Isu kesepian di kalangan pemuda menjadi sorotan utama dalam Kajian Kamis Sore kali ini. Dengan judul “Membedah Fenomena Kesepian di Kalangan Pemuda: Mengapa dan Bagaimana Solusinya”, kajian ini menghadirkan Alfath Bagus Panuntun El Nur Indonesia, S.I.P., M.A., seorang peneliti dan dosen di Departemen Politik dan Ilmu Pemerintahan (DPP) UGM sebagai narasumber untuk membagikan wawasannya.
Artificial Intelligence (AI) pada dasarnya bukan sesuatu yang negatif, karena AI hanya tools yang bersifat pasif. Justru kerusakan dan konflik muncul dari perilaku manusia itu sendiri. Maka, karena AI hingga saat ini menjadi hal yang diperebutkan oleh banyak orang dalam mempelajarinya, jangan sampai umat muslim mendapatkan kerugiannya di dunia, bahkan di akhirat.
Hal tersebut disampaikan oleh Ir. Ridwan Wicaksono, S.T., M.Eng., Ph.D. dalam sesi materinya di Webinar Integrasi Ilmu-Agama dengan tema “AI untuk Perdamaian? Membaca Peluang dan Ancaman dari Perspektif Profetik”.
Kehamilan bukan hanya urusan seorang ibu, melainkan perjalanan bersama yang menuntut keterlibatan penuh dari suami. Hal ini ditegaskan dalam Kajian Sakinah Academy dengan tema “Berbagi Peran dengan Pasangan dalam Menuju Kehamilan Sehat” pada Senin (25/8).
Kajian menghadirkan dokter residen RSUP Dr. Sardjito, dr. Noratul Hafdah dan dr. Yuriska, menggantikan dr. Edi Patmini Setya Siswanti, Sp.OG., sebagai pembicara. Keduanya menekankan bahwa dukungan suami bukan sekadar tambahan, melainkan kebutuhan nyata yang menentukan kesehatan fisik, mental, bahkan masa depan anak yang akan lahir.
Dr. Hempri Suyatna, S.Sos., M.Si hadir sebagai narasumber pada Kajian Kamis Sore di Masjid Kampus UGM (21/8). Ia membedah fenomena “kabur aja dulu” yang ramai di awal 2025. Menurutnya, ungkapan itu muncul sebagai ekspresi kekecewaan generasi muda terhadap sulitnya mencari pekerjaan, mahalnya biaya hidup, dan ketidakpastian ekonomi.
“Banyak yang akhirnya berpikir peluang di luar negeri lebih menjanjikan. Ini bukan sekadar lemah mental, tapi juga bentuk strategi bertahan hidup,” ujarnya.
Hempri menyoroti gelombang PHK massal di berbagai sektor yang menurunkan daya beli masyarakat. Fenomena “rojali” (rombongan jarang beli) dan “rohana” (rombongan hanya nanya) menjadi gambaran nyata. Data terbaru menunjukkan kemiskinan desa masih 11%, sementara kemiskinan kota naik dari 6,2% ke 6,7%. Angka pengangguran resmi 7,2 juta jiwa, namun jika dihitung terselubung bisa mencapai 15 juta.
Selain faktor ekonomi, budaya inferior dan konsumtif juga memperparah keadaan. “Kita lebih bangga pada produk luar negeri, sementara inovasi lokal sering berhenti di prototipe,” jelasnya.
Hempri menilai negara belum konsisten menangani persoalan struktural. Program sering berganti setiap ada pergantian kepala daerah, penanganan anak jalanan masih lemah, sementara politik lebih dominan menjelang pemilu. Ia juga menyinggung budaya mistis menjelang ujian serta budaya selebriti yang menanamkan pola hidup konsumtif.
Sebagai perbandingan, ia menyebut fenomena di Tiongkok, di mana generasi muda memilih tidak membeli rumah sebagai bentuk protes terhadap kapitalisme.
Baca juga: Hakimul Ikhwan Tegaskan Nilai-Nilai Kenabian Sebagai Soft Power Perdamaian
Menanggapi pertanyaan soal kelas menengah yang memperpanjang studi demi menghindari tekanan sosial, Hempri menjelaskan, “Standar kapitalistik seperti ditanya kerja di mana, gaji berapa, atau rumahnya di mana sering jadi beban. Akhirnya banyak menunda. Padahal jalur wirausaha juga penting untuk bangsa.”
Ia menutup dengan penekanan pada nilai agama, disiplin, dan optimisme. “Fenomena kabur aja dulu jangan hanya dimaknai kelemahan mental. Ini juga tanda keberanian mencari peluang baru. Namun kita tetap harus membangun dari dalam negeri,” pungkasnya. ( Asma’ Nur Athifah / Editor: Indra Oktafian Hidayat / Foto: YouTube Masjid Kampus UGM )

Webinar Integrasi Ilmu dan Agama yang dilaksanakan pada Rabu (20/8), menghadirkan Dr. Hakimul Ikhwan, S.Sos., M.A., Ph.D., Dosen FISIPOL UGM dan Direktur Eksekutif Institute for Democracy and Welfarism. Dalam kesempatan itu, Hakim mengulas tema “Diplomasi Profetik: Membangun Perdamaian Melalui Nilai-Nilai Kenabian”.
Sejak awal, Hakim menegaskan bahwa diplomasi tidak hanya urusan antarnegara. Ia menceritakan hasil riset bersama koleganya di Yogyakarta pada 2015–2017, ketika kota ini menempati peringkat kedua kota paling intoleran di Indonesia. Dari situ lahir istilah “diplomasi terkunci”, yaitu kondisi ketika pihak-pihak yang berbeda identitas tidak lagi bisa berdialog, bahkan sekadar menyapa.
Menurutnya, problem utama terletak pada prasangka dan keterbatasan pengetahuan. Ia mengutip pepatah Arab “an-nāsu a‘dā’ mā jahilū”. Manusia cenderung memusuhi apa yang tidak diketahuinya. Di era digital, situasi makin pelik karena algoritma media sosial membuat orang “tahu banyak tentang sedikit hal”, sehingga pandangan terhadap kelompok lain semakin sempit dan bias.
“Algoritma menutup ruang kita untuk benar-benar mengenal orang lain. Akibatnya, ketegangan identitas semakin tajam,” jelasnya.
Sakinah Akademy Masjid Kampus UGM melanjutkan seri kajian finansial keluarga dengan tajuk “Hukum Waris dalam Islam: Memahami Dasar Legalitas dan Syarat Sah Terjadinya Waris” pada Senin (18/8/2025). Melanjutkan paparan sebelumnya, kembali hadir Dr. Ahmad Bunyan Wahib, M.Ag., M.A., dosen Hukum Keluarga Islam UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Beliau memaparkan pentingnya memahami hukum waris Islam tidak hanya sebagai aturan teknis, tetapi juga sebagai bagian integral dari keadilan keluarga.
Ahmad Bunyan menjelaskan bahwa hukum waris adalah bagian dari syariat Islam yang detail dan menyeluruh. Dasarnya berasal dari Al-Qur’an, Hadis, dan ijma’ ulama, yang mengatur siapa saja yang berhak menerima harta warisan serta bagaimana pembagiannya.
Zainal Arifin Mochtar Soroti Paradoksal Negara: Klaim Menyejahterakan, Nyatanya Malah Menyengsarakan
Dr. Zainal Arifin Mochtar, S.H., LL.M., hadir sebagai pembicara pada Kajian Kamis Sore di Masjid Kampus UGM, Kamis (14/8/2025). Kajian bertema “Sudahkah Sejahtera? Kilas Balik 80 Tahun Indonesia Merdeka” ini mengajak jemaah menelisik makna sejati kesejahteraan, sekaligus mengkritisi paradoksal negara yang atas nama kesejahteraan justru menindas rakyat.
Dalam pemaparannya, Zainal menegaskan, kesejahteraan bukan sekadar angka statistik, tetapi mencakup terpenuhinya kebutuhan dasar, rasa aman, dan martabat warga. “Kesejahteraan adalah tugas negara,” ujarnya, sebelum menjelaskan tiga kewajiban utama negara: menghormati, melindungi, dan memenuhi hak-hak rakyat.
Dosen Fakultas Hukum UGM, Fajri Matahati Muhammadin, S.H., LL.M., Ph.D., hadir dalam Webinar Integrasi Ilmu-Agama (WIIA) Seri Studi Perdamaian dan Keamanan, Rabu (13/08/2025). Dalam ceramahnya yang bertajuk “Jihad Sosial sebagai Tindakan Profetik: Redefinisi Perlawanan di Tengah Ketidakadilan Global,” Fajri mengajak merefleksikan peran kesadaran kolektif dalam melawan kezaliman.
Fajri membuka pemaparan dengan ilustrasi ketidakadilan global yang diibaratkan sebagai puncak gunung es. Menurutnya, akar kezaliman justru tersembunyi di “bongkahan dasar” gunung es itu. Bermula dari hal-hal kecil yang sering kali berasal dari diri kita sendiri. Fenomena ini selaras dengan ciri-ciri akhir zaman, di mana akan terjadi peningkatan kezaliman, permusuhan, dan ketidakadilan yang semakin meluas.
Masjid Kampus UGM menggelar seri perdana Kajian Kamis Sore sebagai bagian dari rangkaian Refleksi Kemerdekaan Indonesia pada Kamis (7/8/2025). Mengangkat tema “Degradasi Intelektual: Budaya Literasi, Filter Informasi, dan Etika Media Sosial”, kajian ini menghadirkan Dosen Ilmu Komunikasi UGM Dr. Budi Irawanto, S.I.P., M.A.
Dr. Budi membuka pemaparan dengan refleksi atas kondisi Indonesia yang memasuki usia kemerdekaan ke-80. Kebebasan informasi yang dahulu diperjuangkan kini hadir melalui media sosial dengan akses cepat dan real time. Namun, di balik peluang yang luas, masih tersimpan banyak tantangan serius, yaitu degradasi intelektual, etika digital yang tergerus, serta maraknya bias dan disinformasi. Dengan lebih dari 80% penduduk Indonesia menjadi pengguna media sosial, platform digital kini bukan hanya memengaruhi cara berkomunikasi, tetapi juga cara memahami realitas yang sering kali melalui sudut pandang yang telah disaring oleh algoritma dan kepentingan kapitalisme digital.
Dalam rangka memperingati 80 tahun kemerdekaan Indonesia dan menjawab berbagai tantangan yang dihadapi generasi muda, Masjid Kampus UGM menyelenggarakan Kajian Kamis Sore selama bulan Agustus 2025. Dengan tema besar “Refleksi Kemerdekaan Indonesia”, rangkaian kajian ini menghadirkan dosen-dosen UGM lintas disiplin untuk mengangkat isu-isu aktual yang menyentuh aspek intelektual, sosial, dan spiritual mahasiswa.
Kajian ini dirancang untuk menjadi ruang diskusi yang reflektif sekaligus membangun kesadaran kritis mahasiswa terhadap berbagai dinamika kehidupan kontemporer, mulai dari krisis literasi hingga problem kesejahteraan dan kesehatan mental.