Bagaimana nasib budi pekerti di era digital? Apakah nilai luhur bangsa akan terkikis oleh budaya instan dan ekspresi diri yang berlebihan? Setidaknya pertanyaan-pertanyaan ini yang menjadi dasar pembahasan dalam kajian berjudul, “Kualitas Orang Indonesia: Dulu dari Budi Pekerti Sekarang Apa?”oleh Prof. Dr. Irwan Abdullah. Dalam kajian tersebut narasumber menyoroti bagaimana perubahan teknologi bukan hanya soal komunikasi, namun turut menggeser “tren” bagaimana norma dan nilai-nilai moral masyarakat indonesia itu diaplikasikan.
Redefinisi Standar Nilai dan Norma Sosial
Disupsi digital ini menyentuh inti kualitas manusia Indonesia: etika, kesopanan, dan tanggung jawab tidak lagi hanya diukur melalui tradisi sosial, tetapi juga melalui kecakapan di ruang digital.
“Hal ini menjadi isu krusial karena menyangkut bagaimana kita mendefinisikan kebaikan, sopan santun, dan tanggung jawab sebagai warga negara berbudaya”, kata Prof. Irwan. Beliau menyoroti fenomena jika dahulu sopan santun diwujudkan melalui tatap muka, ucapan langsung, dan pertemuan, kini banyak yang cukup melalui pesan instan atau gambar. Tradisi mengucap doa pun bergeser: cukup dengan mengirim teks atau gambar tanpa benar-benar melafalkan. Transformasi ini menunjukkan adanya pergeseran moralitas yang sangat mendasar.
Selain itu ada beberapa aspek yang ikut berubah di era disrupsi digital, diantaranya :
- Budaya solidaritas kolektif berbasis “gotong royong” berubah menjadi individualisme ekspresif
- Bekerja dengan keras, penuh pengorbanan, dan kesabaran berubah menjadi bekerja secara cepat, praktis, instan, dan mengutamakan visibilitas.
- Deksakralisasi religiusitas dan erosi toleransi : Ekspresi religius kini lebih sering ditampilkan di ruang publik daring. Risiko utama dari pergeseran ini adalah komodifikasi agama, persaingan antar kelompok, polarisasi, serta hilangnya spiritualitas autentik karena fokus bergeser pada performa keagamaan.
Dilema Generasi Muda dan Polemik Studi Akademik
Prof Irwan menyampaikan bahwa pergeseran nilai ini bukan hanya fenomena permukaan, namun juga menyentuh hal-hal fundamental yang selama ini sudah mengakar pada masyarakat.
“Generasi muda mengalami dilema dalam mempertahankan warisan budaya leluhur sambil beradaptasi dengan tuntutan dunia yang makin terhubung dan transparan”, imbuhnya.
Terlebih dalam studi akademik, beliau menjelaskan bahwa saat ini studi akademik tentang disrupsi digital hanya berfokus pada aspek ekonomi dan sosial, namun jarang yang menyoroti bagaimana pergeseran nilai pada dimensi norma dan nilai budi pekerti.
Pendekatan Interdisipliner Sebagai Solusi
Dalam paparan materinya, Prof. Irwan menawarkan solusi berupa pendekatan interdisipliner yang menggabungkan antropologi, psikologi sosial, studi agama, dan teknologi agar mampu memahami kompleksitas pergeseran ini secara menyeluruh. Tanpa pemahaman komprehensif, kebijakan dan program pendidikan akan kehilangan relevansi dan efektivitasnya.
“Dengan pemahaman komprehensif dan strategi yang tepat, kita bisa memastikan bahwa transformasi digital tidak menghancurkan fondasi moral bangsa, tetapi justru memperkuatnya”, jelasnya. Nilai luhur yang diwariskan oleh budaya Nusantara dapat dihidupkan kembali dalam format digital, menjadi pedoman untuk mengarahkan teknologi ke arah yang lebih manusiawi. Dengan demikian, budi pekerti tidak hilang, melainkan bertransformasi menjadi budi digital yang bermoral, adaptif, dan relevan dengan zaman. (Naufal Zaky / Editor: Indra Oktafian Hidayat / Foto: YouTube Masjid Kampus UGM)
[embedyt] https://www.youtube.com/watch?v=-yq77Pswewk[/embedyt]