• UGM.AC.ID
  • Jama’ah Shalahuddin UGM
  • Rumah ZIS UGM
  • Perpus Baitul Hikmah
  • KB-TK Maskam UGM
  • Mardliyyah UGM
Universitas Gadjah Mada
  • Tentang Kami
    • Selayang Pandang
    • Sejarah Masjid Kampus UGM
    • Manajemen Masjid
  • Kegiatan dan Layanan
    • Kegiatan dan Layanan
    • Fasilitas dan Gerai
    • Akad Nikah
    • Formulir Peminjaman Fasilitas
    • Prosesi Kembali Ke Islam
  • Artikel
    • Beranda Artikel
    • Ibadah dan Kajian Islam
    • Diskusi Paradigma Profetik
    • Sakinah Academy
    • Maskam Public Lecture
    • Ramadan Public Lecture
    • Berita dan Informasi Lain
    • Tulisan dan Khutbah
  • Donasi
  • Kontak
  • Beranda
  • Berita dan Informasi
  • Siti Muti’ah Setiawati: Gaza Runtuh Karena Dunia Menutup Mata terhadap Keadilan

Siti Muti’ah Setiawati: Gaza Runtuh Karena Dunia Menutup Mata terhadap Keadilan

  • Berita dan Informasi
  • 8 Oktober 2025, 08.50
  • Oleh: Masjid Kampus UGM
  • 0

Pada Selasa, 7 Oktober 2025, Masjid Kampus Universitas Gadjah Mada kembali menjadi ruang perjumpaan antara ilmu dan kemanusiaan. Dalam suasana yang teduh menjelang senja, ratusan jamaah memenuhi ruang utama untuk mengikuti kajian bertajuk “Pembangunan Gaza Kembali di Antara Perang dan Damai: Sebuah Kajian Futurologi” bersama Prof. Dr. Siti Muti’ah Setiawati, M.A., dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik UGM sekaligus tokoh yang dikenal dengan kepeduliannya terhadap isu kemanusiaan global. Melalui pendekatan futurologi, Prof. Muti’ah mengajak para jamaah untuk tidak hanya memahami tragedi Gaza sebagai konflik politik atau militer, tetapi sebagai potret luka kemanusiaan yang menuntut refleksi spiritual dan moral dari dunia.

Dalam paparannya, Prof. Muti’ah membuka dengan data yang menggugah empati. Sejak tragedi 7 Oktober 2023, lebih dari 66.000 jiwa telah meninggal dunia dan 168.700 orang terluka, sementara hampir 90 persen infrastruktur Gaza hancur. “Ketika kita bicara pembangunan Gaza, yang kita bicarakan bukan hanya beton dan semen, tetapi manusia dan peradaban yang porak-poranda,” ujarnya dengan nada lirih. Ia menekankan bahwa setiap bangunan yang runtuh menyimpan cerita kehilangan seperti rumah yang lenyap, sekolah yang hilang, dan masa depan anak-anak yang ikut terkubur di bawah puing-puing kota. Dalam perspektifnya, krisis Gaza adalah panggilan nurani global untuk meninjau kembali bagaimana dunia memaknai kemerdekaan dan keadilan.

Prof. Muti’ah kemudian menguraikan bahwa dalam hukum internasional, sebuah negara terdiri atas tiga unsur utama: wilayah, penduduk, dan pemerintahan yang berdaulat. Namun, bagi Palestina, ketiga unsur itu terus terguncang oleh pendudukan dan perpecahan internal antara Hamas dan Fatah. Ia menilai, perjuangan Palestina adalah perjuangan dua arah, melawan kekuatan eksternal sekaligus menyembuhkan luka internal. “Tidak mungkin sebuah bangsa meraih kemerdekaan sejati tanpa terlebih dahulu berdamai dengan dirinya sendiri,” tegasnya. Ia juga menyoroti posisi Gaza yang begitu strategis secara geopolitik, menjadi simpul yang menghubungkan Asia dan Afrika, sekaligus medan perebutan pengaruh global sejak berabad-abad lalu. Bagi Prof. Muti’ah, Gaza mungkin kecil di peta dunia, tetapi maknanya besar bagi peradaban manusia: simbol keteguhan, penderitaan, dan harapan.

Dalam bingkai futurologi, Prof. Muti’ah menawarkan dua pendekatan dalam membayangkan masa depan Gaza. Pendekatan realist menekankan pentingnya keseimbangan kekuatan, bukan semata dalam arti militer, melainkan kemampuan membangun solidaritas global yang konkret. Sedangkan pendekatan idealist berpijak pada keyakinan bahwa manusia pada hakikatnya adalah makhluk sosial yang menginginkan kerja sama dan kedamaian. “Perdamaian bukanlah utopia, tetapi buah dari kesadaran kolektif,” ujarnya. Menurutnya, pembangunan Gaza di masa depan hanya dapat terjadi jika dunia bersedia membangun ulang nilai-nilai kemanusiaan yang universal, menempatkan manusia sebagai pusat dari seluruh kebijakan dan tindakan.

Di penghujung kajian, Prof. Muti’ah menutup dengan pesan penuh harapan. Ia percaya bahwa meski Gaza telah berkali-kali hancur, semangat dan cinta manusia tak akan pernah padam. “Selama masih ada yang berdoa untuk Gaza, selama masih ada yang menolak bungkam terhadap ketidakadilan, maka Gaza tetap hidup,” tuturnya. Hening sejenak menyelimuti ruang masjid setelah kata-kata itu terucap, bukan hening yang kosong, melainkan hening yang sarat makna dan doa. Kajian sore itu berakhir tanpa tepuk tangan, namun meninggalkan kesan mendalam bahwa membangun Gaza bukan sekadar urusan politik atau ekonomi, melainkan upaya menegakkan kembali kemanusiaan. Sebab pada akhirnya, sebagaimana ditekankan Prof. Muti’ah, perdamaian sejati hanya lahir dari cinta, bukan dari kekuasaan. (Thariq Arkan Falakh)

Tinggalkan Komentar Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

Artikel Terbaru

  • Ini Tiga Kunci Hidup Bermakna Menurut Syatori Abdurrauf
  • Sambut Ramadan, Syatori Abdurrauf Ajak Jemaah Kelola Hati dan Kendalikan Diri
  • Abduh Tuasikal Ajak Jemaah Renungi Keutamaan Ibadah Puasa sebagai Sebab Utama Menggapai Takwa
  • Pengasuh PPTQ Az-Zakiyyah Yogyakarta Tekankan Kesehatan dalam Perspektif Tauhid
  • Ekonom UGM Soroti Kesenjangan Pertumbuhan Ekonomi dan Pasar Kerja Pascakrisis
Universitas Gadjah Mada

MASJID KAMPUS UGM

Jalan Tevesia 1 Bulaksumur, Caturtunggal, Depok,

Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta 55281

Email: masjidkampus[@]ugm.ac.id

© Takmir Masjid Kampus UGM - Badan Pengelola Masjid UGM

KEBIJAKAN PRIVASI/PRIVACY POLICY