• UGM.AC.ID
  • Jama’ah Shalahuddin UGM
  • Rumah ZIS UGM
  • Perpus Baitul Hikmah
  • KB-TK Maskam UGM
  • Mardliyyah UGM
Universitas Gadjah Mada
  • Tentang Kami
    • Selayang Pandang
    • Sejarah Masjid Kampus UGM
    • Manajemen Masjid
  • Kegiatan dan Layanan
    • Kegiatan dan Layanan
    • Fasilitas dan Gerai
    • Akad Nikah
    • Formulir Peminjaman Fasilitas
    • Prosesi Kembali Ke Islam
  • Artikel
    • Beranda Artikel
    • Ibadah dan Kajian Islam
    • Diskusi Paradigma Profetik
    • Sakinah Academy
    • Maskam Public Lecture
    • Ramadhan Di Kampus UGM
    • Berita dan Informasi Lain
    • Tulisan dan Khutbah
  • Donasi
  • Kontak
  • Beranda
  • Ibadah dan Kajian Islam
  • Pengasuh Ponpes Kun Shalihan Dorong Jemaah Evaluasi Kualitas Puasa Ramadan

Pengasuh Ponpes Kun Shalihan Dorong Jemaah Evaluasi Kualitas Puasa Ramadan

  • Ibadah dan Kajian Islam
  • 18 Februari 2026, 08.41
  • Oleh: Masjid Kampus UGM
  • 0

Masjid Kampus UGM kembali menggelar Kajian Pra-Ramadan pada Senin (16/2) di ruang utama Masjid Kampus UGM. Kajian bertema “Ramadan sebagai Momentum untuk Meraih Derajat Takwa” ini menghadirkan Reki Ristianto, Lc., M.H., Pengasuh Pondok Pesantren Kun Shalihan, Gunungkidul.

Dalam ceramahnya, Reki menegaskan bahwa Ramadan bukan sekadar rutinitas tahunan, tetapi momentum pembentukan kualitas diri. Puasa, menurutnya, memiliki tujuan yang sangat jelas sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an, yakni melahirkan pribadi yang bertakwa.

“Kalau puasanya benar, pasti akan melahirkan takwa. Kalau tidak melahirkan takwa, berarti ada yang perlu dievaluasi dari kualitas puasanya,” tegasnya di hadapan jemaah.

Ia mengawali kajian dengan mengingatkan dua nikmat yang sering membuat manusia lalai, yaitu sehat dan waktu luang. Mengutip sabda Nabi tentang dua nikmat yang banyak manusia tertipu di dalamnya, Reki menjelaskan bahwa tidak sedikit orang yang memiliki kesehatan tetapi tidak memiliki kesempatan untuk beramal. Sebaliknya, ada pula yang memiliki waktu luang namun kesehatannya tidak lagi mendukung. Kerugian terbesar adalah ketika kedua nikmat itu hadir bersamaan, tetapi tidak digunakan untuk mendekat kepada Allah.

Untuk menggugah semangat jemaah, Reki menceritakan kisah Hisyam bin Ammar yang rela menempuh perjalanan jauh demi belajar kepada Imam Malik bin Anas. Dalam proses belajarnya, ia bahkan menerima teguran keras sebagai bentuk pendidikan adab. Namun, hal itu tidak membuatnya mundur, justru semakin menguatkan tekadnya dalam menuntut ilmu.

“Kita hari ini belajar tidak perlu dipukul. Maka seharusnya kita lebih bersungguh-sungguh,” ujarnya.

Reki kemudian menjelaskan keutamaan Ramadan sebagaimana disebutkan dalam hadis riwayat Imam Ahmad dan An-Nasa’i: pintu-pintu langit dibuka, pintu neraka ditutup, dan setan-setan dibelenggu. Ramadan disebut sebagai syahrun mubarok, bulan penuh keberkahan. Keberkahan, menurutnya, bukan sekadar banyaknya aktivitas, melainkan bertambahnya kebaikan dan ketaatan dalam diri seorang muslim.

“Kalau Ramadan kita isi dengan kebaikan yang terus meningkat, itu tanda kita mendapatkan keberkahan,” jelasnya.

Baca juga: Wakil Dekan Fapet UGM Tegaskan Ramadan Bukan Soal Hitung-hitungan Amal

Mengulas Surah Al-Baqarah ayat 183 tentang tujuan puasa, la’allakum tattaqun, ia menegaskan bahwa takwa berarti menjaga diri dari murka Allah dengan menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Untuk mencapai derajat tersebut, terdapat empat unsur penting yang harus diperhatikan, yakni ilmu, amal saleh, meninggalkan maksiat, dan ikhlas.

“Tanpa ikhlas, semua amal bisa gugur. Tanpa ilmu, kita tidak tahu apa yang harus dijalankan dan ditinggalkan,” terangnya.

Lebih lanjut, Reki mengutip penjelasan Ibnu Qudamah al-Maqdisi dalam Mukhtasar Minhajil Qasidin mengenai tiga tingkatan puasa. Pertama, puasa orang awam yang sebatas menahan makan, minum, dan hubungan suami istri. Kedua, puasa orang khusus yang menjaga anggota tubuh dari maksiat. Ketiga, puasa khawasul khawas yang menjaga hati dari segala hal selain Allah. Ia mengajak jemaah setidaknya berusaha mencapai tingkatan kedua agar seluruh anggota tubuh turut berpuasa dari yang diharamkan.

Di penghujung kajian, Reki mengingatkan tentang keutamaan Lailatul Qadar, malam yang lebih baik dari seribu bulan. Momentum tersebut, katanya, seharusnya mendorong setiap muslim untuk menjadikan Ramadan tahun ini sebagai yang terbaik sepanjang hidupnya.

“Sudah berapa kali kita bertemu Ramadan? Sudahkah ada yang benar-benar menjadi Ramadan terbaik kita?” tanyanya reflektif.

Kajian sore itu ditutup dengan ajakan untuk mempersiapkan hati, memperdalam ilmu, serta merencanakan amal secara serius. Ramadan, menurut Reki, bukan sekadar bulan yang datang dan pergi setiap tahun, melainkan kesempatan emas untuk menempuh jalan menuju derajat takwa yang hakiki, yang dampaknya diharapkan tetap terasa bahkan setelah bulan suci berlalu

Penulis: Aulia Mahdini

Editor: Indra Oktafian Hidayat

Tags: aulia mahdini indra oktafian hidayat Kajian Jogja Kajian Ramadan Ramadan

Tinggalkan Komentar Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

Artikel Terbaru

  • Guru Besar FEB UGM Serukan Pembentukan Dewan Nazir untuk Perkuat Tata Kelola Wakaf
  • Lebih dari Tempat Sujud, Ketua Takmir Masjid Kampus UGM Tekankan Peran Masjid sebagai Pondasi Kohesi Sosial
  • Pengasuh Ponpes Kun Shalihan Dorong Jemaah Evaluasi Kualitas Puasa Ramadan
  • RDK UGM Buka Rangkaian Kegiatan Ramadan, Usung Tema Moderasi Beragama
  • Wakil Dekan Fapet UGM Tegaskan Ramadan Bukan Soal Hitung-hitungan Amal
Universitas Gadjah Mada

MASJID KAMPUS UGM

Jalan Tevesia 1 Bulaksumur, Caturtunggal, Depok,

Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta 55281

Email: masjidkampus[@]ugm.ac.id

© Takmir Masjid Kampus UGM - Badan Pengelola Masjid UGM

KEBIJAKAN PRIVASI/PRIVACY POLICY