Masjid Kampus UGM kembali menggelar Kajian Kamis Sore pada Kamis, 30 Oktober 2025 di Ruang Utama Masjid Kampus UGM. Kajian kali ini menghadirkan dr. Agus Taufiqurrahman, Sp.S., M.Kes., yang juga menjabat sebagai Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah Bidang Pembinaan Kesehatan Umum, Kesejahteraan Sosial, dan Resiliensi Bencana.
Ibadah dan Kajian Islam
Menelusuri Jejak Santri dari Zaman Rasulullah
Istilah santri bukan sekadar label bagi seseorang yang menuntut ilmu agama di pesantren. Kata ini memiliki akar sejarah dan makna yang mendalam, mencerminkan hubungan erat antara ilmu, adab, dan perjuangan dalam Islam. Dalam kajiannya, Tajul Muluk menjelaskan bahwa makna santri dapat ditelusuri hingga masa Rasulullah ﷺ melalui komunitas Ahlus Suffah, generasi awal pembelajar yang menjadi cikal bakal tradisi pesantren.
Pesantren memiliki peran yang sangat penting dalam menjaga nilai-nilai keislaman dan keutuhan umat. Sebagai lembaga pendidikan Islam tertua di Indonesia, pesantren menjadi pusat pembinaan akhlak, penguatan tauhid, dan pemberdayaan masyarakat. Dalam ceramahnya, Ammi Nur Baits menegaskan bahwa pesantren tidak sekadar tempat menuntut ilmu agama, tetapi juga benteng bagi kemurnian akidah umat.
Ia menyampaikan, “Pesantren bukan hanya tempat mencari ilmu, tapi tempat menegakkan tauhid yang menjadi dasar kehidupan.”
Sakinah Academy kembali menghadirkan psikolog Tika Faiza, S.Psi., M.Psi., dengan tema “Mendaki Puncak Keharmonisan: Rahasia 5 Level Komunikasi dalam Pernikahan.”
Melalui pendekatan yang lembut dan reflektif, Tika mengajak para peserta untuk memahami bahwa komunikasi adalah kunci utama dalam membangun keluarga yang sakinah, mawaddah, dan rahmah. Mengawali materinya, ia mengutip Surah Ar-Rum ayat 21 sebagai dasar spiritual: “Dan di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya ialah Dia menciptakan untukmu pasangan dari jenismu sendiri supaya kamu merasa tenteram kepadanya.”
Kajian Kamis sore, 9 Oktober 2025, menghadirkan tokoh Guru Besar Fakultas Psikologi UGM, Prof. Drs. Subandi, M.A., Ph.D., Psikolog. Kajian yang diadakan di Ruang Utama Masjid Kampus UGM mengangkat tema psikologi islam, lebih tepatnya “Akhlak sebagai Fondasi Kesehatan Mental dan Spiritualitas Mahasiswa,” yang dihadiri oleh jamaah dari UGM maupun luar UGM.
Pada Kamis, 2 Oktober 2025, Masjid Kampus UGM kembali menggelar Kajian Kamis Sore yang menghadirkan Habib Novel bin Muhammad Alaydrus. Acara ini diikuti oleh ratusan jamaah yang memenuhi ruang utama masjid. Dengan tema “Ketika Ibadah Bukan Lagi Beban tetapi Kebutuhan”, kajian ini berhasil membuka pandangan baru bagi banyak orang tentang bagaimana memaknai ibadah dalam kehidupan sehari-hari.
Dr. Ridwan Saptoto, S.Si., M.A., Psikolog. mengisi Kajian Kamis Sore di Masjid Kampus UGM. Dengan nada tenang namun tegas, ia mengangkat topik yang begitu dekat dengan kehidupan sehari-hari, yaitu “Menuhankan Uang: Hilangnya Marwah Manusia Akibat Materialisme.”
Dalam paparannya, Ridwan mengingatkan bahwa zaman modern menghadirkan bentuk “kesyirikan” baru. Jika dulu manusia menyembah berhala, kini banyak yang justru “menyembah” uang. Fenomena itu, katanya, terlihat jelas di berbagai kasus: mulai dari korupsi kuota haji hingga gaya hidup yang mengukur harga diri dari kendaraan yang dikendarai.
Masjid Kampus UGM menyelenggarakan Peringatan Maulid Nabi Muhammad ﷺ 1447 H pada Ahad (21/9) di Ruang Utama Masjid Kampus UGM. Kegiatan yang terbuka untuk umum ini mengusung tema “Adab sebagai Pilar Peradaban: Meneladani Rasulullah dalam Pendidikan Karakter Umat Islam.” Tema ini dipilih sebagai respons atas kondisi zaman modern, di mana ilmu kerap direduksi menjadi sekadar instrumen pragmatis tanpa diiringi orientasi adab yang kuat.
Dalam rangka memperingati tahun ketiga sejak mulai dilaksanakannya kajian Women Institute Indonesia (WII), Masjid Kampus UGM kembali menggelar kajian muslimah ini pada Sabtu (20/9/2025) di Ruang Utama Masjid Kampus UGM. Pembicara yang dihadirkan adalah Dewi Nur Aisyah, M.Sc., DIC., Ph.D., seorang ahli epidemiologi dan informatika, serta penulis buku Awe-Inspiring Us yang menginspirasi banyak pembacanya. Tema yang diangkat berkaitan dengan kegelisahan yang sering dialami para muslimah, yaitu “Perempuan, Dunia, dan Jalan Pulang yang Sering Kita Lupakan”.
Bagaimana nasib budi pekerti di era digital? Apakah nilai luhur bangsa akan terkikis oleh budaya instan dan ekspresi diri yang berlebihan? Setidaknya pertanyaan-pertanyaan ini yang menjadi dasar pembahasan dalam kajian berjudul, “Kualitas Orang Indonesia: Dulu dari Budi Pekerti Sekarang Apa?”oleh Prof. Dr. Irwan Abdullah. Dalam kajian tersebut narasumber menyoroti bagaimana perubahan teknologi bukan hanya soal komunikasi, namun turut menggeser “tren” bagaimana norma dan nilai-nilai moral masyarakat indonesia itu diaplikasikan.