• UGM.AC.ID
  • Jama’ah Shalahuddin UGM
  • Rumah ZIS UGM
  • Perpus Baitul Hikmah
  • KB-TK Maskam UGM
  • Mardliyyah UGM
Universitas Gadjah Mada
  • Tentang Kami
    • Selayang Pandang
    • Sejarah Masjid Kampus UGM
    • Manajemen Masjid
  • Kegiatan dan Layanan
    • Kegiatan dan Layanan
    • Fasilitas dan Gerai
    • Akad Nikah
    • Formulir Peminjaman Fasilitas
    • Prosesi Kembali Ke Islam
  • Artikel
    • Beranda Artikel
    • Ibadah dan Kajian Islam
    • Diskusi Paradigma Profetik
    • Sakinah Academy
    • Maskam Public Lecture
    • Ramadan Public Lecture
    • Berita dan Informasi Lain
    • Tulisan dan Khutbah
  • Donasi
  • Kontak
  • Beranda
  • Berita dan Informasi
  • Teladani Rasulullah, Mahfud MD dan Najib Azca Soroti Pentingnya Karakter Pemimpin

Teladani Rasulullah, Mahfud MD dan Najib Azca Soroti Pentingnya Karakter Pemimpin

  • Berita dan Informasi
  • 22 September 2025, 16.24
  • Oleh: aldifirmansyah
  • 0

Masjid Kampus UGM menggelar talkshow bertajuk “Adab sebagai Pilar Peradaban: Meneladani Rasulullah SAW dalam Pendidikan Karakter Umat Islam” dalam rangka Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW 1447 H. Acara ini menghadirkan dua narasumber utama, yakni Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan RI 2019-2024, Prof. Dr. M. Mahfud MD, S.H., S.U., M.I.P., dan Wakil Sekretaris Jenderal PBNU, M. Najib Azca, S.Sos., M.A., Ph.D.

Dalam sesi dialog, Mahfud mengulas perbedaan antara demonstrasi dengan bughat (pemberontakan). Ia menjelaskan bahwa bahwa demonstrasi diizinkan sebagai bentuk kritik terhadap pemerintah. Namun, batasannya sangat tipis. Sebuah aksi unjuk rasa bisa berubah menjadi bughat jika tujuannya bukan lagi mengkritik, melainkan secara sengaja ingin menjatuhkan dan menghancurkan pemerintah yang sah. “Batasan demo ketika sudah bertujuan untuk menghancurkan pemerintah dengan cara menjatuhkan bukan mengkritik, maka dapat disebut bughat,” ujarnya. 

Lebih lanjut, ia mengutip pandangan Imam Nawawi yang memperbolehkan kritik dan saran, asalkan tidak sampai melumpuhkan pemerintahan. Mahfud berpendapat, jika pemerintahan lumpuh, dampaknya sangat fatal. Hal ini berpotensi menimbulkan kekacauan hingga perang antarberbagai pihak yang pada akhirnya merugikan rakyat.

Selaras dengan pandangan tersebut, Mahfud menyoroti peran sistem demokrasi sebagai jalan untuk mendapatkan pemimpin yang baik. Menurutnya, “Sistem demokrasi selalu membuka kemungkinan. Dengan sistem demokrasi, kita bisa mengoreksi, mengganti, dan mencari pemimpin yang benar karena prosesnya sirkular–digilir secara reguler.”

Baca juga: Ini Tiga Peran Utama Muslimah Menurut Dewi Nur Aisyah

Pentingnya edukasi publik dalam memilih pemimpin pun ditekankan oleh Wakil Sekjen PBNU, Gus Najib. Ia menyebut bahwa saat ini kita memiliki pekerjaan rumah besar untuk membangun edukasi publik agar memilih pemimpin berdasarkan kapasitas dan visi masa depan, bukan karena sogokan. “Dengan sistem yang ada, kita memiliki PR besar dalam membangun edukasi publik dengan mendasarkan pada orang yang menjanjikan masa depan lebih baik, bukan NPWP (nomer piro wani piro).” ujar Najib. 

Sebagai teladan kepemimpinan yang ideal, Najib mencontohkan Nabi Muhammad SAW yang menerapkan kepemimpinan transformasional. Beliau mampu mengubah masyarakat jahiliyah menjadi masyarakat etis. Menurutnya, “ini suatu hal yang tidak mudah.” 

Dengan kepribadian Al-Amin, yang amanah dan dapat dipercaya, Nabi Muhammad SAW berhasil menanamkan nilai-nilai fundamental dan membangun landasan hubungan sosial yang kokoh. “Hal ini menjadi contoh nyata bahwa integritas karakter seorang pemimpin adalah fondasi utama dalam membangun peradaban yang mulia, sebuah teladan yang terus menginspirasi hingga saat ini.” pungkasnya.

Dipandu oleh Wakil Ketua Takmir Masjid Kampus UGM, M. Agung Bramantya, S.T., M.T., M.Eng., Ph.D., IPM., ASEAN Eng., diskusi ini menghadirkan dialog yang sangat inspiratif. Prof.  Mahfud dan Gus Najib memberikan ulasan mendalam mengenai adab dan karakter. Acara ini meninggalkan pesan kuat bahwa keduanya adalah fondasi penting dalam menghadapi tantangan modernitas. Dengan demikian, teladan Rasulullah menjadi relevan untuk diterapkan di masa kini. (Aldi Firmansyah)

Tinggalkan Komentar Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

Artikel Terbaru

  • Ini Tiga Kunci Hidup Bermakna Menurut Syatori Abdurrauf
  • Sambut Ramadan, Syatori Abdurrauf Ajak Jemaah Kelola Hati dan Kendalikan Diri
  • Abduh Tuasikal Ajak Jemaah Renungi Keutamaan Ibadah Puasa sebagai Sebab Utama Menggapai Takwa
  • Pengasuh PPTQ Az-Zakiyyah Yogyakarta Tekankan Kesehatan dalam Perspektif Tauhid
  • Ekonom UGM Soroti Kesenjangan Pertumbuhan Ekonomi dan Pasar Kerja Pascakrisis
Universitas Gadjah Mada

MASJID KAMPUS UGM

Jalan Tevesia 1 Bulaksumur, Caturtunggal, Depok,

Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta 55281

Email: masjidkampus[@]ugm.ac.id

© Takmir Masjid Kampus UGM - Badan Pengelola Masjid UGM

KEBIJAKAN PRIVASI/PRIVACY POLICY