Masjid Kampus UGM kembali menggelar Kajian Pra-Ramadan pada Senin (16/2) di ruang utama Masjid Kampus UGM. Kajian bertema “Ramadan sebagai Momentum untuk Meraih Derajat Takwa” ini menghadirkan Reki Ristianto, Lc., M.H., Pengasuh Pondok Pesantren Kun Shalihan, Gunungkidul.
Dalam ceramahnya, Reki menegaskan bahwa Ramadan bukan sekadar rutinitas tahunan, tetapi momentum pembentukan kualitas diri. Puasa, menurutnya, memiliki tujuan yang sangat jelas sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an, yakni melahirkan pribadi yang bertakwa.
“Kalau puasanya benar, pasti akan melahirkan takwa. Kalau tidak melahirkan takwa, berarti ada yang perlu dievaluasi dari kualitas puasanya,” tegasnya di hadapan jemaah.
Ia mengawali kajian dengan mengingatkan dua nikmat yang sering membuat manusia lalai, yaitu sehat dan waktu luang. Mengutip sabda Nabi tentang dua nikmat yang banyak manusia tertipu di dalamnya, Reki menjelaskan bahwa tidak sedikit orang yang memiliki kesehatan tetapi tidak memiliki kesempatan untuk beramal. Sebaliknya, ada pula yang memiliki waktu luang namun kesehatannya tidak lagi mendukung. Kerugian terbesar adalah ketika kedua nikmat itu hadir bersamaan, tetapi tidak digunakan untuk mendekat kepada Allah.
Untuk menggugah semangat jemaah, Reki menceritakan kisah Hisyam bin Ammar yang rela menempuh perjalanan jauh demi belajar kepada Imam Malik bin Anas. Dalam proses belajarnya, ia bahkan menerima teguran keras sebagai bentuk pendidikan adab. Namun, hal itu tidak membuatnya mundur, justru semakin menguatkan tekadnya dalam menuntut ilmu.
“Kita hari ini belajar tidak perlu dipukul. Maka seharusnya kita lebih bersungguh-sungguh,” ujarnya.
Reki kemudian menjelaskan keutamaan Ramadan sebagaimana disebutkan dalam hadis riwayat Imam Ahmad dan An-Nasa’i: pintu-pintu langit dibuka, pintu neraka ditutup, dan setan-setan dibelenggu. Ramadan disebut sebagai syahrun mubarok, bulan penuh keberkahan. Keberkahan, menurutnya, bukan sekadar banyaknya aktivitas, melainkan bertambahnya kebaikan dan ketaatan dalam diri seorang muslim.
“Kalau Ramadan kita isi dengan kebaikan yang terus meningkat, itu tanda kita mendapatkan keberkahan,” jelasnya.
Baca juga: Wakil Dekan Fapet UGM Tegaskan Ramadan Bukan Soal Hitung-hitungan Amal
Mengulas Surah Al-Baqarah ayat 183 tentang tujuan puasa, la’allakum tattaqun, ia menegaskan bahwa takwa berarti menjaga diri dari murka Allah dengan menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Untuk mencapai derajat tersebut, terdapat empat unsur penting yang harus diperhatikan, yakni ilmu, amal saleh, meninggalkan maksiat, dan ikhlas.
“Tanpa ikhlas, semua amal bisa gugur. Tanpa ilmu, kita tidak tahu apa yang harus dijalankan dan ditinggalkan,” terangnya.
Lebih lanjut, Reki mengutip penjelasan Ibnu Qudamah al-Maqdisi dalam Mukhtasar Minhajil Qasidin mengenai tiga tingkatan puasa. Pertama, puasa orang awam yang sebatas menahan makan, minum, dan hubungan suami istri. Kedua, puasa orang khusus yang menjaga anggota tubuh dari maksiat. Ketiga, puasa khawasul khawas yang menjaga hati dari segala hal selain Allah. Ia mengajak jemaah setidaknya berusaha mencapai tingkatan kedua agar seluruh anggota tubuh turut berpuasa dari yang diharamkan.
Di penghujung kajian, Reki mengingatkan tentang keutamaan Lailatul Qadar, malam yang lebih baik dari seribu bulan. Momentum tersebut, katanya, seharusnya mendorong setiap muslim untuk menjadikan Ramadan tahun ini sebagai yang terbaik sepanjang hidupnya.
“Sudah berapa kali kita bertemu Ramadan? Sudahkah ada yang benar-benar menjadi Ramadan terbaik kita?” tanyanya reflektif.
Kajian sore itu ditutup dengan ajakan untuk mempersiapkan hati, memperdalam ilmu, serta merencanakan amal secara serius. Ramadan, menurut Reki, bukan sekadar bulan yang datang dan pergi setiap tahun, melainkan kesempatan emas untuk menempuh jalan menuju derajat takwa yang hakiki, yang dampaknya diharapkan tetap terasa bahkan setelah bulan suci berlalu
Penulis: Aulia Mahdini
Editor: Indra Oktafian Hidayat