“Emas bukanlah instrumen yang tepat kalau Anda ingin cepat kaya. Emas tidak cukup cepat kalau Anda ingin kaya secara instan.” Pernyataan tegas ini disampaikan oleh Akhmad Akbar Susamto, S.E., M.Phil., Ph.D., dalam acara Sakinah Academy: Seri Finansial Keluarga yang digelar di Ruang Utama Masjid Kampus UGM, Senin sore (5/1).
Dalam kajian yang berjudul “Investasi Keluarga: Emas sebagai Instrumen Lindung Nilai terhadap Inflasi?” tersebut, Ketua Program Studi Magister Ekonomika Pembangunan FEB UGM ini mengajak jemaah untuk memahami strategi mengamankan aset keluarga di tengah badai inflasi yang tak terelakkan.
Mengenal Inflasi
Akbar membuka pemaparan dengan menyadarkan peserta tentang bahaya inflasi. Ia menjelaskan bahwa inflasi adalah ukuran persentase kenaikan harga barang secara umum dari waktu ke waktu. Bagi keluarga dengan pendapatan tetap, inflasi adalah ancaman nyata.
“Kalau ada orang punya gaji tetap, dari tahun ke tahun 5 juta, sementara terjadi inflasi, berarti kemampuan gaji itu untuk membeli barang akan semakin kecil,” ujarnya.
Ia mencontohkan kenaikan Biaya Penyelenggaraan Ibadah Haji (BPIH). Jika tabungan hanya berupa uang tunai, kecepatannya seringkali kalah dengan kenaikan biaya haji akibat inflasi di Arab Saudi dan biaya transportasi. Di sinilah emas hadir sebagai salah satu opsi instrumen untuk melindungi nilai.
Mengapa Emas?
Menurut Akbar, emas memiliki kecenderungan harga yang naik dalam jangka panjang, bahkan persentase kenaikannya seringkali lebih tinggi daripada inflasi. Selain itu, emas bersifat universal, mudah dicairkan (likuid), dan relatif aman disimpan.
Namun, ia memberikan catatan penting mengenai strategi memegang emas. Emas bukanlah alat spekulasi harian.
“Beli emas, ditahan, pada waktunya dijual. Tapi kalau enggak tahu ilmunya bisa malah rugi,” paparnya. Ia menekankan bahwa emas harus disimpan dalam jangka panjang, misalnya 3 hingga 5 tahun, untuk menutup selisih antara harga beli dan harga jual.
Baca juga: Dosen FIB UGM: Ilmu Tanpa Etika Hanya Akan Melahirkan Keserakahan
Jangan Salah Pilih! Hindari Perhiasan untuk Investasi
Salah satu poin menarik yang disoroti Akbar adalah kesalahan umum masyarakat yang menjadikan perhiasan sebagai sarana investasi. Ia menyarankan untuk menghindari emas perhiasan jika tujuannya murni untuk lindung nilai.
“Saya sangat tidak menyarankan beli perhiasan di toko (untuk investasi). Karena spread-nya tinggi. Untuk bisa menutup selisih itu saja butuh waktu lama,” jelasnya .
Sebagai alternatif yang lebih cerdas bagi generasi yang melek teknologi, ia menyarankan Emas Batangan atau Emas Digital yang disediakan oleh lembaga terpercaya seperti bank syariah atau pegadaian yang memiliki izin, karena memiliki spread yang lebih kecil dan likuiditas tinggi .
Lindung Nilai, Bukan Menimbun
Di penghujung materi, Akbar memberikan tanda bintang atau catatan khusus dari perspektif Islam. Meskipun emas boleh dimiliki, Islam tidak mendorong umatnya untuk menimbun harta (kanz) tanpa diputar dalam roda ekonomi.
“Islam sebenarnya tidak mengajarkan kita untuk menumpuk emas. Emas adalah objek zakat. Itu adalah bentuk discouragement (agar tidak ditimbun),” tegasnya .
Ia mengingatkan bahwa investasi terbaik dalam Islam sesungguhnya adalah berniaga di sektor riil, bukan sekadar menumpuk aset diam. Namun, memegang emas sekadar untuk menjaga nilai harta agar tidak tergerus inflasi, tetap diperbolehkan selama tidak berlebihan dan tidak dijadikan ajang spekulasi harian .
Kajian sore itu ditutup dengan pesan keseimbangan: amankan nilai harta keluarga dengan cerdas, namun jangan biarkan orientasi menumpuk emas melalaikan produktivitas ekonomi yang lebih luas.