Pesantren memiliki peran yang sangat penting dalam menjaga nilai-nilai keislaman dan keutuhan umat. Sebagai lembaga pendidikan Islam tertua di Indonesia, pesantren menjadi pusat pembinaan akhlak, penguatan tauhid, dan pemberdayaan masyarakat. Dalam ceramahnya, Ammi Nur Baits menegaskan bahwa pesantren tidak sekadar tempat menuntut ilmu agama, tetapi juga benteng bagi kemurnian akidah umat.
Ia menyampaikan, “Pesantren bukan hanya tempat mencari ilmu, tapi tempat menegakkan tauhid yang menjadi dasar kehidupan.”
Tauhid sebagai Dasar Pendidikan
Tauhid menjadi inti dari seluruh sistem pendidikan Islam. Sejak masa para nabi, semua risalah yang dibawa bertujuan menegakkan keesaan Allah SWT. Dalam ceramahnya, Ammi Nur Baits menjelaskan bahwa keberhasilan pendidikan Islam sangat bergantung pada kuatnya fondasi tauhid.
Ia menuturkan, “Semua pendidikan yang tidak berpijak pada tauhid akan kehilangan ruhnya. Tauhid adalah sumber nilai dan tujuan akhir pendidikan Islam.”
Pendidikan tauhid bukan hanya berbentuk teori, tetapi juga pengamalan dan keteladanan. Di pesantren, nilai-nilai tauhid diterapkan melalui pembiasaan ibadah, kedisiplinan, dan kehidupan sederhana.
Menurut Ammi, “Pendidikan tauhid itu bukan sekadar pelajaran di kelas. Ia harus menjadi napas kehidupan sehari-hari di pesantren.”Dengan demikian, setiap aspek kehidupan santri diarahkan untuk menumbuhkan kesadaran spiritual dan keikhlasan beramal semata-mata karena Allah SWT.
Pesantren dan Transformasi Sosial
Sejak awal perkembangan Islam di Nusantara, pesantren menjadi pusat perubahan sosial dan moral. Para ulama mendirikan pesantren bukan semata untuk membuka lembaga pendidikan, tetapi sebagai upaya menjaga iman dan memperbaiki masyarakat.
“Ulama dulu mendirikan pesantren bukan karena ingin membuka sekolah, tapi karena ingin menjaga iman umat,” ujar Ammi.
Sistem pendidikan pesantren menyeimbangkan antara ilmu, amal, dan akhlak. Santri belajar kitab kuning, namun juga dididik untuk hidup mandiri dan berdisiplin. Ustadz Ammi menekankan bahwa kemandirian santri adalah bagian dari pendidikan tauhid.
“Santri belajar bahwa bergantung hanya kepada Allah, bukan kepada manusia. Itulah kemandirian sejati yang melahirkan kekuatan spiritual.”
Dalam sejarahnya, pesantren turut berperan besar dalam perjuangan kemerdekaan dan pembentukan karakter bangsa. Melalui pendidikan tauhid, pesantren menanamkan semangat persatuan, kesetiaan, dan tanggung jawab sosial. Prinsip ini menjadikan pesantren bukan hanya lembaga keagamaan, tetapi juga agen perubahan masyarakat.
Metode Pendidikan dalam Tradisi Pesantren
Metode pendidikan pesantren mengikuti tradisi para ulama salaf yang menekankan talaqqi — proses belajar langsung dari guru dengan penuh adab. Kyai berperan bukan hanya sebagai pengajar, tetapi juga sebagai teladan spiritual.
“Yang paling berpengaruh di pesantren bukan hanya apa yang diajarkan kyai, tapi bagaimana akhlak dan keteladanan beliau ditiru oleh santri,” ujar Ammi.
Kegiatan pendidikan berlangsung dalam keseharian: belajar, beribadah, bekerja, dan berinteraksi sosial. Melalui lingkungan ini, santri belajar kedisiplinan, tanggung jawab, dan ukhuwah Islamiyah. Ammi menyebutnya sebagai “pendidikan yang menghidupkan hati, bukan sekadar mengisi kepala.”
Seiring perkembangan zaman, banyak pesantren beradaptasi dengan sistem modern, menambah kurikulum umum dan keterampilan hidup. Namun, ruh pendidikan tauhid tetap menjadi fondasi.
“Modernisasi boleh terjadi, tapi ruh tauhid jangan hilang. Modernisasi itu alat, bukan tujuan ” tegas Ammi.
Pesantren sebagai Penjaga Kesatuan Umat
Pesantren berperan besar dalam menjaga persatuan umat di tengah perbedaan pandangan. Dengan berpegang pada nilai tauhid, pesantren mengajarkan keseimbangan, toleransi, dan moderasi.
Ammi menegaskan, “Tauhid bukan hanya mengesakan Allah, tetapi juga mengesakan tujuan umat manusia untuk kebaikan”.
Menurut beliau, pesantren menjadi benteng moral yang menolak perpecahan dan fanatisme golongan. Santri diajarkan untuk menghargai perbedaan mazhab dan pandangan, selama berpegang pada prinsip tauhid. “Umat ini akan kuat jika bersatu dalam tauhid, bukan terpecah karena perbedaan pendapat,” ujarnya.
Lebih jauh, Ammi juga menyoroti pentingnya semangat kebangsaan sebagai bagian dari nilai tauhid. “Mencintai negeri ini adalah bagian dari menjaga amanah Allah. Karena tauhid tidak memisahkan antara iman dan pengabdian kepada masyarakat,” ungkapnya.
Pesantren Sebagai Penjaga Iman, Nilai, dan Arah Umat
Pesantren merupakan lembaga pendidikan yang berakar pada nilai-nilai tauhid dan berperan penting dalam membangun karakter umat. Melalui pendidikan yang menyeimbangkan ilmu, amal, dan akhlak, pesantren mampu melahirkan generasi yang berilmu dan berjiwa pengabdian.
Sebagaimana disimpulkan oleh Ammi Nur Baits, “Selama pesantren memegang teguh tauhid, selama itu pula umat akan memiliki arah dan kekuatan.” Prinsip inilah yang menjadikan pesantren tetap relevan di setiap zaman sebagai penjaga iman, moral, dan persaudaraan umat Islam. (Naufal Zaky)