Sakinah Academy kembali menghadirkan psikolog Tika Faiza, S.Psi., M.Psi., dengan tema “Mendaki Puncak Keharmonisan: Rahasia 5 Level Komunikasi dalam Pernikahan.”
Melalui pendekatan yang lembut dan reflektif, Tika mengajak para peserta untuk memahami bahwa komunikasi adalah kunci utama dalam membangun keluarga yang sakinah, mawaddah, dan rahmah. Mengawali materinya, ia mengutip Surah Ar-Rum ayat 21 sebagai dasar spiritual: “Dan di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya ialah Dia menciptakan untukmu pasangan dari jenismu sendiri supaya kamu merasa tenteram kepadanya.”
“Ketika kita berbicara dari hati yang jernih, pasangan akan merasakan bukan hanya kata-kata, tetapi juga kasih yang tulus,” ujar Tika. Ia menekankan bahwa komunikasi dalam pernikahan bukan sekadar menyampaikan informasi, melainkan membangun jembatan antara dua hati agar saling memahami dan menenangkan.
Menurut Tika, banyak persoalan rumah tangga muncul karena komunikasi berhenti di permukaan. Perbedaan cara berpikir, tekanan pekerjaan, hingga ekspektasi yang tak tersampaikan sering kali menimbulkan jarak emosional. “Bukan tentang siapa yang benar, tetapi tentang siapa yang mau memahami,” tegasnya. Ia juga menambahkan bahwa perempuan memiliki peran sentral dalam menjaga iklim emosional keluarga, karena kelembutan dan kebijaksanaan mereka sering menjadi penentu suasana batin di rumah.
Dalam paparannya, Tika memperkenalkan Lima Level Komunikasi sebagai tahapan untuk mencapai keintiman emosional dalam hubungan suami-istri.
- Level pertama, Cliché, adalah percakapan ringan sehari-hari.
- Level kedua, Reporting Facts, berfokus pada penyampaian informasi tanpa emosi.
- Level ketiga, Sharing Ideas, mulai membuka ruang diskusi dan pertukaran pandangan.
- Level keempat, Sharing Feelings, menjadi momen ketika pasangan belajar mengungkapkan perasaan dengan jujur dan aman.
- Puncaknya, Peak Communication, terjadi ketika dua hati saling memahami tanpa banyak kata karena telah tumbuh rasa percaya dan kedekatan batin.
“Komunikasi yang sehat bukan tentang berbicara terus-menerus, tetapi tentang kehadiran yang penuh makna,” kata Tika, mengaitkan konsep ini dengan teori self-disclosure dalam psikologi keluarga — yaitu kemampuan untuk membuka diri secara bertahap dan membangun keintiman emosional. Ia juga menekankan bahwa komunikasi sejatinya adalah ibadah: setiap kata yang menenangkan adalah doa, setiap kesabaran dalam mendengar adalah bentuk kasih yang mendekatkan diri kepada Allah.
Baca juga: Ashar Saputra: Pembangunan Sejati adalah yang Memuliakan Manusia
Acara Sakinah Academy kali ini berlangsung dengan suasana yang akrab dan reflektif. Para peserta, yang seluruhnya perempuan, tampak aktif berdiskusi dan berbagi pengalaman. Kajian ini tidak hanya memberi wawasan psikologis, tetapi juga menjadi ruang spiritual bagi perempuan untuk memahami perannya sebagai penjaga harmoni dalam keluarga.
Menutup sesi, Tika menyampaikan pesan yang menggugah hati: “Rumah tangga bukan tentang mencari pasangan yang sempurna, tetapi tentang menjadi dua orang yang mau terus belajar dan tumbuh bersama.” Ungkapan itu disambut dengan senyum dan tepuk tangan hangat dari peserta, menandai bahwa ilmu yang disampaikan telah menyentuh ruang hati yang paling dalam.
Dengan semangat edukatif dan spiritual, Sakinah Academy Masjid Kampus UGM terus berupaya menghadirkan kajian yang relevan bagi perempuan modern. Menggabungkan nilai psikologis, religius, dan kemanusiaan. Di tengah dunia yang serba cepat dan penuh distraksi, program ini menjadi pengingat bahwa keharmonisan bukanlah hadiah, melainkan perjalanan panjang menuju cinta yang diridhai Allah. (Thareeq Arkan Falakh)