Islam bukan sebatas pengakuan melalui lisan, melainkan sebuah komitmen yang kokoh dan diterapkan dalam perbuatan. Prinsip ini merujuk pada firman Allah Swt. dalam Al-Qur’an surah Al Fussilat Ayat 30 yang menjanjikan ketenangan dan surga bagi mereka yang teguh dalam pendiriannya. Ayat tersebut menjadi pokok bahasan yang disampaikan oleh Ir. Muhammad Agung Bramantya, S.T., M.T., M.Eng., Ph.D., IPM., ASEAN Eng.. dalam Kajian Kamis Sore, yang berlangsung di Masjid Kampus UGM (25/12). Beliau menekankan pentingnya keselarasan antara keyakinan dan konsistensi.
“Kita semua menginginkan surga sebagai akhir perjalanan kita. Dalam ayat ini, kuncinya hanya dua, yaitu setelah menyatakan Rabbunallah (Allah Tuhan kami) kemudian beristikamah atau (menjaga) komitmen terhadap perkataan (pengakuan) tersebut.” ungkapnya.
Lebih lanjut, Agung memberikan perumpamaan bahwa Allah merupakan satu-satunya Zat yang menciptakan, menghidupkan, mematikan serta mengatur seluruh sekalian alam hingga aspek terkecilnya.
Beliau memberikan contoh mekanisme tubuh manusia sebagai bukti kemahakuasaan-Nya. “Jantung yang kita miliki tidak bisa kita kontrol untuk (berdetak) lebih cepat atau lebih lambat. Maka, jantung itu bukan urusan kita yang mengaturnya, melainkan Zat Yang Maha Sempurna, yakni Allah Swt. yang mengatur setiap jantung kita, kapan ia berdetak lebih cepat atau lebih lambat.”
Baca juga: Guru Besar FISIPOL UGM Kritisi Sistem Pemerintahan Desa yang Jauh dari Keadilan
Lebih lanjut, Agung mengingatkan kepada umat muslim agar tidak larut dalam ketakutan atau kesedihan yang berlebihan. Menurutnya, kondisi emosional yang tidak stabil dapat menjerumuskan seseorang pada tindakan negatif.
“Janganlah kalian merasa takut dan bersedih hati. Hal ini karena ketika kita takut, kita (cenderung) melakukan hal negatif. (Begitu pula) saat bersedih secara berlebihan, kita rentan melakukan hal buruk. Sebaliknya, ketika kita terlindung dari perasaan tersebut, kehidupan akan dipenuhi rasa aman karena adanya iman kepada Allah Swt,” pungkasnya.