Esensi hidup yang bermakna bukan sekadar diukur dengan pencapaian materi, melainkan seberapa tuntas seseorang dapat menyelesaikan hubungannya dengan tiga entitas utama dalam hidupnya, yakni dengan Allah, sesama, dan dirinya sendiri. Pesan tersebut mengemuka dalam khotbah yang disampaikan oleh Pengasuh Pondok Pesantren Darush Shalihat, Drs. Syatori Abdurrauf di Masjid Kampus UGM, Jumat (6/2).
Syatori mengungkapkan bahwa terdapat tiga makna hidup untuk hidup yang lebih bermakna. “Sebagai seorang yang beriman, kita tidak terlepas dari 3 sosok, yaitu Allah, sesama, dan diri sendiri. Kita memiliki tugas yakni, selesai,” ungkapnya.
Selesai dengan Allah
Selesai yang dimaksud oleh Syatori yakni tidak memiliki masalah baik dengan Allah, sesama, maupun dengan diri sendiri. “Seandainya hidup seorang mukmin tidak memiliki masalah dengan siapapun, maka InshaAllah kapanpun ia ‘pulang’ ia akan membawa kebahagiaan dan kedamaian,” jelasnya.
Syatori kemudian membeberkan cara untuk ‘selesai’ dengan Allah. Menurutnya, cukup dengan melaksanakan sesuatu yang diperintah dan menjauhi sesuatu yang dilarang oleh Allah. “Siapapun yang betul-betul mewujudkan tekad untuk melakukan perintah dan menjauhi larangan-Nya, maka ia ‘selesai’ dengan Allah. Begitu pula dengan yang masih berani meninggalkan perintah dan mendekati larangan, maka ia sedang mencari masalah dengan Allah,” paparnya.
Baca juga: Sambut Ramadan, Syatori Abdurrauf Ajak Jemaah Kelola Hati dan Kendalikan Diri
Selesai dengan sesama
Lebih lanjut, Syatori menekankan pentingnya tauhid yang menghujam, yakni memandang Allah sebagai segalanya. Kesadaran inilah yang kemudian mendasari hubungan harmonis dengan sesama manusia. Berpedoman dengan QS Al-Hujurat (49): 10, ia mengingatkan bahwa setiap mukmin adalah saudara. “Orang yang merasakan Allah merupakan segalanya, maka ia melihat sesamanya bukan orang lain. Siapapun bagi saya adalah orang beriman, dan saya merupakan bagian dari orang beriman. Kemudian di antara seorang mukmin apabila memiliki perbedaan, itu bukan persoalan. Karena sesungguhnya, orang mukmin adalah bersaudara,” jelasnya.
Merujuk Haditz riwayat Ahmad “Khoirunnas anfa’uhum linnas” yang bermakna ‘Sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi orang lain’, Syatori mengungkapkan bahwa hal tersebut merupakan titik ‘selesai’ dengan orang lain. “Kalau kita tidak bisa memberikan manfaat kepada sesama, setidaknya kita tidak menyusahkan orang lain. Jika kita ingin menjadi orang yang bermanfaat bagi orang lain, kita izinkan orang lain untuk memanfaatkan diri ini,” paparnya.
Selesai dengan diri sendiri
Sebagai penutup, Syatori menggarisbawahi pentingnya manusia untuk selesai dengan dirinya sendiri. Hal ini ditandai dengan kesadaran bahwa kebahagiaan adalah tanggung jawab pribadi yang tidak bergantung pada faktor eksternal.
Syatori menjelaskan bahwa kebahagiaan seorang mukmin bersumber dari amal kebaikan yang dilakukan dengan penuh sukacita. “Kebahagiaan seorang mukmin akan didapat melalui amal-amal kebaikan yang ia lakukan karena ia senang dengan amal itu. Ketika menjauhi larangan-Nya dan mendekati perintah-Nya, mari kita lakukan dengan senang dan bagia karena amalnya bukan karena yang lain,” pungkasnya.
Penulis: Aldi Firmansyah
Editor: Indra Oktafian Hidayat