Puasa di bulan Ramadan tidak semata dimaknai sebagai praktik menahan lapar dan dahaga, melainkan sebagai mekanisme pembentukan manusia secara utuh, meliputi aspek fisik, mental, dan spiritual. Hal tersebut disampaikan Dr. dr. Probosuseno, Sp.PD-KGer, FINASIM, S.E., M.M., AIFO-K, Dokter sekaligus Dosen Departemen Penyakit Dalam FK-KMK UGM, dalam Kajian Pra-Ramadan yang digelar di Masjid Kampus UGM, Kamis (5/2).
Dalam kajian bertajuk “Ramadan dan Kesehatan Holistik: Menjaga Keseimbangan Fisik, Mental, dan Spiritual” itu, Probosuseno menegaskan bahwa puasa merupakan instrumen ilahiah yang dirancang untuk memulihkan manusia dari berbagai persoalan mendasar kehidupan. Pemulihan tersebut, menurutnya, tidak hanya menyentuh dimensi biologis, tetapi juga psikis dan spiritual.
Puasa dan Akar Masalah Kehidupan
Probosuseno menjelaskan bahwa kegagalan manusia dalam meraih kebahagiaan umumnya bersumber dari empat faktor utama, yaitu sakit, kemiskinan, kebodohan, dan nafsu yang tidak terkendali. Dari keempatnya, nafsu disebut sebagai faktor paling dominan dan paling sulit dikendalikan.
“Banyak orang sebenarnya tahu mana yang benar dan salah, tetapi tetap jatuh karena tidak mampu menahan dorongan dalam dirinya,” ujarnya di hadapan jemaah. Dalam konteks inilah, puasa diposisikan sebagai latihan sistematis untuk menundukkan nafsu agar berada di bawah kendali akal dan nilai.
Baca juga: Ini Tiga Kunci Hidup Bermakna Menurut Syatori Abdurrauf
Puasa sebagai Terapi Kesehatan Holistik
Dari sudut pandang medis, Probosuseno menegaskan bahwa puasa memiliki dampak signifikan terhadap kesehatan tubuh. Puasa membantu menurunkan berat badan, memperbaiki metabolisme, menstabilkan tekanan darah, serta meningkatkan fungsi kognitif. Adaptasi tubuh terhadap puasa, menurutnya, paling terasa pada pekan pertama Ramadan.
Ia juga menyoroti kebiasaan makan berlebihan sebagai salah satu penyebab utama penyakit degeneratif. Konsumsi berlebih membuat aliran darah terkonsentrasi pada sistem pencernaan, sehingga mengurangi suplai ke organ vital lain. “Makan itu perlu ilmu. Islam sudah mengajarkan keseimbangan jauh sebelum ilmu kedokteran modern berkembang,” jelasnya.
Ramadan sebagai Sekolah Karakter dan Kepedulian Sosial
Selain berdampak pada kesehatan fisik, puasa juga membentuk karakter dan kepekaan sosial. Menahan lapar dan dahaga menjadi latihan pengendalian emosi, konsumsi, dan gaya hidup. Probosuseno menekankan bahwa ketakwaan bukan sekadar konsep spiritual, tetapi tercermin dalam kemampuan mengontrol diri dalam kehidupan sehari-hari.
Ia juga mengingatkan pentingnya sedekah dan pengelolaan konsumsi secara bertanggung jawab, termasuk dalam kegiatan masjid dan pengajian. Hal-hal kecil seperti menghindari pemborosan makanan dinilai sebagai bagian dari praktik nilai Islam yang sering luput diperhatikan.
“Ramadan seharusnya menjadi ruang evaluasi diri,” pungkasnya. Melalui puasa dan ibadah pendukung lainnya, umat diajak membangun pola hidup yang lebih sehat, berimbang, dan bermakna. Tidak hanya selama Ramadan, tetapi juga setelahnya.
Penulis: Indra Oktafian Hidayat