto: Arif Taufik Hidayatullah, Eka Septiani