Safari Ilmu Di Bulan Ramadan (SAMUDRA) menghadirkan Guru Besar Antropologi UGM, Prof. Dr. Heddy Shri Ahimsa-Putra, M.A., M.Phil., yang mengulas tema “Negara dan Etika Kekuasaan: Menerjemahkan Nilai-Nilai Profetik ke dalam Tata Kelola Modern.” Kegiatan ini diselenggarakan pada Rabu (4/3).
Dalam pemaparannya, ia mengulas secara mendalam hubungan antara nilai, fakta, dan perilaku manusia dalam kehidupan sosial. Menurutnya, nilai tidak serta-merta dapat mengubah perilaku seseorang secara langsung, melainkan harus melalui proses yang panjang dan bertahap sebelum benar-benar terwujud dalam tindakan nyata.
Menurutnya, nilai merupakan sesuatu yang bersifat abstrak. Agar dapat memengaruhi tindakan manusia, nilai harus diterjemahkan melalui berbagai tahapan, mulai dari moral, etika, prinsip, norma, hingga akhirnya menjadi hukum dan praktik nyata dalam kehidupan sehari-hari.
“Nilai itu abstrak. Ia tidak langsung mengubah perilaku. Nilai harus melalui proses panjang sebelum akhirnya menjadi tindakan konkret,” ujarnya.
Membedakan Realita, Fakta, dan Data
Dalam penjelasannya, Heddy juga menyoroti kekeliruan yang sering terjadi dalam memahami konsep realita, fakta, dan data. Ia menyebut ketiganya sering tercampur dalam cara berpikir masyarakat.
Ia menjelaskan bahwa realita adalah segala sesuatu yang dianggap ada dan memengaruhi kehidupan manusia, baik yang bersifat konkret maupun gaib. Kepercayaan terhadap Tuhan, misalnya, merupakan realita karena memengaruhi perilaku manusia dalam beribadah. Sementara itu, fakta merupakan representasi dari realita. Fakta dapat hadir dalam berbagai bentuk seperti cerita, tulisan, foto, video, maupun pernyataan yang menggambarkan suatu kenyataan.
“Fakta itu representasi dari realita. Ketika kita berbicara tentang sesuatu yang kita anggap ada, itulah fakta,” jelasnya.
Adapun data adalah fakta yang dipilih karena relevan dengan suatu kepentingan tertentu, seperti penelitian. Dalam proses penelitian, seseorang mengumpulkan banyak fakta, lalu memilih mana yang relevan untuk dijadikan data.
Baca juga: Soroti Paradoks Keberagamaan, Imam Besar Maskam UGM Paparkan Enam Akar Persoalan

Dari Nilai ke Perilaku Nyata
Heddy menekankan bahwa nilai-nilai seperti kejujuran dan keadilan baru dapat diterapkan dalam kehidupan jika sudah diterjemahkan ke dalam praktik yang konkret. Sebagai contoh, konsep keadilan dalam aktivitas ekonomi dapat diwujudkan melalui transparansi harga dalam transaksi jual beli. Pedagang yang mencantumkan harga tetap bagi semua pembeli, menurutnya, merupakan bentuk konkret dari nilai keadilan dan kejujuran.
“Kalau harga sudah jelas dan sama untuk semua orang, itu adil dan jujur. Tidak ada lagi perlakuan berbeda antara pembeli satu dengan yang lain,” katanya.
Sebaliknya, praktik perdagangan tanpa kejelasan harga dapat membuka peluang ketidakjujuran karena memungkinkan perlakuan berbeda terhadap pembeli yang berbeda.
Pentingnya Etika dalam Kekuasaan
Dalam sesi diskusi, Heddy juga menyinggung persoalan etika kekuasaan. Ia menjelaskan bahwa perubahan status sosial atau jabatan sering kali membawa perubahan sistem nilai yang harus diikuti oleh seseorang. Menurutnya, semakin tinggi posisi seseorang, semakin banyak pula norma dan nilai yang harus dipatuhi. Namun, seseorang yang naik dalam struktur kekuasaan juga memiliki dua kemungkinan, yaitu mengikuti sistem nilai yang ada atau justru menjadi agen perubahan.
“Ketika seseorang naik posisi, dia bisa memperbaiki sistem nilai yang ada. Tapi bisa juga sebaliknya, merusaknya,” jelasnya.
Ia mengingatkan bahwa kekuasaan memiliki kecenderungan untuk disalahgunakan jika tidak dibatasi oleh etika. Karena itu, pengendalian kekuasaan melalui norma dan aturan menjadi sangat penting agar tidak berkembang menjadi “hukum rimba”, di mana yang kuat akan selalu menang.
Penulis: Aisyah Larasati
Editor: Indra Oktafian Hidayat