Perayaan Iduladha 1447 H tidak hanya menjadi momentum ibadah kurban, tetapi juga sarana refleksi atas nilai-nilai keteladanan Nabi Ibrahim AS yang relevan bagi kehidupan modern, khususnya dalam dunia pendidikan tinggi. Dalam khotbah Iduladha yang disampaikan oleh Penasihat Takmir Masjid Kampus UGM Dr. Rizal Mustansyir, M.Hum., jemaah diajak untuk mereaktualisasikan nilai-nilai Ibrahim dalam membangun peradaban yang manusiawi, religius, dan berorientasi pada kemajuan.
Khotbah yang disampaikan di Lapangan Grha Sabha Pramana UGM ini mengangkat tema “Reaktualisasi Nilai-Nilai Ibrahim dalam Dunia Perguruan Tinggi untuk Membangun Peradaban yang Manusiawi dan Religius.” Menurut Rizal, Nabi Ibrahim merupakan salah satu figur teladan utama dalam Islam yang disebutkan berulang kali dalam Al-Qur’an. Keteladanan tersebut lahir dari keteguhan tauhid, kebijaksanaan, serta komitmennya dalam mencari dan mempertahankan kebenaran.
Dalam pemaparannya, Rizal yang juga merupakan dosen Fakultas Filsafat UGM ini menjelaskan bahwa perjalanan hidup Nabi Ibrahim dapat dipahami melalui tiga fase penting. Fase pertama adalah fase empiris, yakni masa ketika Ibrahim menggunakan pengamatan terhadap fenomena alam seperti bintang, bulan, dan matahari sebagai sarana menemukan hakikat ketuhanan. Dari fase ini, lahir pelajaran penting mengenai rasa ingin tahu dan semangat pencarian ilmu yang tidak berhenti pada apa yang ditangkap oleh pancaindra semata.
Fase kedua adalah fase rasional, ketika Nabi Ibrahim menggunakan akal sehat untuk mengkritisi praktik penyembahan berhala yang bertentangan dengan logika dan fitrah manusia. Rizal menegaskan bahwa kebodohan dan penyimpangan peradaban sering kali muncul ketika manusia memuliakan sesuatu yang sebenarnya tidak memiliki kuasa apa pun. Sikap kritis dan keberanian berpikir rasional inilah yang perlu diwarisi oleh generasi masa kini dalam menghadapi berbagai tantangan zaman.
Baca juga: Maskam UGM dan CRCS Gelar Diskusi Chaplaincy bersama Syamsi Ali
Selanjutnya, fase ketiga adalah fase reflektif dan komunikatif, yaitu tahap ketika Ibrahim memaknai kehidupan secara lebih mendalam melalui kontemplasi dan dialog. Dalam fase ini, Ibrahim tidak hanya menunjukkan kedalaman spiritual, tetapi juga keteladanan dalam membangun komunikasi antargenerasi. Kisah dialog antara Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail sebelum peristiwa penyembelihan menjadi contoh bagaimana nilai-nilai dapat diwariskan melalui musyawarah, penghormatan, dan keterbukaan.

Mengaitkan keteladanan Ibrahim dengan dunia akademik, Rizal menegaskan bahwa perguruan tinggi merupakan pusat peradaban yang bertugas mengembangkan ilmu pengetahuan melalui riset yang berpijak pada fakta dan kebenaran. Sebagaimana Ibrahim melakukan pengamatan terhadap alam sebelum sampai pada kesimpulan yang lebih tinggi tentang keberadaan Allah, dunia akademik juga harus menjunjung objektivitas, keterbukaan berpikir, dan semangat pencarian kebenaran.
Lebih jauh, perguruan tinggi juga dipandang sebagai garda depan peradaban yang tidak hanya menghasilkan lulusan cerdas secara intelektual, tetapi juga memiliki kebijaksanaan dan moralitas. Menurutnya, institusi pendidikan tinggi memiliki dua peran penting, yakni sebagai agen perubahan sosial dan sebagai penjaga nilai-nilai moral dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.
Pada bagian penutup khotbah, Rizal merangkum beberapa nilai utama yang dapat dipetik dari kisah Nabi Ibrahim. Pertama, nilai tauhid yang melahirkan keteguhan dalam menentukan jalan hidup. Kedua, rasa ingin tahu yang menjadi fondasi lahirnya manusia yang cerdas dan adaptif. Ketiga, pentingnya komunikasi yang baik dalam membangun hubungan antargenerasi. Keempat, peran pendidikan tinggi sebagai penjaga moralitas melalui pendidikan karakter sehingga mampu melahirkan generasi yang unggul secara intelektual sekaligus kuat secara moral.
Melalui momentum Iduladha, jemaah diajak untuk tidak sekadar mengenang kisah Nabi Ibrahim sebagai peristiwa historis, melainkan menjadikannya inspirasi dalam membangun kehidupan yang lebih bermakna. Keteladanan Ibrahim tentang tauhid, pencarian ilmu, rasionalitas, refleksi diri, dan komunikasi lintas generasi menjadi fondasi penting bagi terwujudnya peradaban yang maju tanpa kehilangan nilai-nilai spiritual dan kemanusiaan.
Penulis: Indra Oktafian Hidayat