Menjelang penghujung Ramadan 1447 H, Masjid Kampus UGM kembali menghadirkan Ramadan Public Lecture (RPL) pada Selasa (17/3) yang sarat refleksi sosial. Direktur Kemahasiswaan UGM, Dr. Hempri Suyatna, S.Sos., M.Si., membawakan tema “Welfare State of Indonesia: Meninjau Ulang Konsep Masyarakat Sejahtera di Negara Kesejahteraan”, ia mengajak jemaah meninjau ulang konsep welfare state atau negara kesejahteraan, sekaligus menegaskan bahwa makna sejahtera tidak semata-mata diukur dari aspek material.
SAMUDRA (Safari Ilmu Di Bulan Ramadan) pada Selasa (17/3) mengangkat tema “Masjid Kampus sebagai Ruang Temu Peneliti dan Inovator untuk Membangun Kemandirian Teknologi Bangsa”, kegiatan ini menghadirkan Ir. Yarabisa Yanuar, S.T., M.Sc., IPP., seorang praktisi teknologi sekaligus CEO Haltech Indonesia.
Puncak perayaan Ramadhan Di Kampus (RDK) UGM 1447 H digelar melalui RDK Festival di halaman Masjid Kampus UGM pada Jumat (13/3). Acara ini menjadi penanda perjalanan setengah abad dakwah RDK, yang telah berlangsung sejak 1976. Festival tersebut menghadirkan talk show bertema “Menelusuri Jejak Resonansi Islam di Tanah Jawa”, dengan narasumber Salim A. Fillah dan Irfan Afifi, serta dimoderatori Fahmi Fabian.
SAMUDRA (Safari Ilmu Di Bulan Ramadan) kembali digelar di Masjid Kampus UGM pada Selasa (10/3). Kegiatan yang berlangsung di Masjid Kampus UGM ini menghadirkan pengusaha sekaligus Direktur Utama DRW Corpora Indonesia, dr. Wahyu Triasmara, M.Kes., AAAM, AIFO-K sebagai narasumber. Dalam kesempatan tersebut, ia menyampaikan materi bertajuk “Dari Titik Awal Menuju Panggung Ekonomi Nasional: Strategi Menemukan Inovasi.”
Pembina Yayasan Pendidikan Islam Al Atsari Yogyakarta, Afifi Abdul Wadud, B.A., mengajak umat Islam untuk memanfaatkan sepuluh hari terakhir Ramadan sebagai momentum meningkatkan kesungguhan ibadah sekaligus membersihkan hati dari berbagai penyakit spiritual. Hal tersebut disampaikan dalam kajian Mimbar Subuh bertajuk “Menjaga Diri dari Penyakit Hati” pada Selasa (10/3).
“Tantangan utama pembangunan manusia Indonesia saat ini bukanlah kurangnya anggaran. Kita punya uang, tapi kita minim efektivitas dan lemah dalam tata kelola.” Pernyataan tajam ini disampaikan oleh Elan Satriawan, M.Ec., Ph.D., Ketua Tim Nasional Percepatan Penanggulangan Kemiskinan (TNP2K) Periode 2015-2024, saat mengisi Ramadan Public Lecture (RPL) dengan tajuk “Menakar Efisiensi Belanja Pembangunan Manusia Indonesia” di Masjid Kampus UGM pada Senin (9/3).
SAMUDRA (Safari Ilmu Di Bulan Ramadan) kembali diselenggarakan pada Senin (9/2) di Masjid Kampus UGM dengan menghadirkan Afdhal Aliasar, S.T., M.M., MIFP., Senior Partner DinarStandard, sebagai narasumber. Dalam kesempatan tersebut, ia menyampaikan materi bertema “Menjadikan Prinsip Halal–Thayyib dan ESG sebagai Strategi Diferensiasi Produk Ekspor Indonesia.” Kegiatan ini bertujuan memberikan pemahaman mengenai potensi besar industri halal serta bagaimana Indonesia dapat memanfaatkannya sebagai strategi pembangunan ekonomi sekaligus memperkuat daya saing produk nasional di pasar global.
Khotbah Jumat di Masjid Kampus UGM menghadirkan Ketua Takmir Masjid Mardliyyah Islamic Center UGM, Dr. Drs. Ir. Senawi, M.P., IPU. sebagai khatib dengan tema “Ramadan: Momentum Meraih Derajat Takwa, Memperdalam Empati Sosial, dan Meningkatkan Kualitas Diri.” Dalam khotbahnya, ia mengajak jemaah menjadikan bulan Ramadan sebagai momentum pembentukan karakter, penguatan empati sosial, sekaligus peningkatan kualitas diri.
Dalam pembukaan khotbahnya, Senawi mengingatkan pentingnya meningkatkan iman dan ketakwaan kepada Allah dengan menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Menurutnya, ketakwaan bukan sekadar konsep spiritual yang abstrak, tetapi fondasi utama dalam membangun manusia yang berintegritas serta masyarakat yang berkeadaban.
Bencana ekologis yang silih berganti menghantam bumi, mulai dari banjir bandang akibat meluapnya sungai hingga deforestasi yang tak terkendali sejatinya bukan sekadar fenomena alam semata. Dalam pandangan spiritual, berbagai bencana tersebut merupakan refleksi dari kerusakan yang lebih dalam, yakni kerusakan ekologi dalam batin manusia.
Kelancaran dan kemudahan akses energi yang dinikmati masyarakat hari ini bukanlah sesuatu yang terjadi begitu saja. Di baliknya, terdapat sistem global yang kompleks dan rentan terhadap gejolak politik dunia. Ketika krisis geopolitik memanas, ketergantungan pada energi fosil dapat berubah menjadi ancaman serius bagi kedaulatan sebuah negara.
Peringatan tersebut menjadi sorotan utama dalam kajian Safari Ilmu Di Bulan Ramadan (SAMUDRA) di Masjid Kampus UGM pada Ahad (8/3). Kajian ini menghadirkan pakar energi sekaligus Pakar Pusat Studi Energi UGM, Dr. Rachmawan Budiarto, S.T., M.T., yang membahas keterkaitan antara konflik global, ketahanan energi nasional, hingga dampaknya bagi masyarakat, terutama di wilayah pedesaan.