Stunting menjadi permasalahan serius di Indonesia yang mengancam satu dari empat balita. Stunting disebabkan oleh gizi buruk, infeksi, dan kurangnya perhatian awal. Peran keluarga sangat penting dalam mencegah stunting, terutama dalam 1000 hari pertama kehidupan anak. Masjid Kampus UGM kembali mengadakan Sakinah Academy pada Senin (22/12/2025) dengan tema “Peran Ayah-Ibu dalam 1000 Hari Pertama Kehidupan: Strategi Keluarga Tangguh Cegah Stunting”. Kajian kali ini dibersamai oleh Avira Ermamilia, S.Gz., M.Gz., RD. (Dosen Departemen Gizi-Kesehatan FK-KMK UGM di Ruang Utama Masjid Kampus UGM.
Menyapa jemaah, Avira mengawali kajian dengan menekankan pentingnya peran orang tua dalam tahap awal perkembangan anak. “Untuk Ibu-ibu dan calon ibu yang ada di sini ya, peran kita sangat besar, tetapi di balik seorang ibu yang perannya sangat besar ternyata perlu seorang ayah yang juga perannya sangat besar, lebih besar lagi karena memang ee harus men-support ya Ibu untuk keluarga,” tegasnya. Pembahasan mengenai pentingnya seribu hari pertama kehidupan juga ia sampaikan, “Sekarang memang perkembangannya tidak hanya 1000. Kita sudah bergeser sedikit ke 8000. Jadi ada 7000 hari lagi yang kita lanjutkan. Tetapi memang 1000 ini sangat-sangat penting karena kita sebut sebagai golden period di mana ini adalah periode emas untuk membentuk kemampuan kognitif, itu juga termasuk kecerdasan emosi dan sosial untuk anak.”
Baca juga: Bagus Riyono Jelaskan Empat Level Kesadaran yang Membentuk Perilaku Manusia
Avira menjelaskan lebih lanjut bahwa terdapat hal penting lainnya dalam pencegahan stunting pada anak, yakni fase prakonsepsi dan persiapan kehamilan. “Sebenarnya dimulainya memang pada saat 0 hari kehamilan. Tetapi 0 hari kehamilan ini sebenarnya harusnya sudah dipersiapkan dari sebelumnya. Maka itu kita sebut sebagai prakonsepsi di mana persiapannya itu sebelum dari 0 hari kehamilan tadi,” sampainya. Tidak lupa, Avira juga menjelaskan alasannya, “Kenapa demikian? Karena ketika seseorang itu diketahui hamil biasanya tidak di usia hari pertama. Berarti ada gap waktu di situ sebenarnya dari si janin ini mulai tumbuh sampai ibunya diketahui bahwa sedang hamil. Gap yang cukup lama ini sebenarnya meningkatkan risiko kekurangan gizi karena tidak semua ibu itu secara tubuhnya, status gizinya itu cukup untuk men-support janin yang baru tumbuh tadi.” Harapannya, persiapannya adalah sebelumnya, maka disebut sebagai kehamilan terencana.
Avira menyampaikan bahwa strategi keluarga dalam mencegah stunting dapat dilakukan dengan beberapa hal. “Stunting ini kan suatu gagal tumbuh ya, istilahnya adalah kekurangan gizi kronik. Tidak hanya saat ini kurang, besok pagi stunting. Tapi ini adalah masa panjang ya. Tidak hanya saat ini saja, kemungkinan sudah terjadi kekurangan gizi sebelumnya sehingga kemudian terjadi stunting,” jelasnya. Maka dari itu, penting bagi orang tua memahami gizi yang seimbang. Selain itu, lingkungan yang sehat menjadi bagian penting. “Kalau kita berbicara stunting sebenarnya tidak hanya makanan, tapi di sini juga lingkungan yang sehat. Kenapa? Karena erat kaitannya dengan infeksi tadi. Kalau lingkungannya sehat, baik, udara sirkulasinya bagus ya ee kesehatan anak baik, tidak sering sakit, maka status gizinya juga akan baik. Stunting bisa dicegah.
Pada akhir penyampaiannya, Avira memberikan kesimpulan dari kajiannya, “Ini kesimpulannya, 1000 hari pertama kehidupan ini adalah periode kritis. Jadi kita harus mengupayakan untuk bisa memaksimalkan tumbuh kembangnya termasuk juga gizinya dari mulai hamil sampai usia 2 tahun termasuk tadi persiapan kehamilan. Kemudian peran ibu tadi sebagai supplier ibunya juga harus sehat serta mengonsumsi makanan yang sehat, mempunyai kebiasaan hidup yang baik, dan juga fokus untuk pola makan anak. Bagaimana dengan peran ayah, pendukung strategis, pengambil keputusan keluarga, termasuk berapa alokasi untuk makan, bagaimana proses untuk pola asuh, pendukung dalam memberikan contoh. Biasanya anak ini akan lebih melihat ayahnya. Ayahnya makan apa sih? Oh, makan sayur. Dia akan tergoda makan. Tapi kalau ibunya mungkin ya mungkin tidak secepat dia mengadaptasi ayahnya ya. karena ayahnya biasanya sosok yang sangat-sangat dilihat oleh anak. Yang terakhir, gizi dan pola hidup yang sehat pada calon ayah minimal untuk memperbaiki tadi yang kaitannya dengan software ya, dari mulai sperma jadi plasenta dan seterusnya. Jadi ini struktur dari program anak itu ada dari ayah.” (Miftahul Khairati)