Prof. Dr. Ir. Sugeng Sapto Surjono, S.T., M.T., IPU., ASEAN Eng., mengawali Khutbah Jumat (13/12) dengan bertolak pada hakikat bahwa setiap manusia akan pasti akam menghadapi ujian. “Minggu-minggu ini kita di UGM sedang menjalani UAS, sebuah keniscayaan bagi mahasiswa. Perlu diketahui bahwa di luar sana banyak di antara kita yang juga sedang menjalani ujian” jelasnya.
Dalam konteks keimanan, ujian dipandang sebagai sebuah keniscayaan dan konsekuensi bagi orang yang hidup, sebagaimana ditegaskan dalam Q.S Al-Baqarah : 155. “Ayat ini menjelaskan bahwa Allah pasti menguji setiap manusia. Cobaan tersebut berupa ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan,” paparnya.
Lebih lanjut, Prof. Sugeng yang bertugas sebagai khatib menjelaskan bahwa setiap ujian memiliki makna dan tujuan spesifik. Bertolak pada Q.S Al-Ankabut : 2, Ia kemudian menekankan bahwa bagi orang beriman pasti juga akan mendapatkan ujian. “Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan saja mengatakan kami telah beriman, sedangkan mereka tidak diuji? Artinya bahwa konsekuensi sebagai orang beriman pun juga akan mendapatkan ujian dari Allah,” terangnya.
Baca juga: Dosen CRCS UGM: Pengalaman Hidup di Tengah Keberagaman Menempa Kematangan Sosial Seorang Muslim
Selain menguji keimanan seorang mukmin yang sesungguhnya, menurutnya, ujian juga dapat menjadi jalan untuk mendapatkan ampunan dari Allah. Guru besar Fakultas Teknik ini kemudian mengutip surah Q.S As-Syura : 30 sebagai landasan hal ini. Surah ini menyatakan bahwa musibah yang menimpa manusia sebagian besar disebabkan oleh perbuatan tangan mereka sendiri, tapi Allah memaafkan sebagian besar dari kesalahan tersebut.
Lebih lanjut, Prof. Sugeng menuturkan bahwa ujian juga dapat menjadi salah satu sebab sesorang dapat dimasukkan surga oleh Allah. “Hal ini karena Allah menghargai orang-orang yang bersungguh-sungguh (jihad),” jelasnya.
Dalam kesempatan ini, Prof. Sugeng juga membeberkan beberapa poin teladan dari para nabi dalam menyikapi sebuah ujian. “Pertama, orang yang menerima ujian itu bersabar dan tidak menyalahkan Allah.” terangnya berkaca pada kisah Nabi Ayub AS. Kedua, mengadu hanya kepada Allah, seperti yang dilakukan oleh Nabi Yaqub AS. Terakhir, tetap taat dan optimis, dengan meneladani ketaatan Nabi Ibrahim AS.
“Ujian adalah bukti cinta Allah kepada hamba-Nya. Semakin tinggi derajat seseorang, bisa jadi semakin besar ujian yang Allah berikan,” pungkasnya menutup Khotbah.