“Di dunia digital, yang sedang kita pertaruhkan bukan hanya waktu dan perhatian, tapi juga akhlak,” ujar Dr. Imam Wicaksono, Lc., M.A., membuka kajian sore di Masjid Kampus Universitas Gadjah Mada. Bagi beliau, ruang virtual bukan sekadar tempat berbagi informasi, tetapi juga ruang yang menguji karakter seseorang.
Media sosial, kata beliau, ibarat pisau bermata dua. “Ia bisa jadi sarana dakwah, belajar, bahkan tempat berbagi inspirasi. Tapi bisa juga menjerumuskan kita dalam riya, pamer, atau bahkan kebohongan.” Teknologi menghadirkan kemudahan, namun jika tak dibingkai dengan akhlak, ia bisa mengikis kesadaran diri sedikit demi sedikit.
Bahaya Oversharing dan Hilangnya Batas Privasi
Salah satu hal yang paling disorot oleh Dr. Imam adalah kebiasaan oversharing, membagikan terlalu banyak hal pribadi di media sosial. “Jangan sampai kita memperkosa privasi diri sendiri,” tegasnya. Ketika semua sisi hidup ditampilkan, seseorang sebenarnya sedang menelanjangi harga dirinya sendiri. Berbagi pengalaman tak salah, tetapi harus ada batas yang dijaga agar kehidupan pribadi tetap memiliki ruang sakralnya.
Beliau juga menyinggung kebiasaan lain yang kerap muncul akibat dunia digital: membandingkan hidup sendiri dengan orang lain. “Jangan bandingkan hidupmu dengan orang lain,” ucapnya lembut. “Bisa jadi kamu belum sampai di fase itu. Kesuksesan orang lain datang di waktunya, dan waktumu juga akan datang.” Menurutnya, membandingkan diri hanya akan melahirkan iri dan kegelisahan, bukan semangat.
Etika Digital adalah Cerminan Etika Hidup
Bagi Dr. Imam, etika digital tak bisa dipisahkan dari etika kehidupan. “Kalau kita kehilangan adab di dunia maya, lama-lama kita kehilangan adab di dunia nyata,” ujarnya. Ruang digital hanyalah perpanjangan dari ruang sosial; nilai moral tetap berlaku sama.
Karena itu, sebelum mengunggah sesuatu, beliau mengajak untuk berhenti sejenak dan bertanya:
“Apakah ini baik? Apakah ini bermanfaat? Apakah ini perlu?”
Pertanyaan sederhana itu bisa menjadi filter moral sebelum jari-jemari menekan tombol post.
“Kadang yang kita bagikan bukan cuma konten,” jelasnya, “tapi juga nilai, cara pandang, bahkan citra diri.”
Anak, Teknologi, dan Tantangan Pendidikan
Dalam sesi tanya jawab, seorang jamaah bertanya tentang perlunya pembatasan akses digital bagi anak-anak. Dr. Imam menjawab dengan tenang, “Kita tidak bisa lari dari modernisasi. Anak-anak sekarang belajar dan ujian pun lewat gawai.” Menurutnya, bukan teknologinya yang harus dijauhkan, tapi akhlak dan etika digital yang harus lebih dulu ditanamkan.
“Anak-anak harus diajarkan literasi digital sejak dini, bukan sekadar cara pakai, tapi juga cara beretika,” jelasnya. Ia menegaskan bahwa peran lembaga pendidikan, terutama kampus dan sekolah, sangat penting dalam menanamkan nilai kejujuran dan tanggung jawab di dunia maya. “Kalau mahasiswa sudah terbiasa jujur secara digital, ia akan jujur di dunia nyata juga,” tambahnya.
Media Sosial dan Kebutuhan Manusia untuk Diterima
Salah satu pertanyaan yang menarik datang dari peserta yang merasa media sosial adalah satu-satunya tempat ia merasa diterima. Dr. Imam tidak menolak kenyataan itu. “Memang di dunia nyata, kita berhadapan dengan orang yang bisa membuat kita kecewa. Tapi di situlah latihan kesabaran dan empati,” ujarnya.
Beliau kemudian memberi perumpamaan: “Tubuh yang sehat adalah tubuh yang digerakkan dengan sedikit beban. Kalau kaki tak pernah diajak berjalan, ia akan lemah. Begitu juga hati dan mental kita, kalau tidak pernah diuji, tidak akan kuat.” Baginya, interaksi langsung, meski melelahkan, adalah bagian dari latihan jiwa agar manusia tetap hangat dan manusiawi.
Menjaga Jari, Menjaga Hati
Sebelum menutup kajian, Dr. Imam mengingatkan sabda Rasulullah ﷺ:
“Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Beliau menafsirkan pesan itu dalam konteks dunia digital: “Sekarang, jari-jemari adalah lisan baru kita. Maka setiap ketikan dan unggahan mencerminkan siapa kita sebenarnya.”
Menurutnya, akhlak digital bukan sekadar aturan sopan santun, tapi wujud nyata dari keimanan seseorang. Dunia digital bisa berubah cepat, tapi akhlak yang baik akan selalu relevan.
“Di tengah hiruk-pikuk dunia maya,” tutupnya, “akhlak adalah jangkar agar manusia tidak hanyut.”