• UGM.AC.ID
  • Jama’ah Shalahuddin UGM
  • Rumah ZIS UGM
  • Perpus Baitul Hikmah
  • KB-TK Maskam UGM
  • Mardliyyah UGM
Universitas Gadjah Mada
  • Tentang Kami
    • Selayang Pandang
    • Sejarah Masjid Kampus UGM
    • Manajemen Masjid
  • Kegiatan dan Layanan
    • Kegiatan dan Layanan
    • Fasilitas dan Gerai
    • Akad Nikah
    • Formulir Peminjaman Fasilitas
    • Prosesi Kembali Ke Islam
  • Artikel
    • Beranda Artikel
    • Ibadah dan Kajian Islam
    • Diskusi Paradigma Profetik
    • Sakinah Academy
    • Maskam Public Lecture
    • Ramadhan Di Kampus UGM
    • Berita dan Informasi Lain
    • Tulisan dan Khotbah
  • Donasi
  • Kontak
  • Beranda
  • Tulisan dan Khotbah
  • Antropolog UGM Soroti Jarak antara Nilai Moral dan Perilaku Kekuasaan

Antropolog UGM Soroti Jarak antara Nilai Moral dan Perilaku Kekuasaan

  • Tulisan dan Khotbah
  • 9 Maret 2026, 12.30
  • Oleh: indraoktafian97
  • 0

Safari Ilmu Di Bulan Ramadan (SAMUDRA) menghadirkan Guru Besar Antropologi UGM, Prof. Dr. Heddy Shri Ahimsa-Putra, M.A., M.Phil., yang mengulas tema “Negara dan Etika Kekuasaan: Menerjemahkan Nilai-Nilai Profetik ke dalam Tata Kelola Modern.” Kegiatan ini diselenggarakan pada Rabu (4/3).

Dalam pemaparannya, ia mengulas secara mendalam hubungan antara nilai, fakta, dan perilaku manusia dalam kehidupan sosial. Menurutnya, nilai tidak serta-merta dapat mengubah perilaku seseorang secara langsung, melainkan harus melalui proses yang panjang dan bertahap sebelum benar-benar terwujud dalam tindakan nyata.

Menurutnya, nilai merupakan sesuatu yang bersifat abstrak. Agar dapat memengaruhi tindakan manusia, nilai harus diterjemahkan melalui berbagai tahapan, mulai dari moral, etika, prinsip, norma, hingga akhirnya menjadi hukum dan praktik nyata dalam kehidupan sehari-hari.

“Nilai itu abstrak. Ia tidak langsung mengubah perilaku. Nilai harus melalui proses panjang sebelum akhirnya menjadi tindakan konkret,” ujarnya.

Membedakan Realita, Fakta, dan Data

Dalam penjelasannya, Heddy juga menyoroti kekeliruan yang sering terjadi dalam memahami konsep realita, fakta, dan data. Ia menyebut ketiganya sering tercampur dalam cara berpikir masyarakat.

Ia menjelaskan bahwa realita adalah segala sesuatu yang dianggap ada dan memengaruhi kehidupan manusia, baik yang bersifat konkret maupun gaib. Kepercayaan terhadap Tuhan, misalnya, merupakan realita karena memengaruhi perilaku manusia dalam beribadah. Sementara itu, fakta merupakan representasi dari realita. Fakta dapat hadir dalam berbagai bentuk seperti cerita, tulisan, foto, video, maupun pernyataan yang menggambarkan suatu kenyataan.

“Fakta itu representasi dari realita. Ketika kita berbicara tentang sesuatu yang kita anggap ada, itulah fakta,” jelasnya.

Adapun data adalah fakta yang dipilih karena relevan dengan suatu kepentingan tertentu, seperti penelitian. Dalam proses penelitian, seseorang mengumpulkan banyak fakta, lalu memilih mana yang relevan untuk dijadikan data.

Baca juga: Soroti Paradoks Keberagamaan, Imam Besar Maskam UGM Paparkan Enam Akar Persoalan

Heddy menerima cenderamata dari Ketua Takmir

Dari Nilai ke Perilaku Nyata

Heddy menekankan bahwa nilai-nilai seperti kejujuran dan keadilan baru dapat diterapkan dalam kehidupan jika sudah diterjemahkan ke dalam praktik yang konkret. Sebagai contoh, konsep keadilan dalam aktivitas ekonomi dapat diwujudkan melalui transparansi harga dalam transaksi jual beli. Pedagang yang mencantumkan harga tetap bagi semua pembeli, menurutnya, merupakan bentuk konkret dari nilai keadilan dan kejujuran.

“Kalau harga sudah jelas dan sama untuk semua orang, itu adil dan jujur. Tidak ada lagi perlakuan berbeda antara pembeli satu dengan yang lain,” katanya.

Sebaliknya, praktik perdagangan tanpa kejelasan harga dapat membuka peluang ketidakjujuran karena memungkinkan perlakuan berbeda terhadap pembeli yang berbeda.

Pentingnya Etika dalam Kekuasaan

Dalam sesi diskusi, Heddy juga menyinggung persoalan etika kekuasaan. Ia menjelaskan bahwa perubahan status sosial atau jabatan sering kali membawa perubahan sistem nilai yang harus diikuti oleh seseorang. Menurutnya, semakin tinggi posisi seseorang, semakin banyak pula norma dan nilai yang harus dipatuhi. Namun, seseorang yang naik dalam struktur kekuasaan juga memiliki dua kemungkinan, yaitu mengikuti sistem nilai yang ada atau justru menjadi agen perubahan.

“Ketika seseorang naik posisi, dia bisa memperbaiki sistem nilai yang ada. Tapi bisa juga sebaliknya, merusaknya,” jelasnya.

Ia mengingatkan bahwa kekuasaan memiliki kecenderungan untuk disalahgunakan jika tidak dibatasi oleh etika. Karena itu, pengendalian kekuasaan melalui norma dan aturan menjadi sangat penting agar tidak berkembang menjadi “hukum rimba”, di mana yang kuat akan selalu menang.

Penulis: Aisyah Larasati

Editor: Indra Oktafian Hidayat

Tags: heddy Kajian Jogja kajian ugm profetik Ramadan rdk

Tinggalkan Komentar Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

Artikel Terbaru

  • Antropolog UGM Soroti Jarak antara Nilai Moral dan Perilaku Kekuasaan
  • Soroti Paradoks Keberagamaan, Imam Besar Maskam UGM Paparkan Enam Akar Persoalan
  • Dosen UNIDA Gontor Serukan Jihad Ekologis, Kritik Cara Pandang Eksploitatif terhadap Alam
  • Salat Gerhana di Maskam UGM, Jemaah Diajak Merenungi Keteraturan Alam dan Kebesaran Allah
  • Penasihat Takmir Maskam UGM Tawarkan Triadis Kemanfaatan sebagai Model Pembangunan Manusia
Universitas Gadjah Mada

MASJID KAMPUS UGM

Jalan Tevesia 1 Bulaksumur, Caturtunggal, Depok,

Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta 55281

Email: masjidkampus[@]ugm.ac.id

© Takmir Masjid Kampus UGM - Badan Pengelola Masjid UGM

KEBIJAKAN PRIVASI/PRIVACY POLICY