Jalur Gaza, sebuah wilayah dengan sejarah yang sarat konflik dan penderitaan, telah berulang kali menjadi sorotan global. Wilayah ini terperangkap dalam sebuah siklus destruktif yang seolah tak berujung: kehancuran akibat perang diikuti oleh upaya rekonstruksi yang sering kali terhenti atau dibatalkan oleh pecahnya konflik berikutnya. Dilema abadi mengenai perencanaan dan pelaksanakan pembangunan berkelanjutan di tengah ketidakpastian geopolitik yang ekstrem ini merupakan isu kritis yang menuntut tinjauan mendalam.
Menanggapi kompleksitas isu ini, Masjid Kampus UGM menggelar sebuah sesi kajian bertajuk Polemology Forum. Forum ini didedikasikan sebagai ruang multidisipliner untuk mengkaji secara kritis dinamika perang merupakan sebuah ruang akademik yang mengkaji kritis dinamika perang, konflik dan upaya perdamaian.
Pada Selasa (7/10), Polemology Forum secara khusus mengangkat tema “Pembangunan Gaza Kembali di antara Perang dan Damai : Sebuah Kajian Furutologi.” Pendekatan futurologi dipilih untuk memproyeksikan skenario masa depan dan merumuskan strategi pembangunan yang tidak hanya sekadar membangun, tetapi juga tangguh (resilient) terhadap ancaman kehancuran.
Hadir sebagai narasumber, Mohammed Adil Salim Algoul, S.T., M.T., M.Ag., yang juga Imam dan Khotib Masjid Al-Ikhlas Nuseirat Gaza, membagikan pandangannya dari sisi teknik sipil dan manajemen bencana. Adil menganalisis tentang infrastruktur yang dibangun secara berkelanjutan meskipun terus dihadapkan pada ancaman kehancuran.
Dalam paparannya, Adil secara lugas menyinggung tentang pengembangan infrastruktur bawah tanah yang menjadi kunci ketahanan. Ia menjelaskan, “Sejak 20 tahun lalu, kami menyadari kelemahan di timur tengah lemah. Oleh karena itu, kami mengembangkan sistem terowongan, baik untuk jalur logistik maupun kebutuhan terowongan strategis.”
Imam dan Khatib Masjid Al-Ikhlas Nuseirat Gaza ini menyoroti keunggulan para pemikir yang merancang terowongan ini hingga membuat para zionis kewalahan. “Para akademisi ini sangat cerdas, (mereka) menggunakan ilmu sedemikian rupa sehingga musuh tidak mampu mengerti arah dan tujuan jaringan ruang bawah tanah itu.” tegasnya.
Ia juga menyoroti peran islam di kancah global. Ia tidak hanya berfokus pada pembangunan fisik Gaza, tetapi juga pembangunan kapasitas intelektual. Adil berharap agar komunitas dan pemikir islam dapat tumbuh menjadi aktor global yang aktif memberikan kontribusi signifikan di berbagai bidang keilmuan. Tujuannya adalah mendobrak dominasi pemikir dari kelompok tertentu, sehingga “Yang mendominasi orang hebat di dunia bukan orang yahudi saja.” pungkasnya, menyebrukan pentingnya kebangkitan pemikir muslin untuk memimpin solusi global dan menciptakan terobosan sesuai keilmuan.
[embedyt] https://www.youtube.com/watch?v=sNAyv_jJq5Q[/embedyt]